
“Bibi, aku pinjam Stephanie terlebih dahulu ya,” pinta Richard.
“Iya, Richard.” Lalu, dia menarik ku dan membawaku ke ruangan yang tidak pernah kutemui di istananya. Ruangannya gelap tanpa adanya penerangan sedikitpun. Di ruangan ini, aku mencium sesuatu yang familier.
‘Darah.’
“Iya, ini adalah ruangan penyimpanan darah, Steph. Ini akan menjadi milikmu juga. Jika,...”
“Jika apa?”
“Jika kamu bisa menahan rasa hausmu itu.”
“Sekarang, aku sudah bisa menahannya.” Aku sedikit berlagak sombong kepadanya.
“Hmm...” Tanpa menjawab dengan kata-kata, jarinya menunjuk ke arah mataku. Masalahnya, aku tidak mengerti apa maksudnya.
‘Kenapa dia menunjuk-nunjuk seperti itu.’ Aku berlagak bingung serta bertatapan ke arahnya.
“Matamu, Steph.” Aku menjadi malu sehingga aku menutupi mataku dengan kedua tanganku agar tidak terlihat olehnya. Lagak sombongku dipermalukan oleh kenyataan yang ada.
Tiba-tiba, dia menarik tanganku kembali ke dalam dekapannya. Lalu, dia mau mencium bibirku di dalam ruangan itu. Seketika, pipiku memerah serta jantungku berdegup kencang. Dia memberhentikan gerakannya dan berbicara kepadaku dengan jarak yang sangat dekat.
“Kali ini tidak akan terjadi, Steph. Aku akan melakukannya setelah kamu resmi menjadi pendamping hidupku untuk selamanya di pernikahan nanti.”
Setelahnya, dia membantuku untuk berdiri dan aku memukulinya.
“Richard! Kamu membuatku menjadi kikuk!”
Dia menerima pukulanku dengan lapang dada sampai aku berhenti memukulinya.
“Tapi itu akan terjadi, Steph. Aku berjanji.”
“Ah, sudahlah.” Aku berjalan keluar dan mendahuluinya karena marah serta malu sudah tercampur aduk.
“Stephanie, apa kamu tidak mau meminum segelas darah dulu? Matamu menunjukan kamu haus, Steph.” Dia berteriak seraya mengejar ku. Aku berhenti setelah mendengarnya dan berbalik badan. Seusai itu, aku meminta tolong untuk mengambilkan satu gelas darah.
Dia menyuruhku duduk di meja makan terlebih dahulu selagi dia mengambilkannya.
Aku menunggunya dengan lamunan yang membuatku tersenyum-senyum sendiri karena kejadian tadi berputar terus di pikiranku.
‘Ah, Richard. Kamu sudah membuatku lebih jatuh cinta kepadamu.’
Dia membawa dua gelas untukku dan untuknya. Dia memberikan satu gelas itu kepadaku.
“Minumnya pelan-pelan ya.” Aku mengangguk iya kepadanya.
Kami minum sedikit demi sedikit sambil berbincang-bincang kecil tentang latihan yang mau diajarkan kepadaku. Walaupun, aku tidak mengerti apa yang dia bicarakan, aku tetap mengiyakannya saja.
Selesai kami minum, dia mengambil gelas kosong ku serta menyuruhku terlebih dahulu untuk kembali ke tempat bibi, Bianca, dan Lucas menunggu. Aku menurutinya saja.
Aku sedang melihat Bianca dan Lucas bergandengan tangan serta memandang keindahan. Aku mempunyai rencana untuk mengejutkan mereka dari belakang.
Ternyata rencanaku berhasil, aku membuat mereka terkejut satu sama lain. Bibi melihat tingkahku dengan senyuman dan menggeleng-gelengkan kepala.
“Maaf ya telah mengganggu keserasian kalian.” Aku tersenyum lebar ke mereka.
“Stephanie!!!” Sekarang giliran Bianca yang mengejarnya tanpa ampun. Aku memberi peringatan untuk berhati-hati tapi sepertinya dia tidak peduli. Bianca lebih memilih mempercepat langkahnya untuk mengejarku.
“STEPHANIE SINI KAMU!”
Richard yang baru saja datang langsung terkejut melihatku menjadi bersembunyi di belakangnya.
“Tolong aku, Richard. Bianca ingin menangkapku.”
“Tidak, dia duluan. Dia mengejutkanku dari belakang. Kalau aku terjatuh ke depan atau membuatku jantungan, gimana?!”
“Tapikan... tadi aku lihat kamu serasi sekali dengan Lucas.” Aku sengaja meledeknya.
Akhirnya, Richard minta bantuan ke Lucas.
“Lucas, sini.” Lucas menghampiri kami.
“Ah, sudahlah Bianca. Kita maafkan saja Stephanie. Stephanie, kamu juga seharusnya jangan jahil. Kalian seperti anak kecil saja.”
“Hehehe.” Aku dan Bianca saling berpelukan dan meminta maaf.
Aku mengulurkan tanganku ke Lucas sebagai permintaan maaf. Lucas pun membalas uluran tanganku.
“Iya, kumaafkan.”