My Reincarnation and My Reincarnation 2

My Reincarnation and My Reincarnation 2
Berlatih (5)



Enam bulan kemudian...


Aku telah melewati enam bulan lamanya untuk berlatih kemampuanku. Sekarang aku sudah bisa mengendalikan kemampuanku. Sihirku sudah ada dua yaitu yang seperti Lucas dan sihir hitamku.


Aku juga sudah cukup bisa mengendalikan rasa hausku terhadap darah. Aku hanya meminum satu kantung darah dalam satu minggu. Itu lebih sedikit daripada Richard. Richard meminum darah sekitar 3 kantung darah dalam seminggu. Mungkin dikarenakan dia adalah keturunan murni. Aku sudah bisa mendengar jarak jauh serta melihat objek yang jarak jauh. Akan tetapi, aku belum bisa membaca pikiran orang lain seperti yang lain.


Di saat matahari mulai terbenam, aku bersama Richard berbincang-bincang di halaman belakang lagi.


“Steph, ada yang harus ku bicarakan denganmu. Ini sangat serius.” Kami saling berhadap-hadapan seraya dia memegang tangan kananku. Tiba-tiba, dia bertengkuk lutut di depanku dan mengambil sebuah kotak kecil berwarna biru dari saku celananya.


“Steph, aku sudah menghabiskan waktu denganmu dalam jangka waktu yang cukup lama. Menurutku aku sudah cukup mengenal dirimu seutuhnya. Aku juga lebih ingin melindungi, menjagaimu, dan terutama aku ingin lebih mencintaimu untuk selamanya. Apa kamu mau menikahi ku?” Dia membuka kotak itu yang berisikan cincin berlian. Aku terkejut melihat sehingga membuatku terharu dengan melihatnya.


“Apa kamu menolaknya, Steph?” Dia menundukkan kepalanya dengan rasa kecewa.


“Richard...” Suaraku membuat kepalanya menengadah ke atas lagi.


“Aku mau bersamamu dalam waktu selamanya dan aku menerimanya,” lanjutku kepadanya. Sekarang, di wajahnya terlukiskan kebahagiaan yang terindah. Dia memasangkan cincin itu ke jari manisku.


“Besok aku akan mempunyai kejutan lagi untukmu.” Lalu, aku langsung memeluknya dengan erat. Dari belakang kami terdengar suara siulan dan tepuk tangan dari seseorang yaitu Lucas. Sesudah ia mendekat dengan kami, dia berdeham di depan kami.


“Jadi kalian akan terikat janji suci pernikahan?” Aku mengangguk serta tersenyum malu kepada Lucas. Dia memberikan selamat sekaligus berjabat tangan dengan kami berdua.


Saat malam hari, aku meminta Richard untuk menemaniku tidur. Seperti biasa, dia duduk di samping ranjangku. Disini, Richard bertanya satu hal.


“Steph, apa kamu yakin untuk membalaskan dendam kepada raja serigala itu?”


“Entahlah, aku masih belum yakin. Apa aku menguburkan niatku untuk selamanya atau aku mengurungkan niatku untuk sementara,” pungkasku.


“Ok, aku akan menunggunya. Oh iya, Steph, ini sudah enam bulan telah berlalu dan kita melewati enam kali bulan purnama. Mengapa raja serigala tidak menyerang istana ya, Steph?”


“Mungkin kekuatan mereka belum pulih karena sihirku. Ya sudahlah, anggap saja mereka memberikan libur setelah apa yang mereka telah perbuat kepada kita berdua.” Richard menjawabnya dengan anggukkan kepalanya.


“Richard, aku ingin memelukmu saat aku tertidur. Bolehkah?”


Pagi hari, aku terbangun dan aku tidak mendapati Richard.


‘Dimana, Richard?’ Aku bangun seraya langsung mencari Richard ke seluruh ruangan istana.


Ternyata, Richard berada di depan gerbang seperti mau menyambut seseorang. Aku tidak akan bertanya siapa orang yang akan dia tunggu. Tanpa berpikir panjang, aku langsung memutuskan untuk berdiri di sampingnya dengan masih memakai baju piyama. Richard sedikit terkejut dengan kehadiranku.


“Apa yang kamu lakukan disini, Steph?”


“Aku hanya ingin mengikutimu saja.” Beberapa menit kemudian, mobil Richard datang dengan membawa dua orang yang mungkin sudah ku kenal di dalamnya.


Pintu mobil itu terbuka, Bianca berlari ke arahku dengan membawa secarik kertas di tangannya dan memelukku yang penuh rasa bahagia.


“Stephanie, aku sudah lulus sekolah.”


“Wihh, selamat ya, Bianca.” Aku mencoba melepaskan pelukan itu karena risih. Akhirnya, Bibi pun menyusul keluar dari mobil itu dengan membawa secarik kertas juga. Bibi melambai-lambaikan kertas itu kepadaku.


Bibi mendekatiku dan mengucapkan selamat kepadaku.


“Selamat ya, Steph. Kamu juga lulus.”


“Kok bisa, Bi? Padahal aku beberapa bulan ini tidak menghadiri kelas.”


“Dikarenakan selama dua tahun terakhir kamu selalu mendapat nilai terbaik dan menjadi murid teladan di sekolah. Maka, sekolah memberikan pengecualian kepadamu. Mereka memberikan surat kelulusan untukmu juga.” Setelah aku mendengarnya, aku langsung memeluk bibi dengan rasa bahagia sekaligus bangga kepada diriku sendiri. Aku memeluk lagi Bianca dengan senang.


Setelah berselang lama, Lucas baru keluar dari istana menuju ke kami.


“Apa yang terjadi?” Dia bertanya karena bingung. Bianca berlari ke arahnya dan memeluknya. Aku mendengarkan mereka dengan jarak yang cukup jauh. Bianca memberitahukan ke Lucas bahwa dia sudah lulus sekolah serta dia sudah meminta izin ke orang tuanya untuk tinggal dengan Lucas. Lucas pun memancarkan wajah senang dan membalas pelukannya.


“Baiklah, Bianca,” jawab Lucas kepada Bianca.


“Aku telah berusaha dan berjuang. Walaupun keberhasilan perlu diusahakan dengan penuh perjuangan. Akan tetapi, hasil usahaku akan terbayarkan dengan keberhasilanku yang bisa kunikmati sekarang. Perjuangan tidak akan mengkhianati hasilnya.”