
\~PRANG!!\~
Kali ini, hanya suara pecahan kaca yang membuatku ketakutan untuk membuka mataku. Setelah aku anggap tenang, aku memberanikan diriku untuk bangun dan memanggilnya.
“Richard...”
Aku melihat pecahan kaca dan bercak darah di dekatnya. Aku memberanikan diri untuk mendekatinya.
“Kenapa ada pecahan kaca dan bercak darah ini?”
“Tidak ada apa-apa. Nanti akan dibereskan oleh pelayanku. Jangan melangkahkan kakimu kesini.”
Aku tetap melangkahkan kakiku ke arahnya. Aku bisa merasakan kakiku mulai berdarah.
“Stop disana! Jangan melanjutkan itu! Kakimu sudah berdarah!”
Aku tidak mau mendengarkannya. Seusai melewati itu, aku memegang erat tangannya.
“Aku tidak merasa keberatan untuk hidup disampingmu.” Aku mencoba meyakinkannya. Tindakanku berikutnya adalah memeluknya. Dia membalas pelukanku. Lalu, aku digendong oleh dia. Aku ditempatkan di tepi ranjangnya.
“Mau lihat yang spesial?”
“Hm, iya.”
Dia mengambil pecahan kaca dan mengiris pergelangan tangannya. Darah yang keluar itu diarahkan ke kedua kakiku yang terluka. Aku menyaksikan luka pada kakiku mulai hilang.
“Wow.” Aku tercengang kecil melihat kejadian itu.
“Spesialkan?”
“Iya!”
Aku mengagumi kakiku yang sudah bersih dari luka.
“Rachel..” Dia menggenggam kedua tanganku dan menyuruhku untuk mengahadap ke arahnya.
“Stephanie,…”
“Nah, itu baru benar.”
“Hahaha..”
“Ada apa, Richard?”
“Aku sudah membuatkanmu dua keputusan. Kamu harus memilih diantara kedua putusan ini.” Aku menganggukan kepalaku saja.
“Keputusan pertama adalah kamu boleh menjauhiku dan aku tidak akan mengejarmu lagi. Keputusan ini juga, aku akan menghapus memorimu tentang diriku. Kamu akan bebas.”
“Lalu, keputusan kedua?”
“Keputusan kedua adalah…” Dia kelihatan ragu untuk mengatakannya kepadaku karena dia melihat luka yang berada leherku.
“Tidak apa-apa, aku akan memilihnya. Apa keputusan kedua?” Aku memastikan dirinya bahwa aku tidak apa-apa.
“Richard, bisakah aku diberikan waktu untuk memilihnya?”
“Tenang saja, aku akan menunggumu dan menerima semua keputusanmu.”
Richard meninggalkanku di kamarnya. Aku menundukkan kepalaku untuk berpikir sejenak.
‘Keputusan-keputusan ini membuatku frustasi. Keputusan pertama, aku akan terbebas darinya tetapi membuatku tidak merasa aman dan nyaman seperti didekatnya. Keputusan kedua, aku akan merelakan meninggalkan bibiku, pamanku dan meninggalkan wasiat untuk melanjutkan bisnis papaku.’ Aku mengacak-ngacak rambutku.
“Ah, pusing!”
Tok-tok
Dia memasuki ruangan kamarnya dengan membawakan pelayannya untuk membersihkan serpihan-serpihan kaca itu.
“Richard.. Bisakah aku bertanya kepadamu?”
“Bisa.” Dia kembali mendekatiku dan membiarkan pelayannya membersihkan kamarnya.
“Jika, aku memilih keputusan yang kedua, Masih bolehkah aku menjenguk bibi, pamanku, dan mengawasi bisnis ayahku karena itu wasiat dari papaku?”
Dia tersenyum ke arahku.
“Boleh. Aku juga membebaskanmu untuk memilih kapan kamu mau berubah menjadi sama seperti diriku. Oh, iya, apakah kamu sudah tahu makhluk macam apa diriku?”
“Sudah. Setelah melihat dirimu kemarin, mengingat umurmu, dan informasi kecil dari pelayamu. Aku mendapatkan jawabannya. Kamu adalah vampire. Aku tidak merasa takut dekat denganmu.” Jawabanku terasa tenang dari hati terdalam.
Dia mencium keningku.
“Iya, kamu betul.” Pipiku mulai memerah lagi.
“Hhahaha, pipimu kenapa memerah lagi?”
“Tidak merah.” Aku memalingkan pandanganku dengan memegang pipiku.
‘Kenapa begini lagi, sih?!’
“Benarkah?”
“HMMM..”
“Kamu harus bisa membiasakannya tentang tadi. Bila kamu memilih keputusan yang kedua.” Mendengar jawabannya, membuatku menjadi patung dalam sekejap.
Hari semakin malam, aku dipindahkan ke kamarku yang berada di kastilnya. Aku memperbaiki posisi bantalku dan menarikkan selimut untuk menghangatkan badanku.
“Selamat malam, Stephanie.” Ia meninggalkan kamar ini.
Setelah dia keluar, aku menarik lagi selimutku sampai menutupi kepalaku. Disanalah, aku menangis lagi.
“Pa, ma, apa yang harus kuputuskan? Aku terlalu takut memilih keputusan ini. Apakah keputusanku akan benar? Ma, pa, tolong aku.’ Aku tertidur dalam larutnya kesedihan dan ketakutanku dalam selimut tebal.