My Reincarnation and My Reincarnation 2

My Reincarnation and My Reincarnation 2
S2: 3. Gegabah



Papaku mendorong dan menahan tubuhku ke dinding. Matanya berubah menjadi berwarna merah menyala. Aku bisa merasakan aura papa yang sangat marah


kepadaku.


“Kamu itu tidak pernah mendengarkan kata-kata papa!”


“Aku hanya ingin merasa bebas. Aku sudah besar, pa. Papa tidak perlu menyembunyikan aku lagi!”


“Papa tidak mau anak papa terluka ataupun menghilang!” Seketika, papa batuk mengeluarkan darah yang sangat banyak daripada sebelumnya. Wajah papaku semakin pucat dan mengeluarkan keringat dingin.


“Maafkan aku, pa.”  Aku menjentikan jariku untuk membuat papaku jatuh pingsan. Aku membopong papaku kembali ke kasur. Hatiku terasa hancur melihat orang tuaku terluka parah begini.


‘Aku ingin membalas dendam kepada siapapun yang melukai orang tuaku!’


Aku berjalan keluar dari kamar itu dengan rasa kesal tapi bibiku tiba-tiba menghadangku di depan pintu kamar. “Kamu mau kemana? Mau balas dendam kemana?!” Aku menghiraukannya dan tetap berjalan keluar. Aku memilih motor milik papaku yang berada di garasi. Aku tanpa sadar mengendarainya ke arah hutan lebat. Sebenarnya sewaktu kecil, papaku pernah melarangku untuk tidak boleh masuk hutan lebat itu. Aku ingin menambah kecepatanku menembus kabut-kabut di dalam hutan. Siang ataupun malam, hutan ini tetap saja gelap.


Akhir dari hutan ini adalah istana yang begitu mewah dan luas. Luasnya hampir sama dengan istana milik papaku. Aku menghentikan motorku dan melepas helmku. Aku berjalan menuju para penjaga gerbang disana.


“Hei, aku mau menemui raja kalian!”


“Hahaha, raja kami? Manusia sepertimu mau menemui raja kami. Mana mungkin bisa,” kata pengawal 1.


Pengawal 2 mendekatiku dan membisikkan suatu kalimat, “kamu akan mati jika menemui raja kami.” Rasa takutku tidak memudar tapi rasa amarahku makin memuncak. Aku mengubah warna kedua mataku ke warna merah vampire.


Sikap mereka berubah menjadi sikap yang ingin melawanku dan menjaga pertahanan diri mereka. Mata mereka berubah menjadi kuning keemasan. ‘Mata itu?! Mirip denganku!’


Lalu, Gertakan gigi mereka terdengar jelas serta hembusan nafasnya tidak beraturan. Merekalah yang menyerangku terlebih dahulu. Aku hanya menjetikan jariku dan membuat badan mereka terlilit dengan tali. Aku


memunculkan api di atas jari-jariku. Mereka ketakutan melihat api itu.


“Hahaha, sekarang kalian takut ya? Sekarang, kalianlah yang akan mati.” Sebelum aku melepaskan sihir api ini ke mereka, pintu gerbangnya terbuka sendiri lalu keluarlah dua orang dari istana itu. Orang yang berada di depan bertepuk tangan dan berkata dari jauh, “Bravo!”. Aku melihat matanya berwarna


keemasan dari kejauhan. Sedangkan, orang yang berada di belakang hanya menundukkan kepala saja dan matanya berwarna perak. Mereka berdua semakin mendekat tapi aku tidak takut.


Mereka sudah sampai di depan hadapanku.


“Luther, tolong matikan api itu.”


“Baik, tuan.” Orang yang sedari tadi menunduk itu, dia mengeluarkan sihir es ke jari-jariku. ‘Apa dia penyihir? Tidak mungkin.’


“Kenapa kamu terkejut kalau dia penyihir? Tidak perlu kaget, bukannya


dirimu juga penyihir?”


Aku bisa menutup mulutku dan bertanya-tanya siapa sebenarnya mereka. Kenapa ada istana yang belum pernah kuketahui sebelumnya.


“Ah, iya. Kamu belum tau diriku yang sebenarnya ya? Kamu juga herankan kenapa ada istana ini? Sebelum itu, aku perkenalkan diriku ya. Namaku adalah Raja Jack atau Raja Serigala. Apakah papamu tidak pernah memberitahu kerajaan ini? Jahat sekali papamu itu.” Dia berjalan mengelilingi tubuhku, seketika badanku tidak bisa bergerak. Dia memberhentikan langkahnya di belakang tubuhku. Dia mulai berbisik ke telinga kananku.


“Asalkan kamu tau, aku lebih mengetahui fakta tentangmu dibandingkan papamu atau mamamu.” Aku merasa tersentak mendengar hal itu.


“Kamu itu..” Belum dia menyelesaikan kata-katanya. Tiba-tiba, pamanku Lucas menlempar jauh raja jack dariku. Tubuhku mulai bisa digerakkan kembali.


“Terima kasih, paman.”


“Oh, iya, sama-sama. Sekarang, kamu kembali pulang dengan motormu dan lupakan kata-kata yang dikeluarkan dari raja itu!” Aku mengiyakan kata-kata paman itu, Raja Jack itu bangkit berdiri dan mencoba menyerang paman Lucas. Akan tetapi, paman Lucas menjetikkan jarinya dan menghilang dari sana.


Aku memacu kecepatan motorku bukan ke arah pulang, melainkan ke arah sungai di pusat kota. Aku tidak menyadari bahwa langit telah berganti malam setelah keluar dari hutan itu. Disana, aku berteriak sekencang-kencangnya. Aku tidak peduli banyak orang yang melihatku berteriak. Hujan pun menuruni pusat kota dengan sangat deras. Air mataku keluar seiring dengan hujan membasahi wajahku.


Tiba-tiba, ada seseorang yang memayungiku dari belakang. Aku membalikkan badanku.


“Kamu?! Kamu yang pernah nangis disinikan? Jessica bukan?” Perempuan itu mengangguk.


“Yup. Kemarin, aku yang menangis. Sekarang, giliran kamu yang sedang menangis kan?”


“Baiklah.”


“Bagaimana kalau kita ke kafe yang terdekat untuk meneduh?”


“Boleh.” Aku meninggalkan motorku dan berjalan bersama perempuan ini menuju kafe yang berada di seberang sungai ini. Sesampai di kafe, aku memesan cokelat panas dan pasta. Sedangkan, perempuan ini tidak memesan


apapun. Dia menolak tawaranku untuk memesankan makanan untuknya.


“Kenapa kamu tidak makan?”


“Tidak apa-apa. Hanya tidak ingin saja.”


Aku merasa dia mempunyai alasan lain kenapa dia tidak mau makan, maka dari itu aku meyakinkannya. “Benarkah?”


“Sebenarnya, aku ingin mecobanya tapi setiap aku makan makanan manusia. Aku pasti akan memuntahkannya kembali. Lalu, kenapa kamu bisa memakan makanan manusia?”


“Ya karena aku percampuran antara vampire dan penyihir.” Dia terkejut mendengar hal ini. “Penyihir?! Berarti kamu bisa melakukan berpindah tempat dengan sekali jentikan?”


“Bisa jadi seperti itu.” Tanpa disadari kami berbincang cukup lama sampai  makananku sudah datang di depanku. Aku memakannya dengan nikmatnya sampai habis. Kami berbincang tentang hal yang lucu sampai hujan mereda. Sesudah itu, aku menawarinya tumpangan ke rumahnya. Dia menerima tawaranku.


Di depan rumahnya, kami telah disambut oleh papa-mamanya serta saudaranya. Mereka menawari aku untuk masuk ke rumah mereka.


Aku diajak makan kembali di rumahnya. Mereka semua sangat ramah sekali kecuali saudaranya. Jessica memperkenalkan saudaranya itu.


“Ini adalah saudara kembarku. Dia bernama Jade. Kami sedikit berbeda di bola mata kami dan tentu jenis kelamin kami. Iya kan, Jade?”


Jade tetap diam sambil memotong daging steak di depannya. Mamanya Jessica megganti topik agar tidak kaku di dalam ruang makan itu. Bagaimana kalau kita memakan kue?” Akan tetapi, Jade memilih meninggalkan ruang makan menuju lantai dua. Jessica mengikuti Jade dari belakang.


“Maafkan anak bibi ya. Dia belum terbiasa bertemu dengan


orang baru.” Aku melihat wajah Jade itu bukan karena dia belum terbiasa bertemu


dengan orang baru, lebih ke arah dia membenci kehadiranku.


Jamuan makan malam itu telah usai, bibi mengumpulkan piring-piring kotor itu untuk dicuci. Aku menawarkan diri untuk mencuci piring kotor itu.


“Tidak usah biar bibi saja yang cuci. Kamu duduk saja.”


“Tidak apa-apa, bi. Aku senang jika aku saja yang mencucinya.” Akhirnya, Bibi itu memberikan cucian piring itu kepadaku. Bibi meninggalkan di ruang dapur menuju ruang makan kembali. Setiap piring yang kucuci kupastikan tidak ada noda yang tertinggal sedikitpun. Akhirnya, aku menyelesaikan cucian piring itu.


Aku kembali ke ruang makan dan kudapati paman serta bibi sedang duduk disana. Bibi mengucapkan terima kasih kepadaku. Bibi menuangkan cairan merah ke gelas milik paman. Aku yakini itu adalah darah karena aroma tercium ke hidungku.


“Maaf, paman dan bibi. Apakah itu darah?” Mereka sedikit terkejut dengan pertanyaanku. Pertama, Paman yang melontarkan pertanyaan kepadaku terlebih dahulu. “Bagaimana kamu bisa tau?” Aku mengubah warna mataku menjadi merah.


“Tenang, paman-bibi. Aku juga seorang vampire, paman-bibi.”


“Huh, untung sajalah jika kamu sama dengan paman.”


“Lalu, bibi?”


Paman menerangkan jika bibi adalah seorang manusia biasa. Bibi  mengiyakan perkataan paman itu. Aku juga bertanya juga tentang status Jessica dan Jade. Paman memberitahu bahwa mereka kembar dengan beda status juga. Jessica adalah seorang vampire tapi dia tidak bisa mengubah warna matanya, tidak bisa makan makanan manusia, dan juga tidak bisa terkena sinar matahari. Sedangkan, Jade adalah seorang manusia yang belum tau apakah dia suatu saat akan berubah ke vampire atau tidak.


“Jadi, Jessica itu seperti vampire kuno ya? Berapa umur Jade ya, paman?”


“Iya, bisa dibilang begitu. Kami masih mencari obat dari seorang penyihir agar dia seperti vampire-vampire sekarang. Paman merasa kasihan dengannya. Umur Jade adalah 18 tahun.”


Aku mengunci pikiranku agar tidak bisa dibaca oleh paman.  ‘Aku sebenarnya ingin bantu Jessica tapi tidak sekarang sedangkan umur Jade hampir mendekati umur menuju perubahannya yaitu 20 tahun.’ Bibi memecahkan pikiranku dan menawariku untuk menginap sampai besok. Aku ingin menolak tapi rasanya tidak enak. Akhirnya, aku menginap di kamar khusus tamu. Aku merebahkan badanku diatas kasur yang cukup nyaman. Tanpa sadar, aku mulai memasuki alam bawah sadarku.


Secercah cahaya masuk ke kamar ini, aku bangun dan memandang wajahku di cermin. Betpa terkejutnya aku bahwa mata kiriku sudah berubah menjadi warna emas kembali.


‘Oh iya, aku lupa melepas gelang ini. Bagaimana ini?!’