
Kami sudah mencari cara untuk menyelamatkan Stephanie dan
kandungannya selama tiga minggu. Sebenarnya, di dalam hatiku terdalam, aku menolak
untuk menyelamatkan anak yang berada di dalam perut Stephanie tersebut.
Dikarenakan anak itu adalah anak dari Jack, si Raja Serigala itu sekaligus musuh bebuyutanku. Akan tetapi,
Frederra dan Lucas memberitahu bahwa darah milik Richard masih mengalir di
dalam Stephanie saat dia diubah oleh Richard sehingga memungkinkan anak ini
memiliki gen dari Richard.
“Anak ini bisa menjadi trihibrid, Richard!”
“Terus?!” Aku memandang Lucas dengan wajah yang tidak senang
mendengar pendapanya.
“Ya, anak ini akan menjadi tanda perdamaian 3 bangsa.
Kemungkinan, Penyihir, Vampire, dan Serigala akan berdamai satu sama lain dan
tidak akan terjadi peperangan atau bisa jadi anak ini menjadi yang terkuat
diantara 3 bangsa ini. Ya, ada baiknya, kalau kita mempertahankan anak inI.
Gimana Frederra? Apa kamu mempunyai ide?”
Aku dan Lucas menatap dan menunggu pendapat dari Frederra.
“Aku setuju dengannya, Richard. Jika kita hanya
menyelamatkan Stephanienya saja maka Stephanie pasti akan menyalahkanmu atas
pilihanmu itu.” Sekarang, giliran Lucas dan Frederra menatap ke Richard.
“Bagaimana, Ric? Dua pendapat lawan satu?,” tanaya Lucas.
“Terserah kalian saja. Aku akan keluar.” Aku mulai
mengangkat kaki menuju keluar dari ruangan Lucas. Aku menuju ke ruang bawah tanah
istana. Aku melewati setiap lorong gelap yang sudah sering kulewati dengan
kepala menunduk. Hati yang gundah gulana, lelah, dan menyerah sedang menemaniku
dan bercampur aduk dengan rata. Dipertengahan jalan, aku berhenti sejenak
memandang kamar Stephanie yang sudah 3 minggu belum sadarkan diri.
“Kapan kamu bisa sadar, Steph? Aku sudah rindu denganmu.
Walau ragamu disini tetapi jiwamu tidak disini.” Lalu, aku melanjutkan
perjalanannya lagi menuju ruang bawah
tanah.
Sesampai disana, Aku
mengambil stok persediaan darah yang ada. Aku memilih ambil satu kantong darah disini karena aku ingin bersembunyi disaat aku ingin menangis. Lalu, aku duduk sambil menyandarkan
dirinya ke dinding. Tanpa disadari, air mataku jatuh satu persatu ke lantai
hingga semua mukaku basah. Tanganku yang menggenggam sekantung darah itu ikut
bergetar.
“Apa aku harus menyelamatkan anak itu? Aku sangat benci
untuk memilih ini.”
Tiba-tiba dari kejauhan, aku mendengar suara langkah kaki
yang berlari. Ternyata, itu berasal dari pelayan perempuanku..
“Tuan, nyonya Stephanie sudah sadar.”
Aku yang mendengar hal itu melesat pergi dan meninggalkan
pelayan itu. Aku langsung memeluk Stephanie dengan rasa senang sekaligus
terharu.
“Akhirnya, kamu sadar, Steph.” Lalu, aku melepas pelukan itu
dan melihat wajah Stephanie. Wajahnya terlihat bingung dan merasa takut.
“Siapa kamu? Dimana aku? Dimana kakakku Luther? Dimana Jack?,”
tanya Stpehanie. Aku terkejut mendengar pertanyaan itu. Aku hanya bisa terdiam
tanpa menjawabnya sedikitpun. Lucas dan Frederra yang baru menghampiri kami,
mereka juga memeluk Stephanie dengan rasa senang. Akan tetapi, Stephanie
melemparkan pertanyaan yang sama kepada mereka.
“Siapa kalian? Dimana kakak Luther? Dimana Jack?” Lucas dan
Frederra ikut terkejut mendengar pertanyaan itu.
“Aku bibimu, Stephanie.”
“Bibi?”
“Iya, aku bibimu.”
“Aku tidak punya bibi. Aku hanya punya kakak Luther. Lalu,
siapa Stephanie?”
“Ok-ok, Richard, Frederra. Bagaimana kalau kita keluar
sebentar?” Lucas menarik kami berdua ke luar kamar Stephanie.
Aku melihat wajah
Frederra yang sudah menahan airmatanya agar tidak keluar. Aku juga membaca
pikiran Frederra.
‘Kenapa Stephanie melupakanku? Kenapa bisa?’ Itulah yang
dikatakan Frederra dalam pikirannya. Diluar, kami mendiskusikan keadaan
Stephanie lagi. Kami dilanda senang dan bingung. Kami senang Stephanie telah
sadar. Akan tetapi, kami bingung bagaimana cara agar Stephanie mengingat kami
dan kembali seperti dulu kalau dia sudah sadar.
“Ini mungkin akan semakin rumit, Ric. Kemungkinan, dia akan
menolak untuk membuka segel dirinya.”
yang tepat.
Setelah kami cukup lama berdiam, Frederra mengangkat
suaranya. Dia ingin membiarkan Stephanie seperti itu saja. Mungkin dengan berjalannya waktu,
Stephanie akan mengingat kami. Akan tetapi, aku menolak keras dengan idenya.
“Maaf, aku tidak setuju dengan pendapatmu. Lalu, bagaimana
dengan segelnya? Segel itu adalah penyebab semua ini. Aku tidak bisa menunggu
terlalu lama lagi.”
“Bagaimana kalau aku menyerap setengah kekuatan segel itu
dan Frederra menyerap sisanya. Lalu, kita buang kekuatan itu ke bagian paling
Timur. Disana, tempat para penyihir membuang sihir hitam mereka.”
Frederra dan aku langsung menyetejui ide milik Lucas itu.
Frederra bertanya ke Lucas, bagaimana dia bisa tau cara itu. Lucas menjawabnya
dengan menyombongkan dirinya.
“Dari bagian selatan. Aku mencari tau semua ini sampai ke
daerah bagian selatan sana. Aku udah mencari dari utara, timur, selatan, dan
barat. Hasilnya adalah cara dari bagian selatanlah yang mungkin bisa
menyelesaikan permasalahan kita.” Kami terkejut bahwa Lucas mencari cara
menyelesaikan masalah ini sampai keseluruh penjuru. Padahal setiap hari, kami
selalu melihat Lucas.
“Sudah, jangan kalian pikirkan bagaimana aku mencari cara
itu meskipun aku masih disini. Sekarang yang terpenting cara untuk
menyelamatkan Stephanie sudah ditemukan. Kita akan melakukannya saat Stephanie
tertidur. Ok?” Aku dan Frederra mengiyakannya.
Waktu terus berjalan, kami menunggu waktu yang tepat di
kamar kami masing-masing. Kami menunggu kode dari pelayan yang ditugaskan untuk
merawat Stephanie. Tepat jam dua pagi, kode dari pelayan itu mendatangi kami.
Kami bertiga menghampiri kamar Stephanie. Sebelum aku membuka pintu kamar, aku bertanya
kepada mereka.
“Apa kalian sudah siap?” Mereka menjawabnya dengan anggukan
saja. “Ok, kalau begitu.” Sesudah itu, aku membuka pintu itu secara perlahan
agar Stephanie tidak terbangun. Lalu, Lucas memegang tangan kiri Stephanie
sedangkan Frederra memegang tangan kanan Stephanie. Mereka mulai memasuki ke dalam pikiran
Stephanie. Aku hanya bisa menunggu sampai mereka selesai disini.
30 menit berlalu dengan cepat, aku melihat Lucas dan
Frederra masih berusaha dengan sekuat tenaga. Satu jam kemudian, mereka
berhasil menyerap energi segel itu. Aku dengan cepat menangkap Frederra yang
hampir mau jatuh pingsan. Aku menggendong Frederra ke kamarnya.
“Terima kasih, Raja Richard.”
“Aku yang seharusnya mengucapkan banyak terima kasih
kepadamu, Frederra.” Frederra memperlihatkan senyuman kecilnya kepadaku.
Aku menaruh Frederra di atas ranjangnya. “Beristirahatlah,
Frederra.” Frederra tidak menjawabku dan langsung tertidur pulas disana. Aku
keluar dan terkejut melihat Lucas sudah berada di luar kamar Frederra. Saat
Lucas berhadapan denganku, tubuhnya lunglai ke arahku. Untungnya, aku bisa
menahan berat tubuhnya itu.
Aku membawanya sampai di kamarnya juga. Walaupun Lucas
jarang mengeluh dengan kondisinya yang lelah tapi bisa kulihat dari raut
wajahnya yang menandakan dia sangat lelah.
“Maafkan aku lagi, Lucas.” Kata-kata itu keluar begitu saja
dari mulutku. Aku meninggalkannya dan menutup pintu kamar Lucas.
Sekarang, aku menuju ke dapur untuk mengambil satu kantung
darah dari sana dan langsung meneguknya.
“Besok akan baik-baik saja, Richard.” Aku menenangkan diriku
sendiri.
“Sekarang, kamu bukanlah orang yang kukenal dulu. Aku hanya bisa
memohon kepadamu bisakah kamu kembali seperti dulu?”
*Tokoh*
Nama: Jack Kenley Alter
Tanggal Lahir : 27 Agustus
Umur: 2300 tahun
Warna rambut dan mata : Perak dan emas
Makanan kesukaan : Daging
Status: Raja Serigala
Pasangan: Leana atau alias Stephanie
Nama orang tua: Aurellia Kathleen Alter (Ibu) dan Alcander Conary Alter (Bapak).