
Waktu telah berjalan dengan cepatnya sampai aku tidak sadar sudah pagi yang cerah lagi. Aku mengingat bahwa hari ini bibi dan Bianca akan pulang. Sedangkan, aku tetap disini sampai aku terkendali.
Aku, Richard, serta Lucas mengantar mereka sampai pintu gerbang saja. Sisanya, kami hanya menyerahkan ke supir milik Richard yang akan mengantar mereka.
“Hati-hati ya, Bi. Hati-hati juga, Bianca. Bi, aku titip salam untuk paman.” Mereka melemparkan senyuman kepadaku. Mobil pun melaju perlahan-lahan dan Bianca mengeluarkan lambaian tangan kepada kami. Akan tetapi, hanya aku seorang yang membalas lambaiannya itu. Lalu, aku menyikut Lucas untuk ikut melambaikan tangannya juga.
Sesudah mereka cukup menjauh, kami memutuskan untuk masuk kembali ke istana.
“Jadi...” Richard membuka suara di pertengahan keheningan ini.
“Jadi apa?”
“Jadi kamu mau melatih apa terlebih dahulu? Kekuatan vampiremu atau kekuatan sihirmu?”
“Aku bingung, Richard. Di sisi yang satu, aku ingin melatih kekuatan vampireku. Akan tetapi di sisi yang lain, aku merasa kekuatan sihirku semakin bertambah dan mungkin akan sulit ku kendalikan.”
“Itu keputusanmu, Steph. Keputusan yang mungkin terbaik untuk dirimu sendiri.” Lucas mengangkat bicara.
“Hmm... aku pikir aku akan menyelang-nyeling latihanku. Mungkin lebih baik besok, aku akan memulainya dengan berlatih kekuatan vampireku terlebih dahulu.”
“Ok, terserah kamu.” Lucas menjawab seiring dia mendahului kami berdua. Richard meminta ku untuk bergandengan tangan dengannya. Disaat itu, jantungku lebih berdegup kencang lagi. Tanpa terasa, kami sudah berada di dalam istana.
Aku menuju kamarku dengan di dampingi oleh Richard. Kami melepas gandengannya secara bersamaan sesampai di depan kamarku.
“Ok, sampai nanti, Steph. Hmm, kalau kamu butuh bantuan tinggal ke kamarku atau kamu bisa cari ke taman belakang.” Aku menjawabnya dengan anggukan saja.
Saat aku terbangun, aku merasa tenggorokanku seperti terbakar dengan rasa haus yang amat sangat.
‘Kenapa ini terjadi lagi?’ Aku langsung berlari ke dapur dan mencari sekantung darah segar di kulkas. Setelah satu kantung darah itu habis, aku masih merasa dahagaku belum berkurang. Aku menghabiskan semua kantung darah yang ada di dalam kulkas.
Aku meluapkan emosiku yang belum cukup juga memenuhi rasa hausku. Aku mengeluarkan piring-piring yang berada di lemari dan ku lemparkan sampai pecah dengan sihirku. Aku berteriak sehingga kaca-kaca disana juga terikut imbasnya menjadi pecah.
Setelah aku merasa lelah, aku terduduk di lantai sambil menangis lagi. Di sekitar mulutku masih berlumuran darah yang sehabis ku minum serta pintu kulkas yang belum ku tutup. Richard dan Lucas mendatangiku mungkin karena suara pecahan piring itu. Mereka terkejut dengan keadaan di dapur. Dapurnya sudah terpecah belah dengan serpihan-serpihan beling yang berserakan.
Richard berlari ke arahku tanpa mempedulikan serpihan-serpihan itu dan bertanya ke padaku.
“Stephanie, apa yang terjadi?” Dia membersihkan mulutku dengan tangannya. Aku belum bisa menjawabnya. Lalu, dia membopong tubuhku ke kursi.
Aku mendengar Lucas disaat melewatinya, “ya ampun, Stephanie.”
Aku diletakkan di kursi dekat meja makan itu.
“Kenapa kamu tidak meminta bantuan ke aku?”
“Aku tidak ingin merepotkanmu lagi.” Nada lemasku ku tunjukkan kepadanya. Dengan refleks dari kejauhan, aku menutup pintu kulkas itu dengan sihirku. Lucas yang melihat itu terkejut bukan main.
“Sepertinya besok, kamu harus berlatih keduanya, Steph. Kalau seperti keadaannya, kamu tidak bisa menyelang-nyeling latihannya.”