My Reincarnation and My Reincarnation 2

My Reincarnation and My Reincarnation 2
Richard XII (2)



Kami sudah mencari cara untuk menyelamatkan Stephanie dan


kandungannya selama tiga minggu. Sebenarnya, di dalam hatiku terdalam, aku menolak


untuk menyelamatkan anak yang berada di dalam perut Stephanie tersebut.


Dikarenakan anak itu adalah anak dari Jack, si Raja Serigala itu sekaligus musuh bebuyutanku. Akan tetapi,


Frederra dan Lucas memberitahu bahwa darah milik Richard masih mengalir di


dalam Stephanie saat dia diubah oleh Richard sehingga memungkinkan anak ini


memiliki gen dari Richard.


“Anak ini bisa menjadi trihibrid, Richard!”


“Terus?!” Aku memandang Lucas dengan wajah yang tidak senang


mendengar pendapanya.


“Ya, anak ini akan menjadi tanda perdamaian 3 bangsa.


Kemungkinan, Penyihir, Vampire, dan Serigala akan berdamai satu sama lain dan


tidak akan terjadi peperangan atau bisa jadi anak ini menjadi yang terkuat


diantara 3 bangsa ini. Ya, ada baiknya, kalau kita mempertahankan anak inI.


Gimana Frederra? Apa kamu mempunyai ide?”


Aku dan Lucas menatap dan menunggu pendapat dari Frederra.


“Aku setuju dengannya, Richard. Jika kita hanya


menyelamatkan Stephanienya saja maka Stephanie pasti akan menyalahkanmu atas


pilihanmu itu.” Sekarang, giliran Lucas dan Frederra menatap ke Richard.


“Bagaimana, Ric? Dua pendapat lawan satu?,” tanaya Lucas.


“Terserah kalian saja. Aku akan keluar.” Aku mulai


mengangkat kaki menuju keluar dari  ruangan Lucas. Aku menuju ke ruang bawah tanah


istana. Aku melewati setiap lorong gelap yang sudah sering kulewati dengan


kepala menunduk. Hati yang gundah gulana, lelah, dan menyerah sedang menemaniku


dan bercampur aduk dengan rata. Dipertengahan jalan, aku berhenti sejenak


memandang kamar Stephanie yang sudah 3 minggu belum sadarkan diri.


“Kapan kamu bisa sadar, Steph? Aku sudah rindu denganmu.


Walau ragamu disini tetapi jiwamu tidak disini.” Lalu, aku melanjutkan


perjalanannya lagi menuju ruang  bawah


tanah.


Sesampai  disana, Aku


mengambil stok persediaan darah yang ada. Aku memilih ambil satu kantong darah disini karena aku ingin bersembunyi disaat aku ingin menangis. Lalu, aku duduk sambil menyandarkan


dirinya ke dinding. Tanpa disadari, air mataku jatuh satu persatu ke lantai


hingga semua mukaku basah. Tanganku yang menggenggam sekantung darah itu ikut


bergetar.


“Apa aku harus menyelamatkan anak itu? Aku sangat benci


untuk memilih ini.”


Tiba-tiba dari kejauhan, aku mendengar suara langkah kaki


yang berlari. Ternyata, itu berasal dari pelayan perempuanku..


“Tuan, nyonya Stephanie sudah sadar.”


Aku yang mendengar hal itu melesat pergi dan meninggalkan


pelayan itu. Aku langsung memeluk Stephanie dengan rasa senang sekaligus


terharu.


“Akhirnya, kamu sadar, Steph.” Lalu, aku melepas pelukan itu


dan melihat wajah Stephanie. Wajahnya terlihat bingung dan merasa takut.


“Siapa kamu? Dimana aku? Dimana kakakku Luther? Dimana Jack?,”


tanya Stpehanie. Aku terkejut mendengar pertanyaan itu. Aku hanya bisa terdiam


tanpa menjawabnya sedikitpun. Lucas dan Frederra yang baru menghampiri kami,


mereka juga memeluk Stephanie dengan rasa senang. Akan tetapi, Stephanie


melemparkan pertanyaan yang sama kepada mereka.


“Siapa kalian? Dimana kakak Luther? Dimana Jack?” Lucas dan


Frederra ikut terkejut mendengar pertanyaan itu.


“Aku bibimu, Stephanie.”


“Bibi?”


“Iya, aku bibimu.”


“Aku tidak punya bibi. Aku hanya punya kakak Luther. Lalu,


siapa Stephanie?”


“Ok-ok, Richard, Frederra. Bagaimana kalau kita keluar


sebentar?” Lucas menarik kami berdua ke luar kamar Stephanie.


Aku melihat wajah


Frederra yang sudah menahan airmatanya agar tidak keluar. Aku juga membaca


pikiran Frederra.


‘Kenapa Stephanie melupakanku? Kenapa bisa?’ Itulah yang


dikatakan Frederra dalam pikirannya. Diluar, kami mendiskusikan keadaan


Stephanie lagi. Kami dilanda senang dan bingung. Kami senang Stephanie telah


sadar. Akan tetapi, kami bingung bagaimana cara agar Stephanie mengingat kami


dan kembali seperti dulu kalau dia sudah sadar.


“Ini mungkin akan semakin rumit, Ric. Kemungkinan, dia akan


menolak untuk membuka segel dirinya.”


yang tepat.


Setelah kami cukup lama berdiam, Frederra mengangkat


suaranya. Dia ingin membiarkan Stephanie seperti  itu saja. Mungkin dengan berjalannya waktu,


Stephanie akan mengingat kami. Akan tetapi, aku menolak keras dengan idenya.


“Maaf, aku tidak setuju dengan pendapatmu. Lalu, bagaimana


dengan segelnya? Segel itu adalah penyebab semua ini. Aku tidak bisa menunggu


terlalu lama lagi.”


“Bagaimana kalau aku menyerap setengah kekuatan segel itu


dan Frederra menyerap sisanya. Lalu, kita buang kekuatan itu ke bagian paling


Timur. Disana, tempat para penyihir membuang sihir hitam mereka.”


Frederra dan aku langsung menyetejui ide milik Lucas itu.


Frederra bertanya ke Lucas, bagaimana dia bisa tau cara itu. Lucas menjawabnya


dengan menyombongkan dirinya.


“Dari bagian selatan. Aku mencari tau semua ini sampai ke


daerah bagian selatan sana. Aku udah mencari dari utara, timur, selatan, dan


barat. Hasilnya adalah cara dari bagian selatanlah yang mungkin bisa


menyelesaikan permasalahan kita.” Kami terkejut bahwa Lucas mencari cara


menyelesaikan masalah ini sampai keseluruh penjuru. Padahal setiap hari, kami


selalu melihat Lucas.


“Sudah, jangan kalian pikirkan bagaimana aku mencari cara


itu meskipun aku masih disini. Sekarang yang terpenting cara untuk


menyelamatkan Stephanie sudah ditemukan. Kita akan melakukannya saat Stephanie


tertidur. Ok?” Aku dan Frederra mengiyakannya.


Waktu terus berjalan, kami menunggu waktu yang tepat di


kamar kami masing-masing. Kami menunggu kode dari pelayan yang ditugaskan untuk


merawat Stephanie. Tepat jam dua pagi, kode dari pelayan itu mendatangi kami.


Kami bertiga menghampiri kamar Stephanie. Sebelum aku membuka pintu kamar, aku bertanya


kepada mereka.


“Apa kalian sudah siap?” Mereka menjawabnya dengan anggukan


saja. “Ok, kalau begitu.” Sesudah itu, aku membuka pintu itu secara perlahan


agar Stephanie tidak terbangun. Lalu, Lucas memegang tangan kiri Stephanie


sedangkan Frederra memegang tangan kanan Stephanie.  Mereka mulai memasuki ke dalam pikiran


Stephanie. Aku hanya bisa menunggu sampai mereka selesai disini.


30 menit berlalu dengan cepat, aku melihat Lucas dan


Frederra masih berusaha dengan sekuat tenaga. Satu jam kemudian, mereka


berhasil menyerap energi segel itu. Aku dengan cepat menangkap Frederra yang


hampir mau jatuh pingsan. Aku menggendong Frederra ke kamarnya.


“Terima kasih, Raja Richard.”


“Aku yang seharusnya mengucapkan banyak terima kasih


kepadamu, Frederra.” Frederra memperlihatkan senyuman kecilnya kepadaku.


Aku menaruh Frederra di atas ranjangnya. “Beristirahatlah,


Frederra.” Frederra tidak menjawabku dan langsung tertidur pulas disana. Aku


keluar dan terkejut melihat Lucas sudah berada di luar kamar Frederra. Saat


Lucas berhadapan denganku, tubuhnya lunglai ke arahku. Untungnya, aku bisa


menahan berat tubuhnya itu.


Aku membawanya sampai di kamarnya juga. Walaupun Lucas


jarang mengeluh dengan kondisinya yang lelah tapi bisa kulihat dari raut


wajahnya yang menandakan dia sangat lelah.


“Maafkan aku lagi, Lucas.” Kata-kata itu keluar begitu saja


dari mulutku. Aku meninggalkannya dan menutup pintu kamar Lucas.


Sekarang, aku menuju ke dapur untuk mengambil satu kantung


darah dari sana dan  langsung meneguknya.


“Besok akan baik-baik saja, Richard.” Aku menenangkan diriku


sendiri.


“Sekarang, kamu bukanlah orang yang kukenal dulu. Aku hanya bisa


memohon kepadamu bisakah kamu kembali seperti dulu?”



*Tokoh*



Nama: Jack Kenley Alter


Tanggal Lahir : 27 Agustus


Umur: 2300 tahun


Warna rambut dan mata : Perak dan emas


Makanan kesukaan : Daging


Status: Raja Serigala


Pasangan: Leana atau alias Stephanie


Nama orang tua: Aurellia Kathleen Alter (Ibu) dan Alcander Conary Alter (Bapak).