My Reincarnation and My Reincarnation 2

My Reincarnation and My Reincarnation 2
Keraguan



‘Malam hari ini, kenapa dia tidak kembali kesini? Akukan masih memiliki banyak pertanyaan untuknya. Bukankah dia berjanji akan kembali dengan membawakan aku makanan dan minuman?’ Aku menunggu Luther dari duduk diranjang sampai berdiri di depan pintu dan duduk lagi di ranjang.


Tidak berapa lama, pintu itu ke buka tapi bukan dia yang datang melainkan raja serigala yang membawa makanan dan minuman. Dia mendekatiku dengan nampan yang dibawanya. Dia meletakkan di meja kecil di samping ranjang ini. Lalu, aku membuang mukaku dengan kesal.


“Kenapa kau yang membawa! Aku tidak akan memakan dan meminumnya jika kau yang membawanya!”


Dia menyentuh daguku, kemudian memaksa wajahku untuk melihatnya.


“Jika kamu tidak memakannya. Berhati-hati lah nyawamu yang jadi taruhannya.” Dia berkata dengan sedikit berbisik serta mengancam ku. Setelahnya dia berbalik untuk keluar dari ruangan ini. Akan tetapi sebelum dia benar-benar keluar dari ruangan ini, aku membuang makanan dan minuman yang dia berikan sampai jatuh berantakan. Namun, dia tetap berjalan keluar tanpa mengeluarkan sepatah kata marah kepadaku.


Ternyata, Luther disuruh masuk oleh raja serigala. Aku menelan saliva dengan gugup bercampur takut. Tadi, aku sempat mendengar raja serigala itu berbisik ke Luther yaitu “habisi dia.” Aku tidak tau lagi apa yang harus kulakukan. Mungkin ini hal ini sudah membuatku terpojok tanpa pertolongan yang akan datang.


Dia menjentikkan jarinya sehingga tangan dan kakiku terikat oleh tali dengan posisi dudukku. Mulutku juga disumpal oleh sebuah kain yang membuatku sudah pupus untuk berteriak meminta tolong.


Dia menjentikkan jarinya lagi dan mengeluar sebuah jarum suntik yang akan menyuntikkan kepadaku. Dia menyuntikkan itu dengan perlahan. Suntikkan itu perlahan-lahan membuat pandanganku menjadi kabur dan pingsan dalam dekapannya.


Aku memasuki mimpiku lagi yang penuh dengan kenangan bersama Richard di dalamnya. Di akhir kenangan itu, aku juga kembali ke ruangan hitam yang pernah membuatku bertemu dengan Rachel untuk yang pertama kali. Disana aku memikirkan siapa kenangan itu. Aku merasa kenangan itu bukan milikku.


“Ah iya, ini punya Rachel!”


Aku melanjutkan perkataanku dengan memanggil-manggil nama Rachel. Aku akan meminta penjelasan darinya.


“Rachel! Rachel! Jika kamu ada disini, kemarilah! Aku mau kamu menjelaskan ini semua dan aku tidak akan takut padamu lagi!”


Dari kegelapan itu terdengarlah suara tepuk tangan dan ketawa dari seseorang.


“Hahaha, kamu tidak takut?! Hebat!”


“Siapa kamu?! Kemarilah! aku tidak takut padamu!”


“Ok, aku datang!” Dia mendekatiku semakin dekat.


‘Rachel?’


“Meminta maaf? Setelah apa yang telah kamu perbuat terhadap temanku, dengan mudahnya kamu hanya mengatakan maaf kepadaku? Bukankah meminta maaf kepadanya secara langsung?”


“Itu juga tidak mudah bagiku untuk mengatakan itu. Dikarenakan temanmu mirip dengan temanku yang telah membunuhku.”


“Karena alasan mirip, kamu ingin mencekiknya?” Dia hanya mengangguk dan tersenyum tipis kepadaku.


“Walaupun aku adalah reinkarnasimu tapi kamu tidak perlu membalaskan dendam yang sudah terdahulu. Dia mungkin sudah berubah karena zaman kita sudah berbeda, Rachel,” pungkasku dengan tegas.


“Ok-ok. Aku menyesal dengan amarah yang telah menyelimutiku kemarin. Nanti, aku benar-benar akan meminta maaf langsung kepada temanmu itu. Dengan satu syarat.”


“Apa syaratnya?”


“Aku meminjam tubuhmu karena aku hanya roh yang membuatmu teringat kehidupanmu yang lampau.”


“Ok, aku akan mengurusnya.” Dia meninggalkanku dan berbalik badan menghadap ku lagi untuk mengucapkan satu kalimat.


“Oh iya satu lagi, sepertinya sekarang harus terbangun dari mimpimu ini karena kamu sudah tertidur 2 hari dan sepertinya ada seseorang yang sangat ingin kamu temui.”


‘Siapa? Richard!’


Aku terbangun dengan keadaan kaki dan tangan terikat tapi ini dengan rantai besi. Mulutku juga sudah tidak disumpal lagi. Aku melihat sekitar ruangan ini.


‘Ruangan ini berbeda dengan sebelumnya. Ini masih bisa kulihat bintang-bintang yang berada di luar melalui celah-celah kecil.’


Tanpa kusadari, aku melewati seseorang yang posisinya sama denganku yaitu duduk berhadapan denganku dengan kaki dan tangannya terikat. Setelah kulihat dengan seksama, ternyata itu..


“Richard!”


“Aku menunggu kedatanganmu dengan penuh sabar, sedih bercampur kecewa kepadamu. Akan tetapi, aku lebih sedih jika aku melihat kamu terluka yang keadaannya sama denganku. Aku hanya bisa mengucapkan terima kasih karena kamu sudah datang.”