
Aku sudah jarak terjauh dari istana Richard. Aku tidak tau dimana aku sekarang. Aku hanya dikelilingi pohon yang sangat banyak dan lebat. Disini tidak ada penerangan sama sekali karena mungkin ini hutan. Akan tetapi, aku bisa melihat dengan jelas dalam kegelapan malam ini.
Aku memberhentikan langkahku di bawah sebuah pohon. Aku meringis kesakitan karena rasa haus dalam tenggorokanku dan terbakar pada tubuhku yang secara bersamaan.
“Siapapun bisa tolong aku?!”
‘Ah, iya mana mungkin ada orang disini? Tapi aku akan mencoba terus.’ Aku melanjutkan perjalananku dengan tertatih-tatih.
Setelah melangkah cukup jauh dari pemberhentianku awal, aku melihat seseorang dari kejauhan. Aku menyipitkan mataku untuk memastikan itu benar orang atau hanya imajinasiku saja. Aku berlari mendekatinya dan kudapati seorang pria dengan rambut berwarna hitam pekat, mata biru, dan memakai kaos putih.
“Tolong aku!” Lalu, aku terlunglai di dekapannya.
Siang hari sudah menyapaku, aku membukakan mataku. Aku melihat sekelilingku.
“Dimana aku? Aw!” Pusingku menyerang lagi. Aku terheran-heran dengan luas kamar yang begitu besar tapi tidak sebesar di istana Richard. Aku mencoba bangun dan berdiri. Di kamar ini tidak mempunyai jendela sama sekali sehingga aku tidak bisa mengetahui dimana aku sekarang.
Pintu kamar terbuka, seseorang yang kulihat kemarin mendatangiku dengan membawa makanan dan segelas air merah.
‘Itu darah!’
“Iya, itu benar. Ini memang darah,” jawab pria itu santai.
“Sekarang, kamu membutuhkannya,” lanjutnya.
Dia menaruh itu di meja samping ranjang itu serta duduk di ranjang itu. Aku sedikit ragu untuk mendekatinya.
“Ayolah, aku sudah bersusah payah membuat dan mendapatkannya.”
Sekarang, aku sudah duduk di sampingnya. Dia menyuapiku dengan perlahan-lahan. Setelah selesai menyuapiku sampai habis, dia memberikanku segelas darah itu. Tanpa berpikir panjang, aku menghabiskan satu gelas darah itu.
“Oh, iya, namaku adalah Luther. Kamu pasti Stephanie, kan?”
“Hahaha, kamu penasaran ya? Berarti kakakku tidak pernah menceritakan kepadamu.”
“Siapakah kakakmu?”
“Kamu tidak usah mengetahuinya. Sekarang, aku sedang bermusuhan dengannya. Dia mendekati musuh bebuyutan kami. Apa kamu sudah merasa baikan?”
Aku hanya bisa menganggukkan kepala. Dia keluar dengan membawa piring dan gelas kosong itu.
‘Jangan membuka rahasiamu, Stephanie. Dia orang yang baru kamu kenal.’ Kalimat itu aku keluarkan dalam pikiranku agar memperingatkan diri sendiri. Dari sini aku bisa mendengar kekehan kecilnya.
“Oh, iya satu lagi. Kalau kamu mau, kamu bisa menjadi seperti diriku. Itupun kalau kamu mau ya. Aku tidak akan memaksa. Sekarang kamu stabilkan tubuhmu itu dan kendalikan dahagamu terlebih dahulu. Aku akan menguncimu dari luar.” Sesudah pintu itu tertutup rapat serta terkunci, aku mencoba mendobraknya dengan sekuat tenaga tapi tidak bisa.
‘Pintu ini terlalu kuat. Bagaimana aku bisa keluar dari sini?’
Lalu, aku kembali duduk di ranjang itu.
“Aku menyesal, Richard. Sangat menyesal. Aku rindu kamu.” Aku menangis seraya rindu yang sudah menggebu-gebu di dalam diriku.
Seusai aku menangis, aku berkeliling kamar ini sekali lagi untuk melihat apakah disini ada celah.
“Ah, tidak ada celah. Bagaimana ini?! Aku ingin keluar dari sini.”
“Tapi, kalau aku kembali. Apakah aku akan membuat semuanya terluka?,” lanjutku.
“Oh, iya. Kenapa daritadi aku tidak mendengar suara pikiran Rachel dan tubuhku tidak terasa terbakar lagi?”
“Saat ini, aku rindu denganmu. Apakah kamu dapat mengetahuinya? Apakah kamu sama dengan diriku merasa rindu juga? Aku ingin pergi dari sini tapi tidak bisa. Bisakah kamu menjemputku sekali ini?”