
Seberkas cahaya masuk ke dalam ruangan ini, itu memaksaku membuka mata. Aku masih melihat Richard yang tertidur dalam posisi duduk. Dia tetap saja terlihat menawan walaupun sedang tertidur. Aku mengendap-ngendap keluar dari kamar karena aku tidak berani membangunkannya. Tepat di depan pintu, pelayan Richard sedang melewatiku.
“Permisi, bisakah aku bertanya kepadamu?”
“Iya, nyonya.”
“Bisakah kamu menunjukkan padaku dimana letak dapur disini?”
“Ikut saya, nyonya.”Dia langsung mengantarku sampai di depan dapur.
“Terima kasih.” Tanpa berbicara lagi, pelayan itu bertolak pergi kearah lorong lain yang gelap. Aku terpesona dengan melihat dapur ini yang sangat besar dan elegan.
‘Aku akan memasak apa ya. Lebih baik, aku terlebih dahulu melihat kulkas yang ada disini.’ Aku terkejut melihat ke dalam kulkasnya. Disana terdapat banyak bahan-bahan yang sangat segar.
‘Bagaimana disini bahannya sangat segar dan banyak. Berbeda sekali dengan kulkasku yang hanya berisi roti, telur, dan selai. Walaupun aku jarang masak, sebenarnya aku bisa tapi aku malas.’ Aku mengambil beberapa bahan dan memasaknya menjadi beberapa masakan.
Aku membutuhkan waktu dua jam untuk memasak 5 makanan. Aku menaruh di meja makan yang pernah kulihat bersama Richard saat pertama kali. Aku duduk di tempat yang sama sambil menunggu mereka terbangun seraya mengingat waktu pertama kali aku bertemu Richard.
Beberapa saat kemudian, “hayo! Lagi ngelamunin apa?” Bibiku mengejutkanku dari belakang lagi.
“Tidak ada, bibi.”
“Masa?”
“Iya, bi.” Aku meyakinkan bibiku lagi.
Bibi melihat arah meja makan yang sudah banyak makanan.
“Ini kamu yang masak?” Aku menganggukkan kepalaku dan tersenyum kepadanya. Bibi memilih duduk di samping kiriku. Setelahnya, aku melihat Bianca dan Lucas berjalan bersama kearah sini.
“Steph, apa kamu yang memasaknya?” Bianca menanyakan itu dengan keraguannya.
“Iya.”
“Bukankah kamu tidak bisa masak?”
“Bisa ga ya? Gimana nih, bibi?” Aku menjawab dengan bercanda
“Sebenarnya, dia bisa, Bianca. Tapi,....” Bibi terdiam sesaat dan melanjutkan perkataannya tadi.
“Tapi dia malas sekali. Benarkan?” Aku menganggukkan kepalaku lagi dengan ekspresi malu. Semua tertawa melihatku yang sedang malu. Tertawa kami menghilang saat Richard baru datang kesini. Dia mendekatiku dan mencium keningku lagi.
“Selamat pagi, Steph.” Mereka bertiga melihatku sambil berdeham ria. Richard duduk di sebelah kananku. Aku menahan malu dengan perilakunya terhadapku.
“Selamat pagi, semua.” Lucas terheran melihat Richard seperti itu.
“Apaan sih, Lucas! Aku baik-baik saja. Aku hanya senang,” jawab Richard dengan tegas kepada tingkah Lucas.
“Oh, aku kira kamu sakit.”
Lalu, mereka semua mencicipi makanan yang kubuat.
‘Apakah makananku tidak enak? Semua terdiam tanpa komentar.’
“Enak, Stephanie.” Richard yang mengomentari pertama kali dan diikut menganggukkan kepala mereka. Aku jadi senang bila mereka bilang seperti itu.
Seusai kami makan, kami pergi ke taman belakang istana Richard melihat pemandangan lagi.
“Aku tidak merasa bosan untuk kesini tiap hari.” Ucapanku terlontar begitu saja. Mereka tersenyum mendengarnya terutama Richard.
“Ok, nanti aku sering mengajakmu kesini, ya?” Richard mengacak-ngacak rambutku lagi.
“Hm, iya.” Aku menganggukkan kepalaku dan menghadap ke depan dengan pemandangan indah.
Kami memutuskan untuk mengobrol sebentar disini.
“Bibi, aku mau bicara denganmu.”
“Bicaralah, nak. Bibi akan mendengarkanmu.” Aku memegang tangan bibi agar meyakinkannya.
“Hmm, aku sudah memutuskan untuk menjadi seperti Richard. Apa boleh, Bi?”
Wajahnya sudah menggambarkan dia terkejut. Dia melepaskan dari eratan tanganku.
‘Apa bibi tidak menyetujuinya?’
“Apa kamu yakin, sayang?”
“Iya, Bi.” Aku memberikan senyuman paling tulus dari hatiku.
“Ya sudah, itu keputusanmu dan jalan hidupmu. Bibi hanya bisa mendukungmu dari belakang dan bibi hanya jadi pengganti orang tuamu.” Bibi mengambil tanganku dan mengelus wajahku. Aku sudah tidak bisa menahan air mataku.
“Oh, sayang, jangan menangis. Nanti wajah cantik hilang.” Bibi mengusap airmata yang ada di wajahku.
Mereka bertiga yang melihatku tertawa karena mungkin aku terlalu cengeng.
“Kasih sayang yang kuterima sekarang lebih dari cukup. Aku ingin airmataku sekarang menjadi yang terakhir. Airmataku ini menggambarkan kebahagian tersendiri.”