
“Richard!! Richard!! Bangun!!” Aku berteriak keras kepadanya agar dia bangun.
‘Kenapa dia tidak mendengar suaraku?’ Tanpa aku sadari, aku menciptakan ide yang sedari tadi tidak ku pikirkan. Aku akan berteriak dalam pikiranku.
‘Richard! Richard!! Richard!!! Bangun!!!!’
‘Richard!!!!!!! Ayo, bangunlah!!!!!!! Aku mohon bangunlah RICHARD!!!! Aku cinta kamu!’
Akhirnya, perjuanganku terbayarkan setelah aku berteriak. Dia menatapku dengan matanya yang mengingatkanku pada waktu dia tidak bisa mengendalikan dirinya.
‘Mata itu...’
Matanya setengah merah dan setengah cokelat. Aku mencoba menenangkannya.
“Richard, kamu tidak salah. Akulah yang salah karena itu keputusanku untuk pergi. Agar kalian tidak tersakiti olehku. Aku mohon kembalilah, Richard! Tolong kembalilah!”
“Aku juga tau apa yang telah kamu lakukan terhadap Rachel. Tapi itu mungkin juga bukan salahmu!”
“Sejujur pertama kali, aku ditunjukkan oleh Rachel tentang kamu hanya diam saja melihat Rachel dibunuh oleh temannya. Itu sedikit membuatku terkejut, kecewa dan takut kepadamu. Tapi setelah aku berpikir, kamu pasti punya alasan untuk itu. Jadi tentu itu bukan salahmu, Richard!...”
“...Ada beberapa yang ingin kutanyakan. Maka dari itu, kembalilah kepada dirimu sendiri, Richard!”
Aku mengoceh kepada Richard yang telah bangun tapi belum sadar sepenuhnya. Aku melihat-lihat apa yang membuat Richard belum sadar.
‘Ah, pasti itu! Racun serigala! Itu butuh berjam-jam untuk menyembuhkannya sendiri.’ Aku sudah tenggelam ke dalam pupusnya harapan yang menyelimutiku disana.
‘Aku tunggu saja sampai dia sadarkan diri.’ Belum aku mau memejamkan mata untuk tertidur, Richard memanggil namaku dan sekaligus nama Rachel.
“Stephanie, Rachel.” Suara Richard yang sendu keluar dari mulutnya.
“Iya, Richard.”
“Aku minta maaf atas perilakuku yang kejam terhadap kalian berdua. Apakah kalian memaafkan aku?”
“Iya, aku memaafkanmu. Bisakah kamu kembali, Richard?” Aku melihat mata merahnya sudah berubah normal yaitu berwarna cokelat. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Kamu di penjara istana serigala.”
“Stephanie!! Maaf aku tidak menyadari bahwa itu kamu!”
“Tidak apa-apa. Yang penting adalah kamu sudah ada disini. Itu sudah membuatku senang.”
Aku tersenyum bahagia melihat dia sudah menyadariku.
“Apa kamu ada yang terluka, Stephanie?”
“Tidak ada. Tapi kamu?” Dia menengok ke luka yang belum tertutup.
“Tidak apa-apa. Aku akan mengurusnya nanti. Ayo, kita cari cara untuk keluar dari sini.” Dia sedang mencoba untuk melepaskan ikatannya. Aku menghentikan kegiatannya itu.
“Richard, bolehkah aku bertanya? Apa kamu menyembunyikan sesuatu dariku?” Wajahnya terlihat terkejut dan aku melihat dia yang tidak berani menatapku.
“Tidak apa-apa, Richard. Aku sudah mengetahui beberapa hal dari Rachel. Seperti aku mengetahui bahwa sebenarnya aku seorang penyihir. Apa ada hal lain yang kamu sembunyikan dariku terutama mengenai diriku?” Aku meyakinkan dengan tersenyum tipis kepadanya.
“Hmm.. orang tuamu adalah penyihir dan mereka adalah mantan murid dari bibi kamu yang telah menjagamu selama enam tahun ini.”
“Jadi,... bibiku adalah seorang penyihir juga? dan bibi tidak ada hubungan dari keluargaku?” Dia menganggukkan kepalanya.
“Apa ada lagi, Ric?” Dia diam sejenak seperti sedang berpikir untuk memilah-memilah apa yang harus dia katakan lagi kepadaku.
Lalu, dia menjawab, “tidak ada lagi.” Dia sedang menutupi sesuatu dengan berbohong kepadaku.
“Yakin? Benarkah hanya itu?” Aku hanya mengangkat satu alisku. Akhirnya, dia menghela napas yang sangat panjang dan mengatakan yang sebenarnya.
“Ok, aku akan mengatakan yang terakhir yaitu orang tuamu telah terbunuh oleh raja serigala dan Luther. Kecelakaan itu yang menyebabkan adalah mereka, Stephanie.”
“Apa?!”