
Saat pagi hari lagi, aku sudah memandang wajah Richard. Dia membuka selimut tebalku.
“Selamat pagi, Stephanie.”
“Pagi, Richard.” Aku mengucek kedua mataku.
Dia menyubit pipiku dengan tangannya.
“Apakah semalaman kau menangis? Aku melihat matamu yang sudah bengkak.”
“Tidak, kok.”
“Ceritalah kepadaku apa yang terjadi.”
Aku hanya memberikan senyuman palsu dihadapannya.
“Lihat aku, apa aku sekarang terlihat menangis?”
Dia membalas dengan senyumannya.
“Ya, sudah. Kalau ada apa-apa, ceritalah kepadaku. Aku akan menampung semua kesedihan di dalamku.” Sebelum meninggalkanku, dia mengacak-ngacak rambutku.
“Mari keluar. Aku sudah memasakkan khusus untukmu. Kali ini, aku yang buat.”
Aku tidak bisa berkata-kata melihat tingkah lakunya tadi. Hari ini, kami menikmati waktu dengan kebersamaan. Kami mengisi dengan semua candaan, melihat keindahan di sini, dan mengobrol keseruan yang pernah dialami. Meskipun hidupku tidak seru, lebih menuju kelam tapi aku punya satu atau dua yang bisa kuceritakan kepadanya.
Tiba saatnya, kami berhenti sejenak di taman untuk berpiknik disana.
“Richard,.” Aku menolehkan wajahku kepadanya
“Hmm..” ia membalas tolehanku itu.
Aku sudah memikirkan sepanjang jalan tadi. Setelah, kita mengobrol, berbagi keseruan, dan kamu bisa membuatku tertawa. Aku ingin memutuskan keputusan kemarin tetapi ada beberapa hal yang harus kamu ijinkan.”
“Ok. Aku akan menerima semua keputusanmu.” Dia menghadapkan posisinya ke arahku dan mendengarkan dengan saksama.
“Aku akan memilih keputusan yang kedua. Tapi, bisakah kamu mengijinkankku untuk beberapa hal ini?”
Dia menggenggam ke dua tanganku. Sekarang, tanganku terasa gemetar karena takut. Takut, dia tidak akan mengijinkannya.
“Tenang saja, aku akan mengijinkannya apapun yang kamu mau. Apa yang kamu mau?”
“Pertama, hal yang sudah kusampaikan. Kedua, aku ingin berubah sepertimu disaat usiaku 20 tahun. Ketiga, aku ingin kamu yang menahanku saat aku sudah berubah. Keempat, Bisakah kamu menceritakan tentang Rachel kepadaku?”
Seketika itu, aku dipeluk oleh dia.
“Iya, tenang saja. Aku mengijinkan dan melakukan apa yang kamu katakan tadi.” Suaranya yang lembut itu membuatku mengeluarkan tetesan air mata yang sudah tidak terbendung lagi.
Keesokan harinya, aku diajak ke sebuah desa kecil yang belum ku dengar sebelumnya yaitu desa penyihir dengan menggunakan mobil sedan hitamnya. Semua orang yang berada disini memberikan hormat kepada kami setelah melihat kami melewati jalan itu. Kami akan menuju suatu rumah yang berada disana.
Kami sudah berdiri di tempat yang kami tuju.
Tok-Tok
Pintu itu dibukakan oleh seseorang. Orang itu juga ikut menundukan kepalanya kepada Richard.
“Mengapa raja vampire mau datang jauh-jauh kesini?”
“Aku mempunyai masalah tentangnya.” Richard mengarahkan pandangannya kepadaku.
“Nona, persilakan diriku untuk memperkenalkan diriku.”
Aku menganggukan kepalaku dengan malu.
“Aku adalah Rick Feinhart Lucas, ketua penyihir tertua dan terkuat di dunia ini. Panggil saja aku dengan Lucas.”
Dalam pikiranku sedikit ragu melihat penampilannya, ‘Apakah dia yang tertua? Dia tidak terlihat tua. Lebih terlihat seperti Richard.’
“Dia memang yang tertua, lebih tua daripada diriku. Dia berumur 2000 tahun.”
Orang itu menyombongkan dirinya.
“Hahaha. Jangan menganggap remeh wajah ini. Aku ini juga awet muda kaya dia.”
Richard menggelengkan kepalanya. “Mulai, deh.”
Aku tertawa kecil di belakang mereka. Lucas itu mengubah raut wajahnya menjadi serius.
“Silahkan, kalian duduk disini.” Lucas mengarahkan kami ke sofa yang panjang.
Kami bertiga duduk di ruang tengah yang sangat besar.
“Jadi, apa permasalahan kalian?” Dia menyilangkan kakinya.
“Kami sudah membuat keputusan bersama. Dia mau mengikuti hidupku.” Lucas menarik Richard jauh dariku.
Aku tidak bisa mendengarnya karena terlalu jauh. Hingga aku menunggu selama lima menit, mereka balik ke posisi semula.
“Ok, siapa namanya, Richard?”
“Stephanie.”
“Oh, iya Stephanie. Ok, Stephanie. Apa kamu yakin mau menjadi pendamping hidupnya, Richard?”
“Iya,…”
Lucas berjalan mendekatiku dan mencium tanganku.
“Bagaimana bila aku saja yang menjadi pendamping hidupmu? Kalau aku lihat….” Sepertinya dia melihat luka pada leherku.
Richard berdeham saat itu juga. Sepertinya, ia cemburu dengan Lucas. Lucas kembali ke sofanya sendiri.
“Maaf, maaf. Hahaha. Lihatlah, Stephanie. Ada yang cemburu denganku?! Aku tidak percaya ini. Maafkan aku kawan.”
Aku melihat Richard mengeluarkan mata merah kearah Lucas. Aku memandang juga ke Lucas yang sudah tidak berkutik lagi. Aku tertawa geli melihat situasi ini. Mereka melihatku tertawa, mereka menjadi ikut tertawa. Warna mata Richard sudah kembali normal berwarna cokelat.
“Okok, sudah, sudah. Ayo kita ke intinya.” Lucas membuat suasana menjadi dingin lagi.
“Jadi, aku akan jelaskan bila kamu ingin hidup bersamanya. Apa kamu memiliki ingatan terdahulu setiap di dekatnya?”
“Iya, aku kadang memiliki gambaran-gambaran ingatan terdahulu. Kata Richard, dia hanya memberikan ingatan Rachel hanya satu atau dua kali saja. Tetapi aku sudah mengalami beberapa kali.”
“Jadi,..”
Dia belum sempat menjelaskan lebih dalam, aku terasa dan kupingku berdenging sangat sakit. Aku menutup telingaku dengan kedua tangan.
“Ahhhhh! Jangan!!” Tubuhku bergetar ketakutan.
Richard memeluk tubuhku supaya aku menjadi tenang.
‘Siapa yang akan meninggal dalam waktu dekat ini?’
Richard menyadari alasanku ketakutan.
“Tenang, tenanglah. Kami disini. Aku sudah memegangmu.”
Bayangan hitam sudah mengelilingiku untuk memberitahu siapa yang akan meninggal.
‘Aku bersedia. Rasuki aku!’ Akhirnya, bayangan itu merasukiku. Sedangkan, Richard dan Lucas terlempar oleh cahaya hitam. Badanku terangkat keatas dengan mata hitam yang pekat memenuhi bola mataku.
Dalam bayangan itu, aku melihat Bibi dan Bianca sedang terjebak di dalam mobil yang sedang dilahap api. Mobil mereka dikelilingi oleh kaum serigala. Kaum serigala itu tidak membantu mereka. Padahal, mereka meminta tolong dari dalam mobil. Setelah melihat itu, aku mulai turun perlahan kebawah. Aku mulai berdiri dan tumbang seketika karena energiku habis terserap oleh bayangan itu. Richard menangkap tubuhku dengan cepat.
Richard dan Lucas menaruh Stephanie di kamar tamu Lucas. Richard menaruh selimut hangat ke Stephanie. Stephanie terlihat pucat, dingin, dan keringat dinginnya terus bercucuran. Richard mengelap keringatnya dan Lucas mondar-mandir untuk mencari tau caranya. Rintihan-rintihan sakit terdengar dari Stephanie.