My Reincarnation and My Reincarnation 2

My Reincarnation and My Reincarnation 2
Pergi



Keesokannya, aku meminta izin kepada bibiku untuk ikut bersama Richard dan Lucas. Bibiku langsung mengizinkannya tanpa alasan yang jelas. Aku menitipkan rumahku kepada bibi dan Bianca.


“Bi, aku pergi dulu ya. Aku akan kembali lagi. Aku titip rumah ya, Bi.” Aku mengecup kening bibiku. Aku melihat wajah bibi yang menitihkan airmatanya.


“Jangan terlalu lama ya, Stephanie.” Bibi langsung memelukku dengan sangat erat.


“Tenang saja, Bi. Aku akan kembali secepatnya.” Tanpa sadar, aku juga ikut menitihkan airmataku. Sekarang giliran aku menyapa teman baikku, Bianca.


Belum aku mengucap sepatah kata, dia sudah langsung memelukku.


“Jangan pergi, Steph.” Kata-kata itu membuatku untuk tidak ingin pergi dari sini. Akan tetapi, aku sudah membulatkan tekadku untuk mengikuti Richard. Aku berpura-pura tersenyum di hadapan Bianca dan menghapus airmatanya yang sudah membasahi wajahnya.


“Aku akan kembali, Bianca. Aku berjanji.”


Dia menunjukkan jari kelingkingnya serta berkata, “janji pertemanan?” Lalu, aku membalasnya dengan melingkari kelingkingku dengan kelingkingnya.


Aku menjauhi mereka berdua dan melambaikan tanganku kepada mereka. Aku memantapkan langkahku ke arah Richard dan Lucas. Aku tidak membalikkan badanku lagi.


Saat kami keluar dari daerah rumahku, kami sudah disambut oleh mobil milik Richard. Dari dalam mobil ada seseorang yang keluar, itu adalah pelayan dari Richard.


“Tuan dan Nyonya, saya siap mengantarkan anda.” Kami bertiga masuk ke dalam mobil itu. Pelayan itu juga ikut masuk ke dalam mobil.


Aku terdiam menatapi pemandangan di luar mobil.


‘Aku sebenarnya ingin mengetahui siapa diriku.’ Tiba-tiba, Aku melontarkan pertanyaan dalam pikiranku. Aku tidak menyadari mungkin pikiranku telah dibaca oleh satu mobil ini.


Akhirnya, kami telah sampai di kerajaan Richard. Kemungkinan Lucas akan menginap disini, aku hanya menebak saja.


“Richard, aku menginap disini selama beberapa hari ya!” Lucas berkata seperti itu seraya berjalan mendahului kami.


“Kamu seperti yang punya rumah, Lucas.” Richard menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Lucas. Kemudian, Richard menawarkan tangannya kepadaku.


“Selamat datang kembali, Stephanie.” Saat aku melihat perilakunya membuat hatiku berdegup sangat kencang.


Aku menganggukkan kepalaku lagi dan menerima tangannya. Aku bergandengan dengan Richard dan memasuki kerajaannya bersama-sama.


Lucas memasuki lorong terlebih dahulu. Dia menarik napas yang sangat panjang.


“Ah, sudah berapa lama aku tidak kesini, temanku?”


“Aku tidak tahu, temanku.” Richard meledek Lucas dengan menjulurkan lidahnya. Lucas yang melihatnya sehingga dia mengejarnya karena merasa tidak terima. Sedangkan, Richard bersembunyi dibelakangku.


“Awas kau, Richard! Sini kalau kamu berani! Jangan sembunyi dibelakangnya!”


Aku melihat tingkah mereka membuatku tertawa.


‘Mereka lucu sekali.’ Seketika, mereka terkekeh.


‘Oh, iya. Aku lupa mereka bisa membaca pikiranku.’ Aku menutup wajahku dengan tangan.


Tiba-tiba, Tangan Richard mengacak-ngacak rambutku. Lalu, aku melihat mereka sudah di depanku.


“Tidak usah malu.”


“Iya, benar tidak usah malu. Tadi, kami berusaha menghiburmu. Iya kan, Richard?”


“Iya.”


Wajahku menjadi merah karena senang. Aku membalikkan badan agar tidak dilihat oleh mereka.


“Apa kamu sakit, Stephanie?” tanya Richard dengan nada merasa bersalah.


“Hahaha, dia tidak sakit, Richard. Dia hanya merasa senang.”


Lalu, kami mendengar suara teriakan dari jauh.


“Lucasss!!!!” Kami melihat Bianca berlari mendekati Lucas dengan membawa jubah Lucas.


Sesampai dekat Lucas, dia terlihat terengah-engah.


“Sebentar, aku tarik napas dulu.” Lucas memasang wajah terkejut dan juga tidak bisa berkata-kata.


“Ok, udah. Lucas, aku kesini buat antar jubahmu yang ketinggalan. Oh, iya satu lagi. Aku suka kamu, Lucas. Aku suka kamu!”


Mata Lucas terbelalak tidak percaya kepada perkaaan Bianca tadi.


Belum kami mendengar jawaban Lucas, kami mendengar suara teriakan lagi.


“Bianca! tunggu, bibi! Bibi sudah tidak muda lagi, Bianca.” Aku melihat bibi yang terengah-engah juga. Aku langsung berlari menuju bibi dan memeluknya lagi.


“Aku siap merelakan semuanya untuk hidup bersamamu. Apapun yang terjadi, aku akan tetap selalu bersamamu. Meskipun nyawaku yang jadi taruhannya. Cintaku padamu tidak akan berubah.”