
Satu pelayan perempuannya kembali kepadanya dan mau membukakan borgolnya. Dia terlihat sangat gugup saat mau membuka borgol itu.
“Tidak usah gugup..”
“Iya, tuan.”
“Maaf, apakah kamu manusia?”
“I-i-iya, t-t-tuan. A-a-apakah anda ingin menghisap darah s-s-saya?” Kunci itu jatuh karena tangan pelayan itu bergetar. Sesudah itu, dia jatuh lalu melipat kedua kakinya dan tidak berani menatap diri Alardo.
“ T-t-tuan, b-biarkan saya hidup. S-saya h-hanya…. T-tidak-tidak…. S-saya masih mempunyai keluarga yang harus saya tanggung, tuan.”
Alardo ikut berlutut dengan satu kaki,
“Tenanglah, aku tidak akan menyakitimu. Sekarang, kamu lepaskan saja borgol ini lalu pergilah. Ya?” Alardo memberikan senyuman kecil kepadanya.
“B-b-baik, tuan. Terima kasih, tuan,” Dia membuka borgol Alardo dengan mata sedikit berlinang. Setelah itu, dia pergi.
‘Mengapa dia menyuruh pelayan manusia untuk membuka borgolku? Apa dia memancing rasa hausku?’ Alardo mendekati cermin di ruangan ini. Tepat disaat dia berdiri di depan cermin, daya gelang ini telah habis. Matanya yang ingin disembunyikan ini kembali lagi. ‘Ma-pah, apa yang kalian sembunyikan dariku?
Mengapa aku jadi benci dengan mata ini?’
Lalu, Alardo merebahkan diri dengan sedikit menghela nafas dan menatap gelangnya. “ahhh, apakah aku akan terus memakai gelang ini? Ya, sudahlah biarkan aku mengisi gelang ini terlebih dahulu.” Tanpa disadarinya, ia memasuki alam bawah sadarnya.
Di alam bawah sadarnya, Alardo membuka pintu sebuah kamar dan didapatinya kedua orang tuanya terbunuh oleh raja serigala. Dia melihat raja serigala itu memegang jantung kedua orang tuanya. “T-tidak mungkin, mama-papah.”
“TIDAK!!” Seketika ia terbangun. Keringatnya sudah bercucuran di seluruh wajahnya. ‘apa itu?’ Nafasnya masih sedikit terengah-engah mengingat mimpinya itu.
Satu jam kemudian….
Alardo sudah memakai baju dan sepatu yang sudah disediakan. Dia melihat gelangnya sudah terisi penuh dan siap mengubah matanya kembali. ‘Aku harus berhati-hati dengan raja itu.’
Dia dijemput oleh para pelayan Jack. Dia disuruh untuk memakai topeng. ‘Wah, sepertinya ada pesta topeng besar juga ya. Sepertinya seru nih.’
Benar saja, diluar sudah ada banyak orang yang menggunakan topeng dan berdansa. Alardo melihat seksama orang-orang itu. ‘Mata mereka semua berwarna kuning keemasan.’
“Halo, Alardo.” Pria yang memakai jubah tebal itu memanggilku. Pria itu adalah raja Jack. Dia juga bertepuk tangan sembari mendekati Alardo. “Wow, you look so handsome. Tidak sepertiku.”
Alardo menjawab dengan senyuman palsunya, “Bisa saja, Raja Jack. Anda yang paling tampan dibandingkan raja-raja lain, Tuan.” Perkataanya
berbeda dengan suara dipikirannya. ‘Tetap waspada, Alardo. Jangan sampai lengah.’
Alardo diajak menuju meja panjang yang sudah dipenuhi dengan makanan. Dia duduk yang berada di sebelah kanan Raja Jack. Di depan mereka sudah ada banyak orang yang sudah berdansa mengikuti irama musik dan memakai topeng juga.
“Apakah kamu menyukainya, Alardo?”
“Iya, Raja. Apakah raja ingin kutuangkan segelas anggur?”
“Tidak perlu, Alardo.” Akan tetapi, Alardo tetap
menuangkannya ke gelas Raja Jack.
“Terima kasih, Alardo.”
“Apakah kamu ingin berdansa?”
“Tidak, Raja.”
“Ayolah berdansa dengannya, Alardo. Hei! Kemari-kemari!” Raja Jack memanggil seorang perempuan yang berdiri di sudut ruangan.
Sekarang, perempuan itu sudah berdiri didepannya. Alardo melihat warna matanya berwarna hitam, dia berbeda dengan yang lain. Alardo menerima perempuan itu menjadi pasangan dansanya.
Alardo membawa perempuan itu menjauh dari raja jack lalu berdansa dengannya
“Kamu!”
“Iya, tuan. I-ini saya yang tadi membuka borgol tuan.”
Dengan nada berbisik, Alardo bertanya kepada pelayan itu. “Apakah kamu mendapat perlakuan tidak layak disini?”
“T-t-tidak, tuan.”
“Benarkah?” Alardo ingin memastikannya karena dia melihat luka lebam di pipi pelayan perempuan itu. Topeng yang dipakai semua orang hanya menutupi di sekeliling mata saja sehingga dia bisa melihat luka lebam itu.
‘Tuan, tolong dengarkan pikiran saya .’ Alardo mengangguk dan membuat pelindung tidak terlihat agar pikiran pelayan itu tidak terdengar
oleh orang lain. Mereka sambil tetap berdansa di tengah orang banyak yang juga berdansa.
‘Saya telah diperlakukan kasar oleh mereka. Saya ingin keluar dari sini tapi tidak bisa. Saya sudah lelah bekerja disini. Bisakah Tuan
membantu saya?’ Alardo mengangguk menandakan dia bisa membantunya. Alardo
sedikit mengeluarkan sihir listrik dari telunjuknya dan mengarahkannya ke
tengkuk leher pelayan itu.
Pelayan perempuan itu menjadi tidak sadarkan diri. Alardo menggendongnya ala bridal style dan mengubah warna kedua matanya menjadi merah menyala. Lalu, dia berpura-pura meminta izin ke Raja Jack untuk mengijinkannya ke hutan agar bisa menghisap darah pelayan perempuan itu. Ternyata, Raja Jack mengijinkannya tanpa ada rasa curiga.
Alardo berlari cepat dengan kekuatan vampirenya menuju hutan. Sesampai di hutan, dia mengubah iris matanya menjadi hitam kembali dan berteleportasi ke Dunia penyihir.
Di Istana Penyihir…
Lucas menyuruh Bianca dan Frederra berkumpul di ruang perpustakaan terlarang milik istana Lucas. Dihadapan mereka bertiga sudah tersedia peta kerajaan Serigala.
“Mari kita diskusikan ini. Jangan sampai berita ini terdengar dengan Richard. Ok?”
Bianca menjawabnya dengan suara pelan, “okeh.”
“Baiklah, ini adalah rencananya…” Mereka saling mendiskusikan sampai beberapa jam kemudian.
Setelah selesai berdiskusi, mereka menuju pintu utama istana lalu membuka pintu itu. Lucas, Bianca, dan Frederra mendapati Alardo sudah berada di depan pintu dengan membawa seorang perempuan dalam dekapannya.
“Paman, tolong aku.” Tanpa disadari, Alardo sudah mengeluarkan airmatanya.