My Reincarnation and My Reincarnation 2

My Reincarnation and My Reincarnation 2
Richard III (8)



Setelah pertarungan itu selesai, aku mencekik raja serigala itu.


“Apa maumu?!”


Dia terkekeh dan berkata, “Aku hanya ingin bermain saja dengan perempuan itu dan...”


Sebelum dia menjawab lebih lanjut, aku mencekiknya lebih erat lagi.


“Dan apa?!” Serta Lucas memberikan pisau beracun kepadaku. Aku sudah siap menusuknya di lehernya jika dia berbicara macam-macam.


“D-dan kamu belum tau siapa orang tuanya, kan?”


Aku tersentak sebentar mendengar kata orang tuanya. Lucas mungkin ikut tersentak juga.


“Apa maksudmu?! Cepat bicara!” Darahnya sudah keluar dari mulutnya.


“Dia adalah anak dari penyihir terkuat dari selatan. Bibinya adalah penyihir yang sudah memblokir kekuatannya sendiri dan membaur dengan manusia.” Aku melepas tanganku seraya tidak percaya apa yang telah diucapkan. Sedangkan, dia mengelus-ngelus lehernya itu.


‘Bisakah aku percaya dengannya sekarang?’


Raja serigala itu sudah membaca pikiranku.


“Kekuatannya muncul disaat kedua orang tuanya tiada dan satu lagi. Akulah yang membunuh kedua orang tuanya. Aku sengaja menyuruh adik Lucas untuk menabrakkan mobil tanpa ada yang mengendarai ke arahnya menggunakan sihir.”


“Apa?!” Lucas dan aku mengepalkan tangan kami masing-masing.


Selanjutnya, aku menatapnya dengan mata merah yang menyala. Aku berlari melewatinya dan menggoreskan lengannya dengan pisau beracun itu.


“Itu akan lebih menyakitkan daripada kau mati. Ayo Lucas, kita pergi!” Aku menjauhinya bersama Lucas dibelakangku.


Aku bisa mendengar rintihan kesakitannya dari jauh. Akan tetapi hanya berjarak 500 meter darinya, aku sudah tidak mendengar rintihannya. Mungkin, dia sudah dibawa oleh adiknya Lucas. Aku sudah tidak peduli lagi.


“Richard, bisakah kita istarahat sebentar disini?”


“Ok.” Aku memejamkan mataku sehingga warna mataku berubah normal lagi.


Kami berdiam satu sama lain untuk beberapa saat. “Maafkan aku, Richard.” Lucas membuka perbincangan terlebih dahulu.


“Untuk apa?”


“Tidak apa-apa.” Aku menggelengkan kepalaku.


Aku melanjutkan pembicaraanku, “Apakah kamu pernah ke selatan?”


“T-tidak pernah.” Dia menjawabnya dengan ragu.


Aku membaringkan tubuhku di rumput hijau itu. “Sepertinya disana damai ya, Lucas.”


“Hmm.” Dia menganggukkan kepalanya seraya tersenyum.


Aku hanya memejamkan mataku sebentar saja. Lucas pun ikut memejamkan matanya juga. Suasana ini seperti pernah kurasakan saat aku masih kecil.


Tidak terasa, aku menghabiskan waktu selama 2 jam. Aku ingin membangunkannya


tapi tanganku terasa berat. Aku hanya dapat melirik wajah Lucas yang masih terluka dan telapak tangannya yang membagikan darahnya untukku.


“Aku akan membiarkannya selama 30 menit lagi.” Meskipun jauh, aku ditemani oleh suara klakson mobil di jalan raya. Jalan yang kulewati sedikit memutar menuju pintu gerbang utama.


Setelah 30 menit berlalu, aku membangunkan Lucas. Dia membuka matanya perlahan-lahan.


“Hmm, iya? Ada apa, Richard?”


“Ayo kerumah Stephanie. Mungkin mereka sudah menunggu sedari tadi.” Dia langsung mendirikan badannya dan menawarkan tumpangan cepat.


“Pundak?”


Aku tertawa melihatnya yang sudah bugar lagi. Aku menaruh tanganku di pundaknya.


Sepersekian detik, kami telah sampai di pintu rumah Stephanie. Aku membuka pintu itu. Betapa terkejutnya diriku karena melihat Stephanie sudah di depan pintu. Dia menyambutku dengan pelukan hangat.


“Aku rindu kamu, Richard! Sangat rindu!” Stephanie meneteskan airmatanya.


“Aku juga, Stephanie.” Aku membalas pelukannya serta mengelus rambutnya.


Bibi dan temannya juga sudah terbangun jauh dibelakang Stephanie. Mereka bertiga hanya bisa tersenyum melihat kami. Mungkin sekarang, wajahku yang tersipu malu dilihat oleh mereka.


“Saat aku melihat orang terdekatku bahagia, aku pun ikut bahagia. Sedangkan, aku melihat orang terdekatku bersedih, aku akan memeluknya dan membantunya. Itu akan membuatku merasa lebih seperti manusia lagi.”