
Alardo balik lagi ke istana dengan tatapan sedih.
Lucas bertanya, “Bagaimana, Alardo? Apakah kamu membawa papa dari perempuan itu?” Alardo menggelengkan kepalanya.
“Ya sudah, sekarang kamu istirahat terlebih dahulu.”
“Paman, dimana dia sekarang? Apakah dia masih tak sadarkan diri?”
“Iya, dia masih tidak sadar. Dia berada di kamar tengah. Apakah kamu mau melihatnya, Alardo? “
“Hmm, iya, paman.” Alardo mulai langkah demi langkah. Tanpa disadari, satu per satu ruangan sudah dia lewati hingga di depan pintu kamar
itu. Alardo membuka pintu lalu duduk disamping ranjang itu. Dia mengambil tangan Grizelle serta menitihkan air matanya di atas telapak tangan Grizelle.
Alardo meminta maaf sesambil sesegukan, “Maafkan aku, aku sudah terlambat. Aku tidak bisa membawa ayahmu.” Sesudah itu, Alardo keluar dan kembali ke kamarnya di istana Lucas. Dia merebahkan tubuhnya di ranjang
miliknya sampai masuk ke alam bawah sadarnya.
Akan tetapi, Grizelle terbangun dan menyadari bahwa Alardo tadi menangis di tangannya. Dia membulatkan tekadnya untuk pergi dari istana
itu. Grizelle menutupi wajahnya agar tidak dikenali oleh orang-orang istana. Sesampai cukup jauh dari istana, Grizelle membalikkan badannya lalu memandangi istana Lucas, “Maafkan aku, Alardo.” Grizelle melanjutkan perjalannya entah kemana.
Keesokan harinya, seluruh istana sudah disibukkan mencari keberadaan Grizelle. Tapi tetap saja hasilnya nihil. “Sudahlah Alardo, relakan dia pergi. Suatu saat nanti kamu akan bertemu lagi dengannya. Papa yakini itu.”
“Tapi pa….”
“Sudahlah, ayo pamit ke paman sebelum kita balik ke istana.”
“Iya deh, pa.”
Richard, Stephanie, dan Alardo menghampiri Lucas karena waktunya balik ke istana mereka. Akan tetapi, Lucas menahan kepulangann mereka dan membicarakan suatu permasalahan.
Keesokan harinya, mereka semua kecuali bianca mendatangi rumah milik Terry. Lucas memencet belnya. Saat Terry melihat ada Raja Richard, dia langsung tersungkur sujud di depannya. Air mata haru Terry sudah jatuh ke
bawah.
“Tidak perlu seperti ini. Bangunlah…”
“Iya, tuan.” Terry menghapus air matanya.
“Bolehkah kami masuk kedalam?”
“Oh iya-iya, silakan, tuan. Mari duduk terlebih dahulu di sofa. Akan saya panggilkan anak-anak serta istri saya dulu.”
Mereka di sofa itu dan menunggu serta melihat keadaan di dalam rumah itu sangat gelap. Semua jendela tertutup tirai tanpa ada cahaya
sedikitpun yang masuk.
5 menit telah berlalu, Terry membawa istri dan anak-anaknya ke hadapan mereka semua. Istrinya dan anak perempuannya memberi hormat ke mereka kecuali anak laki-lakinya. Dia lebih memilih memalingkan wajahnya ke
tempat lain. Papanya memaksa Jade untuk menunduk hormat.
“Siapa nama kalian?”
“Nama saya Arabella, tuan. Ini anak perempuan kami yang bernama Jessica dan anak laki-laki kami yang bernama Jade.”
“Oh ok, kedatangan kami disini untuk melihat keadaan Jessica. Bisakah kamu berdiri di dekat jendela itu?” Jessica berjalan menuju
jendela itu dan disaat bersamaan Richard juga menuju jendela juga.
“Coba ulurkan tanganmu.”
Richard membuka tirai sedikit sehingga cahaya matahari mengenai tangan Jessica. Ternyata benar, tangan Jessica memerah dan sedikit
terbakar. Jessica menahan rasa sakit itu. Richard langsung menutup tirainya
kembali.
“Kami disini bisa membantu menyembuhkan Jessica. Sebelum itu, kami ingin memperkenalkan diri kami juga. Yang kalian bisa tau, saya adalah Richard atau Raja Vampire yang ke 5.”
Lucas berdiri dan memperkenalkan dirinya, “Saya adalah Lucas atau Raja Penyihir.”
Lalu, Stephanie memperkenalkan dirinya, “Saya adalah Stephanie, Istri dari Richard. Saya vampire dan juga penyihir.” Setelah itu, Frederra memperkenalkan dirinya, “Saya adalah Frederra, bibi dari Stephanie. Saya seorang penyihir selatan.”
Terakhir, Alardo memperkenalkan dirinya, “Saya Alardo, Anak dari Raja Richard dan Ratu Stephanie. Saya juga seorang vampire sekaligus penyihir.”
“Terima kasih atas bantuan kalian
semua. Kami semua akan siap jika tuan dan nyonya memerluka kami.”
“Tidak perlu sungkan begitu, Terry. Kami akan melakukan ritual penyembuhannya sekarang. Adakah ruang kosong untuk melakukan ritual kami?”
“Ada-ada, tuan.”
Setelah itu, mereka menyiapkan ritual terlebih dahulu. Barulah, Jessica memasuki Ruangan itu. Ritual itu membuat Jessica pingsan tidak sadarkan diri. Jessica diangkat dan dibawa ke
kamarnya oleh papanya. Mereka menunggu sampai Jessica sadar.
Jessica pun sadar setelah empat jam telah berlalu. Mereka mengetes apakah Jessica sudah bisa bertahan di dekat cahaya matahari. Ternyata, Jessica sudah bisa bertahan di bawah matahari tetapi matanya masih berwarna merah.
“Permasalahan matanya akan diobati
secara berkelanjutan dengan obat yang akan kami kirim setiap minggunya.”
“Terima kasih banyak, tuan raja.”
Sehabis itu, mereka kembali pulang ke istana masing-masing.
Tidak terasa waktu telah berjalan
cepat, empat hari lagi peperangan bulan
purnama akan di mulai. Akhirnya, Richard mengijinkan Alardo untuk ikut perang
tidak keberatan dan dengan senang hati menerima tawaran itu.
Richard ingin mengajak Alardo
berkeliling istana. Disela-sela perjalanan mereka ada perbincangan yang sedikit
serius dan membuat Alardo terheran. Sehingga, mereka memberhentikan
perjalanannya dan mulai berbincang.
“Alardo, apa pendapatmu tentang
istana ini? Jika kamu jadi raja, kamu ingin jadi raja seperti apa?”
“Hmm, istana ini cukup besar dan
kokoh. Aku hanya ingin membuat ketentraman di dunia ini antar vampire,
penyihir, serigala, dan manusia.”
“Ada lagi ?”
“Tidak ada lagi, kenapa papa
bertanya seperti itu?”
“Tidak apa-apa, suatu saat kamu
akan memiliki istana ini dan membuatmu menjadi raja. Papa hanya penasaran saja.
Jadi, jika papa sudah tidak ada disini, papa akan percaya sepenuhnya ke kamu.
Terima kasih kamu sudah menjadi anak papa ya, Alardo.”
Alardo tidak mengerti maksud dari
papanya itu. “Ayo, kita ke lantai bawah tanah. Papa lagi ingin menghabiskan
bersamamu.” Di bawah tanah, Alardo dan papanya meminum darah bersama dari
kantong darah. Alardo meminum darah tipe O dan Richard memilih tipe AB. Suasana
hening mendatangi mereka saat meminum darah.
Hari pertarunganpun tiba, Semua
vampire udah siap sedia di depan istana sedangkan Jade, saudara kembar Jessica,
disuruh tetap di dalam istana bersama pelayan-pelayan manusia lainnya. Tanpa
perhiungan, Serigala menyerang langsung ke arah istana vampire.
Seusai peperangan, Alardo mencari
kedua orang tuanya. Alardo melihat papa-mamanya sudah terkena luka yang cukup
serius dan sedang sekarat.Disaat waktu bersamaan, Jade juga mencari kedua orang tuanya dan juga
saurada kembarnya. Jade menemukan papa-mamanya serta saudara perempuannya sudah
sekarat juga. Mereka semua terkena tusukan racun serigala di jantung. Peluang
mereka semua untuk tetap hidup sangat kecil sekali.
Di sisa-sisa tenaga papa Alardo
memberitahu rahasia kepada Alardo, “Alardo, se-se-benarnya..” kalimatnya terpotong
karena Richard mengeluarkan darah cukup banyak dari mulutnya. “Su-sudah, jangan
dilanjutkan, pa. Pa, tetaplah diam sebentar dan tetaplah hidup, pa. ” Alardo
mengeluarkan sihir penyembuhan sambil menangis.
“Tidak, papa ti-tidak a-apa-apa.
Maafkan papa, sebenarnya papa kandung itu adalah raja serigala itu.”
“APA, PA?!”
“Maafkan mama juga ya, A-Alardo.
Kami telah berbohong dan menyembunyikanmu.” Mamanya memegang wajah Alardo
dengan tangan yang sudah dilumuri darah. “Ka-kami hanya ingin kamu selamat.
Mama sayang Alardo.” Tangan mamanya tergeletak dan mata mamanya sudah tertutup
untuk selamanya.
Papanya juga mengatakan, “Papa
sayang Alardo.” Seetelah itu, papanya juga ikut pergi bersama mamanya.
“Tidak-tidak-tidak, TIDAK!!!!!”
Semua yang gugur menghilang menjadi abu lalu menghilang di tiup angin.
^maaf keterlambatan update karena lagi sibuk ujian masuk perguruan tinggi negeri lagi. Terima kasih masih mau membaca novel ini 😊.^