
Sudah tiga hari berlalu, Stephanie mencoba membuka mata perlahan-lahan.
“Richard..” Richard memegang tanganku.
“Iya?”
“Bisakah kamu membantuku?”
“Aku akan membantumu.”
“Tolong jagalah, bibi dan temanku bernama Bianca.” Suara Stepahanie sudah terengah-engah.
Richard belum menanyakan secara detail. Sekonyong-konyong, pintu kamar terdobrak oleh Lucas yang membawa botol ramuan berwarna biru.
“Stephanie, teguklah ramuan ini. Sebelum biru-biru menyerang tubuhmu.” Richard memberikan jalan untuk Lucas memberikan ramuan itu kepadaku. Aku meneguk habis ramuan dan cahaya terang itu mengangkat dengan mengelilingi diriku.
Aku diturunkan lagi oleh cahaya itu untuk berdiri. Hampir saja aku terjatuh, dua orang laki-laki ini memegang kedua tanganku. Setelah tubuhku telah seimbang, mereka melepas tanganku dengan malu-malu.
“Hey, kalian tidak usah malu. Hahahaha.”
Sekarang giliran mereka yang pipinya tersipu malu.
“Terima kasih atas bantuan kalian. Aku sudah diselamatkan.”
“Sama-sama.” Mereka mengatakannya dengan serempak.
Aku melangkahkan kaki terlebih dahulu keluar dari kamar itu. Aku memberhentikan langkahku di pintu itu dan membalikkan badanku.
“Maukah kalian membantuku?”
Mereka menganggukan kepalanya.
“Ok. Jadi, selama tiga hari itu, aku telah diberitahu oleh bayangan hitam itu akan terjadi pada penyandraan kepada bibi dan Bianca.” Aku tidak melanjutkan oleh siapa bibi dan bianca akan disandera. Aku tidak ingin situasi tambah runyam.
Aku mengetahui bahwa kaum vampire dan kaum serigala adalah musuh bebuyutan. Aku tidak ingin melihat Richard terluka lagi. Tanpa sadar, aku telah menatap Richard selama sepuluh detik.
“Hm…Apa yang akan kami lakukan untuk membantumu.” Lucas yang memecahkan keheningan sepuluh detik itu.
“Yap, Aku ingin kalian tidak membantuku, jangan mengkhawatirkanku, dan terakhir aku ingin balik untuk mengawasi bibiku dan temanku.”
“APA?!” Mereka tersentak keheranan aku mengatakan hal itu.
“Apa kamu sudah tidak waras? Ini penyanderaan akan berbahaya bila satu orang saja yang akan menanggung itu. Kamu tidak menghargai nyawamu sendiri.”
“Aku sudah kehilangan orang tuaku. Apakah aku harus melindungi diri sendiri meskipun ada nyawa orang yang bisa diselamatkan?! Aku lebih baik merelakan nyawaku daripada nyawa orang lain menjadi taruhannya. Aku akan mencoba sekuat tenagaku.”
Lucas pergi dengan rasa kesal dan mengatakan ini.
“Terserah kamulah! Aku tidak peduli. Tanyakan saja pada Richard. Apa pendapatnya dia?”
Richard memegang tanganku.
“Apakah kau yakin tentang yang kamu ucapkan itu?” Aku sedikit ragu setelah ditanyakan keyakinanku olehnya.
“Tidak terlalu yakin tapi aku akan mencoba menolong orang-orang yang kusayangi.”
“Aku akan mendukungmu apapun itu.” Ia pergi seraya mengacak-ngacak rambutku ini. Lalu, aku berdiam diri disana dan memegang rambut yang telah dipegang oleh Richard.
“Ayolah, Lucas. Kita harus mendukungnya.” Richard meneriaki Lucas dan berlari ke arahnya.
“Aku tidak dengar.” Lucas menutup kedua telinganya menggunakan tangan.
Hari telah menjelang sore, aku diantar oleh Richard ke rumahku menggunakan mobilnya. Selama perjalanan, kami tidak berbincang satu sama lain. Mungkin, kami saling mengkhawatirkan satu sama lain. Aku mengkhawatirkannya sedangkan dia mengkhawatirkanku.
Kami telah sampai di rumahku. Aku turun duluan dari mobil Richard dan membuka pintu gerbang rumahku.
“Stephanie,…” Aku memutar badanku dan mendapatkan Richard sudah turun dari mobil. Dia bergerak mendekatiku.
“Jagalah dirimu baik-baik. Telepon aku jika kamu dalam bahaya. Aku akan selalu datang untukmu.” Lalu, dia mencium pipiku dan memasuki mobilnya lagi.
“Selamat tinggal, Stephanie.” Sesudah itu, aku menutup gerbangku dan berdiam diri di balik gerbang rumahku.
‘Selamat tinggal, Richard.’ Aku menangisi diriku sendiri yang sebenarnya tidak mampu melakukan sendiri.
“Ah sadarlah, Stephanie.” Aku menghapus air mata di wajahku sendiri.
“Ayo kita fokus untuk ke bibi dan bianca. Aku tidak ingin mereka terluka.”
Sudah seminggu, aku mengawasi bibi dan bianca mulai dari sekolah, café punya bibi, dan rumah bibi. Aku tidak melihat ada kejanggalan disana.
Aku merebahkan diriku di tempat tidurku.