
Keesokannya aku memanggil pelayanku yang menemukan tas teropong ke kamarku. Untungnya, dia belum pergi lagi untuk mencari Stephanie. Dia bernama Frederich Berneth. Dia sudah melayani ku dari semasa orang tuaku masih hidup sampai sekarang.
“Frederich, aku mau tanya. Apakah Stephanie telah berubah?”
“Seingat saya, rambutnya hanya menjadi panjang saja, tuan.”
“Apakah dia terluka di saat itu?”
Dia berpikir sejenak, “sepertinya tidak, tuan.”
“Oh, ok. Kamu boleh pergi lagi. Frederich, aku minta tolong kamu saja yang mengawasi istana serigala.”
“Baik, tuan.” Dia meninggalkanku dan melaksanakan perintahku. Aku menemui Frederra yaang keadaannya mulai membaik. Dia sedang memakan sarapannya sendirian di ruang makan.
“Frederra, dimana Lucas?”
“Dia di kamarnya. Sekarang gilirannya, dia untuk tidur di kasur.”
“Hmm, ok. Aku akan mengambil darah sebentar. Mau kuambilkan apa, Frederra?” Dia menggelengkan kepala dengan senyuman yang terpancar dari dirinya.
Aku mendekati kulkas yang masih berisikan kantung darah. Aku meminumnya langsung di tempat karena aku merasa tidak enak kalau minum ini di dekat orang yang sedang makan-makanan manusia.
Sehabis itu, aku kembali ke ruang makan itu. Aku melihat Frederra telah menghilang dari ruang makan. Aku mencarinya terlebih dahulu ke kamarnya. Hasilnya adalah dia tidak ditemukan di dalam kamarnya. Aku mencarinya lagi ke kamar Lucas dan seluruh sudut istana ini. Frederra juga tidak ditemukan olehku.
Aku berpikir sejenak kemana dia akan pergi.
‘Jangan-jangan...’ aku meninggalkan istanaku dan mencarinya ke sekeliling hutan yang menuju istana serigala. Di sepanjang jalan itu, aku hanya dapat memikirkan dia.
‘Frederra, apa kamu ingin menyerang mereka?’ Sesampai di perbatasan hutan dengan istana itu, aku menemukan Frederra yang hampir mau maju lagi mendekati gerbang istana serigala. Aku membawanya kembali masuk ke dalam hutan secepat yang ku bisa.
Lalu, aku menaruhnya di bawah pohon. Disana, aku memarahinya dengan nada keras.
“Maafkan aku. Aku tau kamu ingin sekali menyelamatkan Stephanie tapi tidak seperti ini. Kita perlu strategi.”
“Aku benci ini, Richard. Aku benci sekali. Kenapa harus Luther yang menculiknya?” Dia berkata itu sambil menangis sesegukan.
Aku mengelus rambut halusnya itu.
“Sudah, sudah. Aku tidak tau kenapa tapi aku janji, aku akan membawa Stephanie kembali ke dekapan kita lagi.” Dia mulai meredakan tangisannya dan aku melepaskan pelukan.
“Frederra, bisakah kamu memberikan ingatanmu padaku tentang kedekatanmu dengan Luther waktu kecil?” Dia mengiyakan sehingga dia memegang wajahku sambil menutup matanya. Akupun ikut menutup mata juga.
Dalam sedetik, aku memasuki ingatan Frederra. Aku melihat ekspresi senang terpancar di wajah Luther saat Frederra mampir ke istana penyihir. Istana penyihir itu adalah milik orang tua Lucas dan Luther. Luther mengajak keliling Frederra di dalam istananya. Mereka terlihat akrab dan imut.
Lalu seketika ingatan bahagia itu hilang saat Frederra menginjak umur 9 tahun. Frederra melihat Luther sangat lesu dan tidak bersemangat mengajaknya bermain. Akhirnya dia sering menemui Lucas tapi dia tetap maunya bersama Luther. Disana, aku melihat Frederra mencari tau mengapa Luther bisa begitu. Dia mengikuti diam-diam kemana saja Luther akan pergi. Hingga suatu hari, Frederra mendapati Luther akan diajak orang tuanya untuk ke istana Vampire. Tanpa sepengetahuan orang tua Frederra dan Orang tua Luther, dia mengendap-ngendap dengan menghilangkan diri sampai istana Vampire. Ternyata, Luther disuruh masuk ke suatu kamar.
‘Tidak, mungkin.. i-i-itu kamarku waktu kecil.’
Frederra mengintip kamar itu, dia melihat seorang anak kecil menghisap darah Luther sampai pingsan. Frederra merasa takut tapi dia tetap ingin melihat temannya tidak apa-apa. Anak kecil itu akhirnya menyadari kehadiran Frederra dan menatapnya dengan mata merah menyala.
Aku memaksa melepaskan tangannya untuk tidak dilanjutkan ingatan itu. Aku tidak mau melanjutkannya melihatnya.
‘Kenapa ingatan itu tidak ada di ingatanku sendiri?’
“Apa kamu mau tau mengapa ingatan itu tidak ada di dirimu, Raja Richard?” Aku tidak bisa berkata-kata sedikitpun.
“Karena orang tua Lucas dan Lutherlah yang menyegel ingatanmu,” sambungnya. Aku membelalakkan mataku seraya tidak percaya.
‘Ta-tapi kenapa?’