
Alarm itu menandakan ulang tahunku. Aku memasang alarm itu karena aku suka lupa dengan ulang tahunku sejak orang tuaku sudah tiada.
Ponselku berbunyi dari pesan yang belum kubaca. Aku melihat pesan itu berasal dari bibi, Bianca, dan Richard.
Semua mengucapkan *Selamat ulang tahun, Stephanie.* Seketika, aku merasa terharu melihat pesan ini. Bibiku lebih mengirim banyak pesan kepadaku.
*Stephanie, bibi pergi ke rumahmu setelah café ditutup ya.*
*Bibi akan hubungi kamu lagi.* Aku hanya bisa membalasnya dengan *Iya, bi.*.
“Bibi, maafkan aku karena aku mau mengubah hidupku setelah hari raya ulang tahun ini. Terima kasih atas semua yang kamu perbuat, bi. Maafkan aku juga karena aku akan berbohong kepadamu.” Aku menangis dengan tersedu-sedu.
Aku menghapus air mata dan pergi menyiapkan semuanya sebelum bibi dan bianca datang. Setelah itu semua, aku menunggu mereka hingga sore hari telah menjemput. Aku melihat pesan baru yang telah dikirim oleh bibi.
*Bibi sudah mau ke arah rumahmu ya bersama Bianca.*
*Iya, bi.* Aku menunggu bibi sekitar satu jam setengah. Belum ada tanda-tanda dari kehadiran bibi dan Bianca. Aku mengecek lokasi bibi terakhir dari aplikasi yang terhubung dengan keberadaan ponsel bibi.
‘Inikan di hutan sebelah utara kota. Ini bibi keluar dari jalur ke arah rumahku. Ada apa dengan bibi?’
Aku sudah beberapa kali mencoba menelpon bibi tapi tidak ada jawaban dari bibi.
‘Apa ini tanda dari dua minggu yang lalu?!’ Aku keluar dari rumahku untuk mencari keberadaan bibiku dan Bianca.
Akan tetapi di depan pintu rumahku, aku merasakan kupingku berdenging sangat kencang.
‘Ayolah, Stephanie. Kamu harus menahannya!’ Aku membangkitkan diriku dan pergi keluar untuk memberhentikan taksi. Aku memberitahukan kemana aku akan pergi ke supir taksi tersebut.
Sesampai di hutan, aku semakin merasakan dengingan yang amat luar biasa. Aku semakin menahan rasa itu untuk demi menolong bibi dan Bianca.
‘Bibi dan Bianca bertahanlah. Aku akan menolong kalian.’ Aku mengecek lokasi terakhir bibiku lagi. Sekitar lima meter lagi, aku sampai di lokasi bibi. Lima meter telah kulalui, aku melihat mobil bibi dan aku berlari kesana. Aku melihat bibi dan Bianca tidak sadarkan diri di dalam mobil. Aku mengetuk-mengetuk kaca mobil serta memanggil-manggil nama mereka.
“Bibi bangun. Buka kacanya, bi!”
“Bianca bangun. Buka kacanya, Bianca!” Mereka tidak mendengar teriakanku. Dari kegelapan itu aku melihat bayangan serigala mendekat.
Aku mengambil ranting pohon yang didekatku sebagai pertahananku. Aku bercucuran air mata dan keringat menjadi satu. Semakin mendekat serigala itu, ia berubah menjadi manusia yang sangat berwibawa sekali.
“Halo, Stephanie.”
‘Bagus. Apa yang harus kulakukan? Tolong aku, Richard.’
Kedua tanganku yang memegang ranting pohon itu bergermetaran.
“Hahahaha. Apa kamu takut?”
“Tidak. Ayo serang aku!” Aku berpura-pura tidak takut dan bergaya seperti menantangnya.
“Ok, baiklah. Serang dia!”
Aku melawan mereka sebisaku. Aku bertahan untuk saat ini selama dua puluh menit.
“Berhenti!” Aku mempertahankan posisiku yang terakhir dengan terengah-engah dan luka yang banyak di seluruh tubuh. Lalu, laki-laki itu melangkahkan kakinya ke arahku. Dia memegang wajahku dan memaksakan wajahku untuk melihatnya.
“Apakah wajah ini yang membuat Richard mau melakukan apapun?”
Aku meludahi wajahnya dengan darah yang keluar dari mulutku dan terkekeh kepadanya.
“Cih…Kamu tidak akan mendapatkanku sampai kapanpun!”
Dia melepaskan tangannya dengan sangat geram.
“Serang dia! Jangan sampai mereka bertiga hidup.”
Aku menengok sebentar ke arah bibi dan Bianca yang belum sadarkan diri juga.
“Maafkan aku atas semua kesalahanku, bibi dan Bianca. Mungkin ini adalah yang terakhir kalinya melihat kalian.”
Aku menutup mataku dan menyerahkan nyawaku ke tangan segerombolan kaum serigala. Tiba-tiba, ada yang menghempas serangan itu dengan berdiri di depanku.
“Maafkan, kami telah terlambat.” Aku melihat Lucas di depanku.
“Richard, bawalah Stephanie, bibi, dan temannya ke tempat yang aman. Aku akan mengulur waktu untukmu kembali kesini.” Aku terlunglai ke lengan Richard. Aku memegang wajah Richard dengan tangan yang sudah penuh dengan darah.
“Richard….” Sehabis itu, aku tidak sadarkan diri.
“Aku takut melihat kenyatan di dunia ini. Aku takut semua orang menghilang karena diriku. Aku takut mencintaimu tapi aku juga takut membencimu. Aku ingin bahagia denganmu tapi aku harus meninggalkan orang-orang yang sudah mengasihiku. Apakah aku harus menyerah saja pada kenyataan pahit ini yang menerpaku? Aku akan tetap mempertahankan cintaku kepadamu.”