My Reincarnation and My Reincarnation 2

My Reincarnation and My Reincarnation 2
Kebahagiaan



Dua bulan telah berlalu setelah pernikahan bersama Jack. Aku merasakan bahagia sampai sekarang. Aku sudah mengandung anak dari Jack. Umur kandungannya baru menginjak sekitar satu setengah bulan. Aku membayangkan wajah anakku akan mirip seperti Jack. Aku sudah tidak sabar menunggu kelahiran anak ini.


Besok bertepatan Jack akan bertarung ke istana sebelah dan aku memohon agar ikut bertarung dengannya. Akan tetapi, dia menolak untuk aku ikut bersamanya. Alasannya adalah demi anak kita lahir dengan sehat. Aku hanya ingin membantunya saat bertarung.


Aku terus saja membujuknya. Aku mengeluarkan alasan terakhirku agar aku ikut yaitu dengan cara membohonginya. Aku melancarkan aksiku saat malam nanti.


Malam hari, aku menuju ke ruangan yang biasa Luther dan Jack sering mengobrol. Aku mengetuk pintu itu sampai diperbolehkan masuk oleh Jack. Saat aku memasuki ruangan itu, Jack dan Luther bersama-sama meratapiku dengan senyuman.


“Ada apa? Pasti kamu mau membujuk ku agar kamu ikut bertarung besok. Benarkan?”


Aku hanya bisa terkekeh pelan karena perkataannya itu benar.


Belum aku menjawabnya, dia melanjutkan perkataannya, “tidak boleh! Kamu tidak boleh ikut! Apapun itu alasannya atau bujukan apapun, aku menolaknya.”


“Tapi..”


“Tidak ada tapi-tapi!” Jack menekankan kalimat yang diucapkannya. Luther hanya bisa terdiam tanpa memberikan saran apapun dan tidak membantuku sama sekali. Hal itu membuatku tambah kesal ke Luther.


“Kakak, bantu aku dong!”


“Saran kakak adalah lebih baik kamu nurutin semua yang dikatakan Jack.”


“Ahh, kakak sama saja!” Aku menunjukan wajah marah sampai berpaling ke arah lain.


Saatnya, aku melakukan aksiku. Aku berpura-pura perutku sakit.


“Aduh, perutku...,” sambil memegang perut.


Mereka semua terlihat panik, “ada apa?” Jack menggendongku ala bridal style dan aku ditaruh di sofa terdekat.


“Apa kamu baik-baik saja?” Aku menjawab dengan anggukan saja.


“Apa yang kamu mau, Leana?”


“Aku mau ikut bertarung bersamamu ke istana itu.” Jack dan Luther menghela nafas dengan kompak.


“Baiklah, kamu boleh ikut.” Aku merasakan senang mendengar jawabannya itu. Ternyata, dia belum selesai melanjutkan ucapannya itu.


“Eits, tapi kamu hanya boleh bertarung selama 30 menit saja. Ga boleh lebih. Ok?”


“Siap, pak.” Mereka tertawa melihat tingkahku yang mereka pikir terlihat lucu.


Keesokan harinya, aku ikut bersiap-siap dengan mereka dari pagi sampai sore. Kita akan berangkat di sore hari agar kita sampai disana pas di malam hari. Kekuatan serigala akan muncul sepenuhnya di Bulan Purnama penuh saat malam hari.


Sesampainya kita disana, kita sudah ditunggu oleh orang-orang istana itu. Mataku selalu tertuju ke pemimpin itu.


‘Orang itu sepertinya aku mengenalnya. Tapi dimana ya?’ Tanpa aku sadari, kami sudah memulai pertarungannya.


Tiga puluh menit berlalu, aku memutuskan tetap ikut bertarung saja. Jack dan Luther sepertinya mereka lupa bahwa jam bertarung ku sudah habis. Mereka terlalu fokus untuk mengalahkan musuhnya.


Aku terus menyerang yang berhadapan denganku. Musuh yang telah kuhadapi tidak ada yang bangun lagi. Sampai akhirnya, aku berhadapan dengan pemimpinnya. Aku dan dia saling bertatapan satu sama lain. Aku bisa melihatnya mengeluarkan air mata walaupun sudah bercampur dengan keringat dan darah di wajahnya. Aku juga merasakan kepedihan dalam hatinya yang sedang menunggu seorang untuk pulang.


Dia mengucapkan nama yang lumayan terdengar jelas di telingaku, “Stephanie..”


Nama itu membuat kepalaku sakit tanpa henti hingga aku memutuskan untuk meninggalkannya saja. Akan tetapi, dia memegang tanganku dan menarik ke dalam pelukannya. Lalu, dia mencium bibirku hingga aku tidak sadarkan diri dalam dekapannya.


“Kini hatiku merasa bahagia. Tapi, aku tetap merasa ada yang janggal di hatiku. Rasa yang janggal itu terasa pedih, sakit, dan rindu.”


#staysafeandbehealthy