My Reincarnation and My Reincarnation 2

My Reincarnation and My Reincarnation 2
Bertahan



Di keesokan sore, aku mendengar pintu yang terkunci itu terbuka. Dari luar pintu itu masuklah dua orang yang mungkin aku kenal.


“Luther dan..” betapa aku terkejut yang dibelakangnya.


“Hello, Stephanie. Kita bertemu lagi.”


‘Raja Serigala?!’


“Oh, jangan menyebutku gitu. Aku juga punya nama. Namaku adalah..”


Sebelum dia menyebutkan namanya, aku menyerang terlebih dahulu. Akan tetapi, aku didorong ke dinding dan ditahan oleh sihir Luther.


“Hoho, tidak semudah itu, Stephanie.” Aku mencoba memberontak dari sihir Luther.


“Apa kamu masih belum mengetahui asal-muasal orang tuamu? Richard belum juga memberitahukan padamu apa yang terjadi pada orang tuamu?” Raja serigala itu mendekatiku dan mengelus wajahku. Dia juga memasang wajah tersenyum sinis kepadaku.


“Malang sekali nasibmu. Kamu sudah dimanfaatkan olehnya,” lanjutnya.


“Apa maksudmu?!”


“Tidak ada.” Dia menjauhiku dan mendekati Luther .


“Satu lagi namaku adalah Jack. Ingat namaku!”


“Cih, siapa yang mau ingat namamu?! AH?!”


“Cekik dia, Luther. Usahakan membuat dia tidak sadarkan diri. Aku akan menunggumu di ruang makan. Ok?”


“Iya, tuan.”


Dia menyerahkanku ke tangan Luther. Luther memindahkan sihirnya ke leherku.


“Hahaha, akhirnya aku tersadar dan mengetahuimu. Setelah aku berpikir tadi, aku kira kamu adik dari Richard. Ternyata, kamu adik dari Lucas bukan?” Luther tambah mencekikku dengan erat.


“Jangan kamu sebut-sebut nama itu! Aku membencinya!”


“Apa kamu tidak rindu dengan kakakmu, Luther? Dia mungkin sedang rindu denganmu.” Aku berbohong untuk telepas dari cekikan ini. Sebenarnya, aku tidak tau apakah Lucas rindu dengannya atau tidak.


Mungkin rencanaku berhasil karena dia melonggarkan cekikannya. Akan tetapi beberapa saat kemudian, dia tambah mencekikku lebih erat lagi dari sebelumnya sampai aku tidak sadarkan diri. Sebelum aku tidak sadarkan diri, aku sayup-sayup mendengar suara dari mulutnya.


“Maafkan aku. Aku harus melakukannya.”


Setelah itu, aku terbangun dan melihat Luther sudah duduk di samping ranjangku.


“Lama sekali kamu tertidur.”


“Memang berapa lama aku tidak sadarkan diri?”


“APA?! Kamu itu...!”


“Sssttt! Jangan terlalu keras!” Dia memberhentikanku untuk berbicara.


Lalu, dia melanjutkan kalimatnya, “sekarang lebih baik, kamu makan dan matamu sudah berubah merah.” Tanpa berpikir panjang, aku melakukan apa yang disuruh. Aku merubah posisiku menjadi duduk dan dia membantuku.


‘Ok, Ini demi nyawamu, Stephanie! Aku harus melakukan apa yang dia suruh!’


“Yap, kamu harus melindungi nyawamu sendiri.”


“Apa kamu sedang membaca pikiranku lagi? Bisakah kalian berhenti melakukan itu? Kenapa setelah aku jadi vampire, aku tidak bisa membaca pikiran kalian?”


“Hahaha, iya aku selalu bisa membaca pikiranmu dan semua orang. Mungkin kamu belum pernah berlatih. Aku dan yang lain bisa karena kami keturunan murni. Mungkin juga karena kami sudah hidup paling lama di dunia. Ayo lanjutkan makananmu dan minumanmu. Nanti aku akan memberikan jawaban apa yang ingin kamu tanyakan.”


Aku melanjutkan makanan dan minumanku sampai habis.


“Sudah.”


“Sudah?! Cepat sekali.”


“Jangan memujiku seperti itu! Aku tidak akan sudi jika orang yang memujiku itu telah membuatku tidak sadarkan diri selama tiga hari lamanya.”


“Hahaha, apa yang ingin kamu tanyakan?”


“Mengapa kamu sangat membenci kakakmu?”


“Karena dia berteman dengan Richard, kekasihmu itu.”


“Memang ada apa dengan Richard? Apa yang telah diperbuatnya.”


“Sebenarnya, bukan dia yang melakukannya tapi orang tuanya yang melakukannya.”


“Jadi, karena kamu marah dengan orang tuanya sehingga kamu membenci Richard?”


“Karena perilaku orang tuanya, aku dan penyihir lainnya terkena imbasnya.”


“Kalau boleh tau apa perilaku orang tuanya yang membuat kamu dan penyihir lainnya terkena imbas.”


“Sudah cukup! Aku akan kembali nanti malam untuk mengecekmu dan membawakanmu makanan serta minuman.” Dia mengunci pintu kembali.


“Ah, dia tidak asik!”


Aku tiduran kembali tanpa terasa lama-lama aku ketiduran lagi.


“Aku tidak tau apa yang sedang terjadi disini. Sepi datang kembali kepadaku karena kesalahanku sendiri. Bisakah waktu itu diputar kembali? Aku ingin kembali disaat pertama kali pertemuanku dengannya.”