My Reincarnation and My Reincarnation 2

My Reincarnation and My Reincarnation 2
Richard V (2)



“Ok, Frederra. Aku akan mengatakan sejujurnya kepadamu karena kamu sudah disini. Aku akan mengubah Stephanie menjadi sepertiku tapi aku membutuhkan ramuan ini untuk menyegel kekuatannya.”


Lalu, Lucas menyambungkan kalimatku dengan tiba-tiba. “Tapi efek ramuan itu adalah meninggal.”


“APA?!” Aku dan Frederra langsung tersontak mendengar itu.


“Kenapa kamu tidak kasih tau aku, Luc?” Aku mengeratkan tanganku pada kerah baju Lucas.


“Apa meninggal? Stephanie akan meninggal?” Frederra mulai menangis dan menutupi wajahnya dengan tangannya sendiri.


“Bukankah menggunakan darahmu Stephanie akan menjadi sepertimu, Richard? Berarti ramuan ini sangat cocok untuk Stephanie.” Aku melepaskan eratan tanganku dan berpikir untuk mencari jawaban lain.


“Tapi aku hanya membuat Stephanie setengah Vampire dan bukan sepenuhnya, Lucas.”


“Terus mengapa kamu ingin menyegel kekuatannya? Ah?!”


“Karena aku ingin dia bisa hidup normal tanpa ada kekhawatiran karena kekuatannya. Walaupun tidak terlalu normal karena setengah dari dirinya sepertiku.”


Frederra memisahkan kami dari perdebatan ini.


“Sudah-sudah. Apapun yang kalian lakukan jika memang itu hal yang terbaik bagi kalian dan baginya, aku akan melepaskannya dengan sepenuhnya.”


Setelah mendengar hal itu, kami terhening hanya beberapa saat. Lalu, aku mencoba meyakinkan Frederra untuk terakhir kalinya.


‘Senyuman palsu itu. Mengapa semua manusia melakukan senyuman palsu itu? Aku tau Frederra kamu pasti tidak akan merelakannya. Walaupun wajahmu mengatakan tidak apa-apa tapi hatimu hancur.’ Mungkin sekarang Lucas mendengar isi pikiranku. Dia hanya terdiam tanpa pergerakan sedikitpun.


“Mungkin aku akan melihat Stephanie untuk terakhir kalinya sebelum rencana besok dilaksanakan.” Frederra langsung meninggalkan kami berdua.


“Siap-siap dua hari lagi kamu harus menahan dahaga dari Stephanie.” Lucas menepuk-nepuk pundak kiriku untuk bersabar.


Aku keluar meninggalkan Lucas dengan memasukan botol ramuan kecil itu dan menuju ke kamarku yang mungkin tidak terlalu jauh. Sepanjang jalan menuju kamarku, aku selalu berargumen pada diri sendiri.


‘Apa aku bisa mengajari Stephanie untuk bisa menahan dahaga terhadap darah? Butuh berapa tahun untuk mengajarinya? Seingat diriku, Rachel baru bisa menahan dahaga terhadap darah manusia selama 100 tahun. Walaupun di istana ini memang hanya menyediakan darah manusia. Kami bisa menyimpan darah manusia karena kami membelinya dari penjual darah ilegal.’ Setelah setengah perjalananku, aku terhenti di depan pintu kamar Stephanie.


‘Stephanie, perasaanku sekarang antara senang dan sedih. Aku senang bisa mengubahmu sepenuh menjadi sepertiku. Akan tetapi, aku sedih karena kamu harus meninggal sebelum menjadi sepertiku.’ Lalu dengan berat hati, aku melanjutkan langkahku lagi.


Setibanya di kamarku, aku hanya bisa duduk di sofa yang panjang. Aku hanya bisa memikirkan rencana besok.


“Mungkin hari ini, aku tidak bisa tidur.” Aku mengacak-ngacak rambutku sendiri karena pusing. Tiba-tiba pintu kamarku ada yang mengetuk. Ternyata pelayanku yang mau memberikan segelas darah untukku. Aku mengambilnya dan meminumnya tanpa tersisa sedikitpun.


“Ah, terima kasih.” Pelayan itu langsung meninggalkanku sendirian. Aku mencoba berjalan ke arah jendela.


Aku melihat banyak bintang-bintang yang berkelap-kelip di luar sana.


“Ma, pa, dan Rachel apa yang harus kulakukan? Apa yang akan kulakukan itu baik atau membuatku seperti terlalu egois. Rachel, apa kamu sependapat dengan rencana ini? Sekarang ini, aku ingin mengingat pertama kali kita bertemu, Rachel.”