
“Bagaimana kamu melakukan itu?”
“Sangat mudah, sihirku lebih kuat dibandingkan Lucas dan susah dihancurkan.” Kalimat itu menggambarkan sedang meremehkan kakaknya.
Dia melanjutkan kalimatnya, “mau bertarung? Aku sudah lama tidak berlatih sihir bertarungku.” Dia membunyikan sendi-sendi di jari-jari tangannya.
Sebenarnya aku sedikit gentar terhadapnya. Disini hanya ada aku dan dia yang akan bertarung.
‘Kemungkinan aku kalah olehnya sekitar 20 persen.’
“Hahaha, 20 persen? Apa kamu menganggap aku lemah seperti kakakku, ah?!” Dia langsung mencekikku dengan keras sambil menganggkat tubuhku menggunakan tangan kanannya.Lalu, dia menjentikkan jari di tangan kirinya dan mengeluarkan 10 pedang runcing yang menghadap kepadaku. Aku mencoba melepas cekikan itu tapi tidak bisa.
“Bagaimana rasanya? Oh iya, kamu vampire. Kamu tidak akan merasakan sakit. Bagaimana kalau aku menambah rasa sakitnya dengan sedikit goresan di tanganmu?” Hanya sedikit siulannya, dia mampu menimbulkan goresan di tanganku. Aku hanya bisa merasakan sakit tercekik di leherku. Itu tidak menimbulkan rasa sakit padaku sama sekali.
Dia melihat lukaku yang pulih kembali dengan cepat.
“Haha, iya. Kamu bisa memulihkan luka dengan cepat. Ada satu pertanyaan yang telah kupersiapkan untukmu. Bagaimana cara membunuhmu?”
Aku mencoba sebisaku untuk berbicara kepadanya, “apa kamu tidak waras?”
“Aku sangat waras. Apa kamu tidak ingat kejadian di waktu dulu?”
“Dulu? Apa maksudmu?”
“Kamu tidak mengingatnya?! Apa aku harus mengingatkanmu tentang kejadian itu?!”
Dia memberikan rasa sakit terhadap kepalaku.
Setelahnya, aku melihat kejadian disaat waktu aku kecil dulu. Aku meminum darah Luther setiap akhir pekan karena orang tuaku yang menyuruhnya. Aku juga diperlihatkan dimana seluruh negeriku meminum darah dari para penyihir. Disaat aku mau melihat alasan mengapa itu terjadi, Lucas datang untuk menolong. Luther melepas cengkeramannya di leherku dan membuatku terjatuh. Lucas membuat Luther sedikit terlempar ke dinding.
Lucas melindungiku di depanku. Aku berusaha berdiri dengan mengusap-ngusap leherku.
“Bagaimana apa kamu baik-baik saja?”
“Ya, sedikit.”
“Sudah? Mari kita .... KABUR!,” lanjutnya. Dengan cepat kita sudah keluar dari istana serigala itu.
“Hah, hampir saja, Richard. Tadi hampir saja terkena pedang dari Luther. Jika kita sedikit saja terlambat, kita bisa saja meninggal di tempat. Lebih tepatnya, aku yang akan meninggal disitu. Bianca dan Frederra segera keluar. Disini sudah aman.”
Bianca dan Frederra segera keluar dari persembunyiannya. Bianca langsung memeluk Lucas dan melepasnya kembali.
“Kamu tidak ada yang terluka, kan?”
Lucas menjawab dengan senyumannya, “tidak ada.”
“Luc, bagaimana kamu menembus perisai itu?”
“Aku mengetahuinya dari Frederra. Frederra memberitahuku mantra yang dulu dia pelajari.” Aku melayangkan mataku ke Frederra. Frederra mengangguk dan tersenyum kepadaku menandakan bahwa semua itu adalah benar.
“Oh ok. Terima kasih.” Aku mengucapkan itu untuk Frederra.
Dia menjawabnya, “sama-sama.”
Pandanganku kembali ke Lucas dan aku berkata semua yang terjadi di dalam istana.
“Jadi, aku telah mencari Stephanie dari lantai paling bawah sampai paling atas tapi hasilnya nihil.”
“Lalu, dimana keberadaan Stephanie, Richard?”
“Tadi, aku diberitahu bahwa Stephanie dikurung di ruangan yang sudah disihir sehingga tidak ada yang bisa mengetahui letak ruangan itu. Stephanie juga sedang di
buat pingsan olehnya. Apa yang harus kita lakukan?”
“Aku tidak tau caranya, Richard.”
Beberapa menit kemudian, Aku dan Lucas memiliki pemikiran yang sama. Kami berdua memandang ke Frederra yang sedang berada disamping Bianca. Frederra memasang ekspresi bingung dan terkejut.