My Reincarnation and My Reincarnation 2

My Reincarnation and My Reincarnation 2
Terharu



Semua berkumpul di dalam ruang makan, kali ini semua makanannya yang memasaknya adalah bibiku. Kami mengobrol dengan keakraban yang sudah terjalin. Di akhir perbincangan, aku berbicara kepada bibi dan Bianca.


“Bi dan Bianca, aku hanya ingin memberitahu bahwa aku sudah di lamar oleh Richard.” Aku menunjukkan sebuah cincin yang sudah melingkari jari manisku.


Bibiku berlari dengan terharu ke arahku. Lalu, bibiku langsung memelukku dan berkata sambil tersedu-sedu.


“Bibi harap kamu bisa mendapat kebahagiaan. Kamu sudah tidak perlu merasakan kesepian lagi. Bibi merasa senang kamu sudah mendapatkan pasangan yang peduli dan melindungimu sampai sekarang. Bibi akan rindu padamu, Steph.”


“Oh, bi. Bibi janganlah menangis. Aku akan sering mengunjungi bibi dan paman.” Aku membalas pelukannya dengan rasa sedih. Bibiku yang sudah merawatku selama enam tahun ini. Aku sudah menganggapnya seperti ibu kandungku sendiri. Ingatan-ingatan bersama bibi telah kurangkum di dalam benakku yang terdalam.


‘Maafkan aku, bi. Aku selalu merepotkanmu dan selalu berbohong padamu. Sampai sekarang, aku belum bisa membalas kebaikanmu padaku, Bi.’ Tiba-tiba aku mendengar suara tangisan dari Lucas dan Bianca. Aku melihat Richard juga ikut mengeluarkan air mata.


Bianca ingin ikut memelukku setelah bibi melepaskan pelukannya. “Selamat ya, Steph. Kita telah berteman dari kecil sampai sekarang dan akhirnya kamu mendapat pendamping hidupmu yang terbaik bagimu. Aku sebagai temanmu hanya bisa mendukungmu, memberikan selamat, dan ....” Dia terhenti karena tangisnya yang semakin terisak-isak. Aku mencoba meredakannya.


“Sudah-sudah, Bianca. Terima kasih kamu sudah menemaniku dalam suka dan duka sebagai sahabatku. Kamu mau menerimaku walaupun orang tuaku telah tiada dan menghiburku disaat aku rindu orang tuaku. Sekali lagi, terima kasih, Bianca.” Seketika, dia melepaskan pelukannya itu dan menghapus air matanya sendiri.


“Benarkah itu, Steph? Berarti, Aku sudah menjadi sahabat terbaikmu?”


“Iya.” Ucapku sembari aku mencolek hidungnya dengan jari telunjukku.


“Oh, kenapa kalian menangis? Apa aku terlalu menyedihkan bagi kalian?” Mereka berdua menangis dan berlari ke arahku juga dan memelukku.


“Astaga, kalian sudah berumur ribuan tahun tapi tetap saja menangis seperti ini? Memalukan saja. Hmm, cup-cup.” Mereka tambah menangis di dekapanku.


Sudah dua menit berlalu tapi tangisan mereka belum mereda. “Sepertinya bajuku tambah basah dengan air mata kalian berdua. ” Akhirnya, mereka menghentikan tangisannya dan melepaskan pelukan itu.


“Maafkan kami, Steph. Kami berdua sebenarnya terharu dan sekaligus bangga denganmu. Tidak sia-sia perjuangan kami sampai kamu mau menerima lamaranku.” Ucap Richard. Lucas mengiyakan pernyataan Richard itu.


“Astaga, jadi cuman karena itu, kalian menangis seperti itu.” Mereka mengangguk imut di hadapanku. Tingkah itu membuatku tertawa seketika.


‘Owh mereka terlalu imut jika seperti itu.’ Lucas dan Richard saling tatap-menatap mungkin karena mereka mendengar isi pikiranku.


“Apa imut?! Apakah seseorang yang ikut bisa membuat ini?” Lucas mengeluarkan confetti dari langit-langit ruangan ini. Seketika, kami semua mendengar lagu dansa romantis disini serta kami semua sudah menggunakan gaun dansa dan topeng dansa yang menutupi hampir seluruh wajah kami. Meja makan beserta kursinya yang tadi kami pakai pun sudah menghilang. Seketika, ruangan ini diubah menjadi ruangan dansa yang sangat mewah.


“Wow!” Kami berempat serempak mengatakan itu. Richard mengajakku untuk berdansa. Lucas ikut mengajak Bianca juga. Sedangkan, bibiku hanya berdiri melihat kami saling berdansa dengan pasangan kami masing-masing.


“Terharu, tertawa dan sedih bersama akan kita jalani bersam di waktu ke depan. Itu akan menjadi memori terindah ya ga kan ku ingat selama hidupku bersamamu. Apapun yang terjadi kelak, aku akan tetap menerimamu apa adanya.”