My Reincarnation and My Reincarnation 2

My Reincarnation and My Reincarnation 2
Persiapan (2)



Selama kurang lebih satu bulan ini, kami membagi-bagi tugas. Aku, bibi, dan Bianca bagian mendekorasi semua tatanan ruangan dan acaranya. Sedangkan, Richard dan Lucas menyebarkan undangan ke berbagai penjuru kecuali bangsa serigala. Setiap malam kami berkumpul dan berdiskusi tentang persiapan ini. Kami memastikan tidak ada yang kurang sehingga acaranya akan menjadi sempurna.


Satu hari sebelum acara...


“Richard, bagaimana dengan gaunnya? dan juga jasnya?” Bibi bertanya kepada Richard.


“Tenang, Frederra. Aku sudah menyuruh pemilik butik terkenal untuk datang kesini. Mungkin nanti siang, dia akan sampai.”


“Ok, deh.”


Aku pergi menjauhi mereka menuju ke kamarku dan melihat diriku di depan cermin.


‘Apakah aku pantas memakai gaun yang akan bersanding bersama Richard? Semua sudah disusun sempurna tapi kenapa disaat seperti ini, hatiku dilanda gundah gulana? Apakah sekarang aku ragu untuk menikahinya?’ Setelahnya, aku hampir tersontak melihat seseorang sudah masuk ke dalam kamarku. Ternyata, itu hanyalah Richard.


“Hai, Stephanie. Ada apa? Mengapa kamu murung?”


“Hmm.. tidak ada apa-apa, Richard.”


“Benarkah?” Aku mengangguknya seraya tersenyum kepadanya. “Okelah, bagaimana kalau sekarang kita berdua meminum segelas darah sambil menunggu gaun itu datang?”


“Iya.” Aku mengikutinya dari belakang.


Kami meminum santai di dalam ruang makan. Aku hanya bisa menyeruput sedikit demi sedikit dengan pikiran kosong mendatangiku. Richard mungkin menyadari ada yang aneh dari diriku ini.


“Ada apa, Steph? Mengapa kamu hanya menyeruputnya saja? Biasanya kamu langsung meneguknya sampai habis.”


“Hmm, tidak apa-apa.”


“Tidak apa-apa, Richard.” Aku berbohong kepada dirinya. Aku tidak ingin menyakiti hatinya yang sedang senang akan hari esok.


Sikap Richard kembali seperti biasa saja.


Akhirnya, pemilik butik dan karyawannya itu sampai dengan menghampiri kami bersama pelayan Richard tentunya. Mungkin mereka baru pertama kali datang kesini. Dikarenakan, mana mungkin seseorang yang baru datang untuk pertama kali ke istana yang begitu luas ini tanpa tersesat?


Pemilik butik itu memperlihatkan semua gaun yang dibawanya. Kami semua berkumpul untuk melihatnya. Semua gaun itu terlihat cantik. Gaunnya ada yang biru, hitam, pink, putih, dan masih banyak lagi dengan motif dan warna yang berbeda-beda. Akan tetapi, kami hanya memilih tiga gaun yang membuat kami sangat menarik. Mereka semua menunggu di luar kamarku. Sedangkan, aku dan karyawan wanita butik itu masuk ke dalam kamarku. Lalu, aku keluar untuk menunjukan ke mereka semua. Mereka yang menentukan gaun apa yang cocok untukku. Karyawannya juga sekalian mendandani ku terlebih dahulu. Sehingga, aku memakai gaun itu sangat berhati-hati agar make upnya tidak rusak.


Pertama yang ku coba adalah pink. Motif dan warnanya aku suka tapi mereka tidak menyukainya. Alasannya adalah karena aku kelihatan gemuk dengan memakai itu.


Yang kedua adalah hijau. Mereka menyukainya tapi aku tidak menyukainya. Alasanku tidak menyukainya karena warna hijau ini sama warna rumput di taman belakang. Nanti aku dianggap rumput lagi oleh tamu undangan. Mereka hanya tertawa mendengar alasanku itu.


Sehingga gaun ketiga inilah yang menjadi akhir dari pilihan kami semua. Gaun ini berwarna putih dengan tambahan kristal yang bertabur di gaun ini. Model gaun ini adalah gaun pengantin ekor. Gaun ini memperlihatkan bahu dan punggungku juga. Pemilik butik itu menambahkan satu buket bunga mawar putih untuk aku pegang. Mereka semua terpesona melihatku memakai ini semua. Mereka menatapku dari atas sampai bawah.


“Apakah ini keponakan bibi yang bibi kenal? Kamu cantik sekali, Stephanie!,” sambil bibi menggodaku.


“Hah, biasa saja, Bi.” Sekarang mereka mengelilingiku dengan mata terpana.


“Benar kamu cantik sekali, Steph,” ucap Richard memujiku.


“Benarkah?” Lalu, Mereka semua mengangguk.


Tanpa terasa malam sudah menyapa kami. Akhirnya, Richard membayar gaun ini serta jas yang akan dipakai dan menyuruh pemilik butik beserta satu karyawannya untuk menginap sampai acara besok selesai. Padahal aku belum melihat Richard memakai jas itu. Mungkin saja, Richard mempercayai butik ini bahwa jasnya akan bagus disaat dia memakainya.


“Disaat terakhir seperti ini, hatiku bimbang tanpa henti. Apakah sekarang aku ragu untuk mencintai lebih dalam lagi? Bagaimana jika hubungan kita berakhir di tengah jalan? Aku tidak ingin itu terjadi. Apa karena ini efek dari sebelum pernikahan? Aku akan mencoba mempertahankan keseriusanku terhadap pada dirimu.”