My Reincarnation and My Reincarnation 2

My Reincarnation and My Reincarnation 2
Richard III (1)



“Richard...” Dia berjalan mendekatiku dengan rasa penuh heran.


“Kenapa ada pecahan kaca dan bercak darah ini?”


Aku menjawab dengan panik agar dia tidak semakin mendekati kaca ini.


“Tidak ada apa-apa. Nanti akan dibereskan oleh pelayanku. Jangan melangkahkan kakimu kesini.”


Dia semakin mendekatiku menuju pecahan-pecahan kaca yang bertebaran. Aku melihat kakinya sudah berdarah dan aku meneriakinya supaya tidak mendekatiku.


“Stop disana! Jangan melanjutkan itu! Kakimu sudah mulai berdarah!” Akan tetapi, dia tidak mendengarkan semua ucapanku. Aku membatin sendiri.


‘Keras kepala kamu, Stephanie. Kamu semakin mirip dengan Rachel.’


Tangannya memegang tanganku yang sudah sampai dihadapanku.


“Aku tidak merasa keberatan untuk hidup bersamamu.” Dia mencoba meyakinkanku dan memelukku. Aku sempat ragu membalas pelukannya lagi tapi akhirnya aku memeluknya kembali.


‘Aku takut kehilanganmu lagi, Stephanie. Aku takut kehilangan seperti dahulu.’


Tiba-tiba, aku mempunyai ide untuk menyembuhkan kakinya menggunakan darahku. Hari ini, layak dipertimbangkan untuk memberikannya dua pilihan yang menentukan hidupnya. Lalu, aku menggendongnya ke tepi ranjangku.


“Mau lihat yang spesial?”


“Hm, iya.”


Aku membersihkan pecahan-pecahan kaca yang sudah ada yang tertancap dikakinya. Setelah itu, aku mengambil pecahan kaca yang berada didekatku dan mengiris pergelangan tanganku. Darahku yang keluar kuarahkan ke kedua kakinya yang terluka. Dia melihat luka-lukanya tertutup seperti semula.


“Wow.”


“Spesialkan?”


“Iya!” Dia sangat bersemangat sekali dan merasa terkagum-kagum dengan hal tadi.


‘Ini saatnya untuk mengatakan kepadanya.’ Lalu, aku langsung mengambil kedua tangannya.


“Rachel.”


‘Aduh aku salah lagi.’ Aku memikirkan kesalahan pengucapan nama orang,


“Stephanie…”


“Nah, itu baru benar.”


“Hahaha..” Aku hanya bisa tertawa karena ia membenarkan namanya sendiri.


“Ada apa, Richard?” Dia bertanya dengan kebingungan.


“Aku sudah membuatkanmu dua keputusan. Kamu harus memilih diantara kedua keputusan ini.” Dia hanya menganggukan perkataanku tadi.


“Keputusan pertama adalah kamu boleh menjauhiku dan aku tidak akan mengejarmu lagi. Keputusan ini juga, aku akan menghapus memori tentang diriku. Kamu akan bebas.” Rasanya dia tidak akan memilih keputusan ini dan menanyakan keputusan yang kedua.


“Lalu, keputusan kedua?”


“Keputusan kedua adalah….” Aku mempunyai rasa ragu untuk memberitahu tentang keputusan kedua. Aku memalingkan pandanganku kearah bekas gigitanku yang berada di lehernya.


‘Aku takut kamu memilih keputusan kedua, Stephanie. Aku takut melukaimu.’ Dia meyakinkanku untuk memberikan keputusan kedua.


“Tidak apa-apa, aku akan memilihnya. Apa keputusan kedua?”


“Richard, bisakah aku diberikan waktu untuk memilih?”


“Tenang saja, aku akan menunggumu dan menerima semua keputusanmu.”


Aku meninggalkannya seorang diri di kamarku. Diluar, aku sudah memegang dinding lorong dengan satu tanganku.


‘Maafkan aku sudah memberikan keputusan yang sulit untukmu.’ Hatiku terasa sakit melihatnya merenungkan keputusan yang kuberikan. Pelayanku menghampiriku.


“Apa tuan baik-baik saja?”


“Iya, aku baik-baik saja.” Aku menegakkan badanku kembali agar wibawaku tidak jatuh di depan pelayanku.


“Tolong bersihkan kamar saya.”


“Baik, tuan.” Dia pergi untuk mengambil alat-alat pembersih. Hanya beberapa menit, dia kembali dengan membawanya.


“Ayo, masuk.” Sebelum aku masuk, aku melihat dia berteriak sendiri di balik pintuku.


Aku dan pelayanku berjalan mendekati pecahan kaca itu. Aku memastikan pelayanku agar lantai-lantai ini bersih dari pecahan-pecahan kaca itu karena takut melihatnya terluka lagi.


“Richard.. Bisakah aku bertanya kepadamu?” Dia memecahkan keheningan ini.


“Bisa.” Aku berjalan kearahnya dan meninggalkan pelayanku.


“Jika, aku memilih keputusan yang kedua, masih bolehkah aku menjenguk bibi, pamanku, dan mengawasi bisnis papaku karena itu wasiat dari papaku?”


Mendengar pertanyaan itu, aku hanya bisa tersenyum kepadanya.


“Boleh. Aku juga membebaskan untuk memilih kapan kamu mau berubah seperti diriku. Oh, iya, apakah kamu sudah tahu makhluk macam apa diriku?”


‘Akukan belum kasih tau identitasku.’


“Sudah. Setelah melihat dirimu kemarin, mengingat umurmu, dan informasi kecil dari pelayanmu.Aku mendapatkan jawabannya. Kamu adalah vampire.Aku tidak merasa takut dekat denganmu.”


Mendengar jawabannya, aku mencium keningnya lagi.


“Iya, kamu betul.” Aku memandang wajahnya yang pipinya sudah memerah.


“Hhahaha, pipimu kenapa memerah lagi?” Dia membantahnya dan memalingkan wajahnya kearah lain.


“Tidak, merah.” Aku membaca pikirannya yang sekarang. Aku dapat tertawa dalam hatiku.


“Benarkah?” Aku menanyakan kembali.


“HMMM.” Dia terlihat marah di depanku.


“Kamu harus bisa membiasakannya tentang tadi. Bila kamu memilih keputusan yang kedua.” Jawabanku membuatnya terpatung di tempat.


Malam semakin larut, aku menemani Stephanie ke kamarnya yang berada di kastilku. Aku melihat Stephanie merapikan diri untuk tidur. Setelah kurasa selesai, aku mendekati arah keluar dan berbalik badan untuk mengatakan selamat malam kepadanya.


“Selamat malam, Stephanie.” Setelah mengucapkan itu, aku meninggalkannya. Belum jauh dari kamarnya, aku mendengar tangisan dari kamarnya yang membuatku berhenti di depan kamarnya. Aku duduk di depan kamarnya dan memikirkan sesuatu tentangnya.


‘Keputusan yang kamu buat adalah janji kepada diriku sendiri untuk melindungimu. Sekarang, aku mendengar tangisanmu. Apakah kamu menyesal atas keputusanmu, Stephanie? Aku akan menunggu disini sampai tangisanmu berhenti.’


Aku mendengarkan setiap tangisan di dalam kamarnya. Butuh setengah jam untuk meninggalkan kamarnya.