My Reincarnation and My Reincarnation 2

My Reincarnation and My Reincarnation 2
Kesempurnaan (1)



Author’s POV


Fajar telah menyingsing, Richard mendengar kabar bahwa Stephanie sudah siuman dari tidur panjangnya. Richard kembali memeluk Stephanie kembali. Stephanie sudah tidak bisa membendung air matanya dalam pelukan Richard.


Mulut mereka tidak saling berbicara akan tetapi hati dan pikiran mereka seakan-akan berbicara. Kerinduan dan kesedihan mereka sudah tercampur aduk dengan air mata yang keluar begitu saja diantara mereka.


Stepahanie ingin melepas pelukan itu tapi Richard menahannya.


“Tetaplah seperti ini untuk beberapa saat saja.” Akhirnya, Stephanie mengurungkan niatnya. Hatinya tidak tega melihat Richard yang sangat merindukannya.


“Maafkan aku, Richard.” Kata-kata itu membuat Richard mengeratkan pelukannya.


“Kamu tidak perlu meminta maaf. Kamu kembali kesini dengan selamat, itu membuatku bahagia.” Tiba-tiba, bayi yang di dalam kandungan Stephanie menendang perutnya. Lalu, Stephanie merasa sakit.


Richard melepaskan pelukannya dan menggendongnya ala bridal style. Dia membawanya kembali ke tempat tidur.


“Kamu tetap di ranjang saja. Biar aku saja yang menjadi kaki dan tanganmu.”


“Tidak per..” Stephanie tidak melanjutkan kata-katanya karena merasa sakit di perutnya.


“Sudah tidak apa-apa. Kamu perlu memperhatikan kesehatanmu juga.” Setelah itu, Richard menyelimuti Stephanie.


“Terima kasih, Richard.” Stephanie memberikan senyuman dengan wajah yang pucat pasi.


“Kamu mau apa? Aku akan pergi membuatkannya untukmu.” Stephanie memegang tangan Richard.


“Aku hanya mau kamu menemani aku sampai aku tertidur.


“Baiklah.”


Frederra menghampiri kamar Stephanie dengan tergesa-gesa.


“Richard! Lucas sekarat!”


Richard beserta Frederra bergegas menemui Lucas. Sesampai di kamar Lucas, Richard melihat wajah Lucas yang sudah bercucuran keringat dan wajahnya sangat pucat (lebih pucat dari Stephanie). Richard mengecek denyut jantungnya dan ternyata denyutnya semakin melemah.


“Kita perlu cepat-cepat membuangnya sihir hitam ini!”


“Ayo, kita bawa dia ke mobilku! Semoga dia masih bisa diselamatkan.”


Richard dan Frederra mengangkat tubuh Lucas secara bersama-sama.


Saat di mobil, wajah Frederra yang mulai memucat. Richard mulai menyalakan mobilnya dan menancapkan gas dengan sangat cepat.


‘Aku mohon bertahan lah!’ Perjalanan dari istana Richard ke paling bagian timur membutuhkan waktu 8 jam. Rute paling cepat saja hanya memotong waktu satu jam saja. Lucas adalah satu-satunya orang yang bisa menjelajah kemana saja dengan cepat sehingga mereka membutuhkan waktu yang lama untuk ke paling bagian timur.


Setelah melalui berbagai rintangan di jalan dan menempuh waktu 8 jam itu, akhirnya, mereka sampai di tujuannya.


Paling bagian timur adalah lautan sekaligus tempat untuk para penyihir membuang sihir hitam mereka.


Richard membopong Lucas dan Frederra secara satu-persatu. Lucas dan Frederra berteriak bersama-sama hingga membuat langit yang tadinya berwarna biru menjadi kelabu. Hujan pun turun dengan deras setelah mereka selesai mengeluarkan sihir hitam itu. Wajah Lucas dan Frederra kembali seperti biasa tidak seperti tadi.


Richard memeluk Lucas dan Frederra dengan erat. Richard sangat bersyukur sudah dikelilingi dengan orang-orang yang baik dan mau membantunya.


“Terima kasih.” Ucapan dari Richard itu lebih terdengar jelas diantara suara hujan yang turun dengan derasnya. Menurut Richard mengucapkan terima kasih saja tidak cukup untuk berterima kasih kepada Lucas dan Frederra. Mereka rela mempertaruhkan nyawa mereka demi Stephanie juga.