
Seseorang sedang berjalan menuju halaman belakang istana. Sedangkan di halaman belakang istana, Richard dan Stephanie sedang saling berciuman dan bermesraan. Ketika seseorang itu sampai disana. Dia tidak terlalu terkejut. Dia memang sering melihat kejadian itu saat masih kecil. Tapi bedanya waktu kecil dan sekarang adalah saat dia masih kecil akan pura-pura tidak melihatnya dan lari menuju ke tempat lain. Ketika dia menginjak umur 17 tahun, dia hanya bisa menggelengkan kepala dan memakluminya.
“Sepertinya aku datang di waktu yang tidak tepat ya, mama dan papa.” Alardo mengakhiri kalimatnya itu dengan senyuman kecil. Lalu, dia mulai mendekati ke orang tuanya.
“Hahaha tidak-tidak, Alardo. Papa sebentar lagi mau pergi ke rumah bibi... ah, iya, nenek kamu (Frederra).”
“Oh iya, mama juga ada urusan mau ketemu tante Bianca. Apa ada hal yang dibicarakan sebelum kami pergi, pangeran kecilku?”
“Sebenarnya sebentar lagi ulang tahunku yang ke 17 tahun. Aku ingin meminta hadiah yaitu izinkan untuk ikut perang bulan purnama nanti. Bolehkah? Aku berjanji tidak akan membuka penutup mata ini.” Dia menunjuk mata kirinya yang ditutup menggunakan eyepatch sejak kecil.
Mama dan papanya secara serentak menjawab, “TIDAK! Tidak boleh!”
“Tapi kenapa?! Aku sudah dewasa dan sudah sering berlatih.”
“Kalau kami bilang tidak ya tidak. Jangan ngebantah!”
“Ya sudah deh tapi saat perang itu, aku pergi dari istana ini untuk melihat-lihat pemandangan di pusat kota. Aku tidak ingin dikurung lagi di dalam kamar.”
“Ok tapi ada syaratnya. Kamu harus bawa dua pengawal ya.”
“Hmmm, iya.” Setelahnya, mama dan papanya langsung pergi meninggalkan Alardo sendirian disitu. Alardo mengambil batu yang ada didekatnya lalu melemparkannya dengan sekuat tenaga ke danau. Batu itu memantul-mantul sampai pada akhirnya dia tenggelam.
“KESAL! SELALU TIDAK BOLEH!” Dia berteriak dengan kencangnya. Dia membakar seluruh pohon disana menggunakan kekuatan sihirnya. Dia memang sangat ingin mengikuti perang bulan itu.
“Ada apa denganku? Aku sudah berlatih dengan keras. Mama dan papa juga mengakui kekuatanku yang hebat. Aku juga terlahir dengan darah hybrid (Vampire dan penyihir). Dengan ini, aku bisa ngalahin musuh papa, serigala sialan.” Dia mengamati bayangannya sendiri di pantulan air danau itu. Tiba-tiba, ada orang yang mengagetkannya.
“Ah, paman Lucas!”
“Ada apa denganmu? Dan ada apa dengan pohon-pohon ini?”
“Tidak ada apa-apa, paman.” Alardo menjentikan jarinya dan mengubah pohon-pohon itu seperti semula kembali. “Benarkah sepertinya paman melihat kamu seperti sedang kesal.” Iris mata Lucas berubah dari biru menjadi abu-abu.
“Ah, paman curang. Paman melihat auraku dengan warna mata itu. Sekarang, aku jadi benci mata paman!” Alardo balik menatap Lucas dan mengubah iris mata kanannya menjadi warna merah. Lucas pun mengembalikan warna matanya menjadi biru lagi.
“Wah, jangan begitu dong. Mata pamankan bagus.” Kalimat yang keluar dari mulut Lucas tidak bisa meredakan amarah Alardo. Disaat waktu yang tepat, pelayan setia Richard datang sambil membawa gelas berisikan darah. “Pangeran, ini minuman anda.”
“Terima kasih.” Dia meminumnya dengan satu tegukan saja. Lalu, Dia memberikan kembali ke pelayan itu. “Kamu juga jangan lupa minum juga ya, Thomas.”
“Iya, tuan.” Pelayan itu mengundurkan diri dari mereka berdua.
“Alardo, kamu udah ingat semua nama pelayan di istana ini?” Alardo mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan Lucas. “Aku sudah mulai hafal semuanya, paman.”
“Keren. Oh, iya, tadi kenapa kamu lagi marah?” Alardo diam sejenak seraya menghirup udara disana sesudah itu dia menjawab sejujur-jujurnya kepada Lucas.
“Jadi, tadi aku minta izin ke papa dan mama untuk ikut perang bulan purnama. Tapi, jawabannya tidak boleh.” Tanpa diketahui oleh Alardo, Lucas cukup terkejut dengan keinginan Alardo itu.
“Jawaban mama dan papamu itu tepat buat kamu
“Tapi, paman...”
“Sudahlah, ayo kita masuk saja! Kita main kartu sihir lagi. Siapa yang kalah harus masak daging buat yang menang!”
“Ah, paman.”
Mereka bermain kartu selama satu jam lamanya. Empat kali berturut-turut yang menang adalah Lucas. Akhirnya, Alardo memasak makanan untuk Lucas.
Waktu untuk berperang sudah tiba, semua orang sedang bersiap-siap dari pagi. Sedangkan, Alardo sedangkan bersiap-siap untuk pergi ke kota. Alardo berencana pergi saat sore hari nanti menggunakan mobil milik Richard. Papanya sudah mememesan kamar hanya semalam di sebuah hotel terkenal.
Sore hari, papanya (Richard) benar-benar menyiapkan dua pelayannya untuk mengikuti Alardo.
“Yang benar saja, pa! Aku sudah bisa menyetir, pa. Kenapa aku harus di belakang?”
“Selamat bersenang-senang, pangeran kecilku.” Mamanya berteriak karena mobilnya sudah sangat jauh dari istana.
Stephanie berbicara ke Richard, “semoga, ini yang terbaik untuknya ya, sayang. Identitasnya saat ini sangat penting. Maafkan mama dan papa ya, nak.”
Richard mengelus punggung Stephanie artinya ini akan baik-baik saja. Mereka masuk ke dalam istana lagi.
Di sisi lain, Alardo menikmati pemandangan pepohonan di sisi kanan kirinya. Alardo menempuh sekitar 40 menit ke hotel yang sudah pesan itu. Sesampainya di hotel, dia merebahkan dirinya di kasur. Pelayan Richard itu akan berjaga di depan kamar hotel selama 24 jam.
“Ini sangat membosankan. Bagaimana caranya aku keluar?” Lalu, dia memandang jendela di sisi kirinya. Alardo mulai loncat dari jendela kamarnya meskipun kamarnya itu ada di lantai 5.
Dia berhasil tanpa ketahuan dan juga tanpa terluka sedikitpun. Dia bisa mengatur lukanya sendiri. Jika, dia ingin mengingat luka itu maka lukanya tidak akan hilang dan menjadi bekas luka yang terlihat. Kalau dia ingin tidak terluka maka lukanya akan tertutup cepat serta sempurna seperti tidak ada luka di badannya.
Alardo berjalan-jalan di pinggiran sungai yang sudah dibatasi dengan pagar besi. Pemandangan langit pun indah dihiasi dengan cahaya bintang. Lalu, dia mulai menatap seorang perempuan yang sedang menitihkan air mata didekat pagar itu. Alardo mendekati gadis itu.
“Kenapa kamu menangis?” Perempuan itu menengok ke Alardo. Alardo melihat mata perempuan yang berwarna merah menyala.
“Apakah kamu seorang Vampire?” Perempuan itu sangat terkejut dengan pertanyaan Alardo.
Dia menjawab sedikit gugup, “i-i-iya.”
“Tenang saja aku juga.” Alardo memperlihat iris mata kanannya yang berubah menjadi merah.
“Hmm, ok.” Hati Perempuan itu menjadi sedikit tenang.
“Namaku adalah Alardo. Nama kamu siapa?”
“Aku Jessica. Oh, iya, Alardo. Aku pergi dulu ya. Takut lagi dicariin sama mama dan papaku.”
Alardo ditinggal lagi oleh seseorang perempuan berparas cantik rambutnya yang berwarna ungu thistle. “Kamu belum menjawab pertanyaanku kenapa kamu menangis. Ya sudahlah.” Beberapa menit kemudian, hujan turun membasahi jalanan beserta Alardo. Dia memutuskan kembali ke hotel.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Alardo Yerd Leandra Lazuardy
Ini adalah gambaran dari Alardo di awal cerita (tanpa penutup mata kirinya). Itu bukannya mata kanan ya, thor? Jadi kalau diliat hasilnya maka yang dilihat dari kita itu mata kanan. Akan tetapi, kalau dari sudut aslinya itu adalah mata kiri. Ini bukan mirror selfie ya. Nanti di akhir cerita akan berbeda lagi gambar dari Alardo. Ditunggu saja ya.
Biodata:
Nama panggilan: Alardo
Usia: 17 tahun
Tinggi: 186 cm
Berat: 69kg
Tanggal lahir: 15 Oktober
Status: sebenarnya Trihibrid (Vampire, Serigala, dan penyihir).
Golongan darah :-