
“Bibi, bagaimana bisa kesini?” Aku terheran serta terharu, rasa yang campur aduk di dalam hatiku.
“Ini rahasia, sayang.” Bibi mencolek hidungku sambil menggodaku.
“Itu pacarmu menunggumu.” Aku hanya tertawa kecil serta menghapus air mataku mungkin sudah membasahi wajahku lagi.
Bibi dan aku berjalan menuju mereka bertiga. Sesampai disana, Richard menyapa bibiku.
“Halo, Fre... Bibi Stephanie.” Dia memberi hormat kepada bibiku. “Tidak usah, nak Richard. Berdirilah.” Richard mengikuti perintah bibiku untuk berdiri.
“Gimana, Lucas? Apa jawabanmu untuk Bianca?” Sekarang, bibi menggoda Lucas yang masih terdiam.
“Hmm.. aku juga s-s-u-ka! Akan tetapi, apa kamu mau menerimaku sebagai seorang raja penyihir di dunia.” Sehabis Bianca mendengar perkataan Lucas, dia langsung memeluknya dengan erat.
“Iya, Lucas. Aku menerimamu apa adanya. Kamu mau penyihir atau manusia. Aku menerimamu.” Dengan sedikit keraguan, Lucas membalas pelukan dari Bianca. Aku, Richard, dan bibi melihatnya dengan tersenyum. Richard berjalan mendahului kami semua untuk menuju Lucas dan menepuk lengannya.
“Akhirnya ya, Lucas. Kamu dicintai oleh manusia seperti keinginanmu.”
“Hmm, iya.”
“Jagalah dia baik-baik.” Lucas menjawabnya dengan anggukan. Richard membalikkan badannya serta memanggil kami.
“Ayo masuk! Udara disini semakin dingin untuk kalian.” Kita semua masuk bersama tanpa perkataan apapun.
Jam telah menunjukkan waktu tepat tengah malam, aku memberanikan diri ke kamar Richard.
Tok,tok..
“Masuk, Stephanie.”
Aku membuka pintu dengan sangat pelan.
“Bagaimana kamu tau kalau itu aku?”
Dia langsung menunjukkan hidungnya. “Dari penciumanku dan bau darahmu, Stephanie.”
‘Oh, iya, aku lupa kalau dia vampire.’ Aku menampar pipiku sendiri. Dia melihat tingkahku dan pikiranku membuatnya tertawa. Dia mendekatiku yang masih berdiri di depan pintu.
“Aku ingin berterima kasih kepadamu.”
“Untuk?”
“Untuk menolong ku dari serangan serigala itu dan untuk menolong bibiku serta temanku.”
“Jangan berterima kasih, Stephanie. Aku yang seharusnya berterima kasih kepadamu karena sudah hadir kembali di hidupku.” Dia mencium keningku lagi untuk sekian kalinya sepertinya. Itu masih membuat wajahku memerah. Lalu, dia memelukku dengan wajahnya yang mungkin sudah lelah tapi dia menyembunyikannya.
“Terima kasih, Stephanie. Tanpamu, aku merasa hidupku sudah mati. Walaupun aku berstatus memang tidak bernyawa.” Beberapa menit, pundakku sudah dibasahi air matanya. Aku membalas pelukannya seraya mengelus punggungnya.
“Sama-sama, Richard.” Ini mungkin pertama kalinya, aku melihat Richard menangis. Seketika, aku merasa setiap tetesan air matanya memiliki cerita kehidupan nya yang lebih kelam dariku. Dulu, aku pikir hanya aku yang memiliki kehidupan kelam ternyata kehidupanmu lebih kelam daripada diriku.
‘Bagaimana kamu bisa bertahan, Richard?’
Seketika itu, dia melepaskan pelukannya itu dan menghapus airmatanya sendiri.
“Haha, aku sudah terlihat lemah di depanmu. Ada lagi yang ingin dibicarakan, Stephanie?”
“Hmm, sepertinya ada. Ini permasalahan tentang pilihanku yang ingin sepertimu.”
Ekspresi wajahnya berubah menjadi serius total. “Richard, apakah aku harus memberitahukan bibi tentang pilihanku? Karena bibiku beserta temanku sedang disini. Aku bingung apa yang harus kulakukan.” Tiba-tiba, dia mengacak-ngacak rambutku sambil tersenyum lagi.
“Apapun pilihanmu, itulah yang terbaik untuk dirimu sendiri. Aku hanya bisa mendukungmu.” Aku mengangguk jawabannya itu. Aku langsung membalikkan badanku untuk menuju kembali ke kamarku. Akan tetapi, suara Richard memberhentikan langkahku walau hanya sebentar.
“Stephanie, apa kamu ingin kutemani?”
“Boleh.” Dia menyusul diriku yang hanya beberapa langkah darinya.
Sesampai di kamarku, dia mengambil kursi dari pojok ruangan dan menaruhnya di samping kasurku. Aku tidur di kasur yang empuk sedangkan dia duduk dengan memperhatikanku.
“Aku akan disini sampai pagi menjelang agar kamu tidak kesepian, Stephanie .” Aku memberikan senyuman tipis terhadapnya.
“Mungkin, aku tidak terlalu mirip dengan kekasihmu yang terdahulu. Akan tetapi, aku akan mencoba sebisaku untuk menjadi lebih baik darinya.”