My Reincarnation and My Reincarnation 2

My Reincarnation and My Reincarnation 2
S2: 2. Bertanya



Alardo terus membayangi wajah perempuan itu. “Jessica..” Dia tidak sadar telah mengucap nama perempuan itu. “Semoga kita bisa bertemu lagi.” Dia mulai terlelap di atas kasur empuk.


Ada suara sayup-sayup yang terdengar untuk membangunkan Alardo. Ternyata, itu adalah Thomas. “Kenapa kamu membangunkanku?”


“Ini sudah pagi, pangeran.”


“Ah, ok.” Alardo bangun lalu pergi membersihkan dirinya. Setelahnya, dia memakai baju terkeren menurutnya. Alardo memakai eyepatch baru yang telah dia ambil tadi dari koper. Akan tetapi sebelum aku memasang eyepatch itu, Alardo mulai bercermin dan melihat mata kirinya ini.


‘Apa arti mata ini? Apa karena mata ini semua orang menyembunyikanku? Apa ada rahasia yang disembunyikan oleh orang tuaku?’ Alardo menghela nafasnya dengan berat.


“Sudahlah, Alardo. Mungkin ini sudah takdirmu. Terima sajalah.” Alardo memakai eyepatch yang baru itu ke mata kirinya.


Setelah eyepatch terpakai dengan bagus, dia memuji dirinya sendiri, “Lagipula, kamu ganteng juga meskipun pakai ini.” Alardo membuka pintu lalu dia mendapati lagi Thomas yang sedang tertidur sambil berdiri.


“Kasihan kamu, Thomas.” Alardo mencoba memindahkan Thomas ke dalam kamar. Dia menaruh Thomas ke atas kasur secara perlahan-lahan. Dia tidak ingin membangunkannya.


“Lalu, kemana perginya pelayan yang satu lagi?” Alardo berniat mencari di sekitar hotel. Hasil akhirnya adalah nihil. Dia tidak dapat menemukan pelayannya yang lain. Alardo mengira-ngira mungkin pelayannya pergi ke istana terlebih dahulu. Dia lebih memilih pergi ke Café Brizz.


Lonceng pintu berbunyi keras ketika pintu itu terbuka. Frederra memandang Alardo dengan tatapan terkejut sekaligus senang.


Frederra melepas celemeknya dan berlari ke Alardo. Dia memeluk Alardo dengan sangat erat.


Frederra sedikit berbisik saat berpelukan itu, “Nenek rindu denganmu, Alardo.” Alardo tampaknya agak ragu untuk membalas pelukan neneknya itu.


“Iya, nek. Aku juga rindu nenek. Sungguh.” Beberapa menit telah berselang, Alardo duduk di kursi dekat jendela. Sedangkan, Frederra membuat cokelat panas untuknya. Lima menit berlalu, Frederra keluar dengan membawa 2 gelas mug putih berisi cokelat hangat.


“Kamu tau tidak? Tempat duduk yang kamu duduki sekarang adalah tempat favorit dari mama kamu.” Frederra bertanya seraya memberikan satu mug itu ke Alardo. Alardo menerimanya dengan sopan.


“Benarkah, nek?”


“Iya.” Mereka meneguk sedikit demi sedikit hingga habis. Keheningan mulai menerpa mereka, Alardolah mulai memecah keheningan itu dengan memuji neneknya itu.


“Nenek tambah cantik. Apa rahasianya, nek?”


“Benarkah? Apa ya rahasianya. Bukankah kamu sudah tau?”


“Hehehehe, iya sih. Nenek penyihir.” Frederra terkekeh melihat cucunya yang sudah mengerti. Frederra mulai berbalik tanya ke Alardo. “Bagaimana kabar mamamu? Papamu sering sekali mengunjungi nenek tapi mamamu tidak. Nenek jadi sedih.” Frederra berpura-pura membuat wajah murung di depan Alardo.


“Nanti aku akan beritahu mama ya, nek. Agar sering main ke rumah nenek.”


“Benarkah?”


“Iya, nek.” Frederra menunjukan jari kelingkingnya kepadanya. “Janji kelingking?” Alardo mengangguk serta melingkari jari kelingkingnya ke jari kelingking neneknya. Setelahnya, Frederra mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna biru dari saku kemejanya.


“Ini adalah kado ulang tahunmu.”


“Nenek, tidak usah repot-repot.” Frederra menggelengkan kepalanya, “tidak merepotkan kok. Ini hanya hadiah kecil.”


Alardo membuka kotak itu berisikan gelang perak yang disana terukir lambang kerajaan Richard. “Gimana kamu menyukainya?” Alardo mengangguk senang dan langsung memakai gelang itu. Frederra menyuruh Alardo untuk melepaskan eyepatchnya. Alardo pun menuruti kata-kata neneknya.


Alardo melihat perubahan transisi matanya dari warna emas menjadi warna hitam seperti mata kanannya.


“Sekarang, coba kamu ikut nenek ke dapur.” Alardo mengikuti neneknya tanpa membantah dan meninggalkan eyepatchnya di atas meja. Dia masih terpukau dengan kejadian itu. Sesampai di dapur, Frederra memberhentikan langkahnya dan membalikkan badannya ke arah Alardo.


“Coba kamu ubah matamu ke mata Vampiremu. Lihatlah ke cermin tadi.” Alardo terpukau untuk kedua kalinya. “Bagaimana ini bisa, nek?”


“Jangan bertanya bagaimana. Nenek hanya memberitahu batas pemakaian ini. Ini hanya bisa digunakan selama 6 jam. Setelahnya, dia akan mengisi dayanya sendiri selama 12 jam. Sedikit lama sih tapi mau bagaimana lagi. Jangan...” Sebelum Frederra melanjutkan kata-katanya, Alardo memeluk neneknya dan berbisik.


“Terima kasih banyak, nek. Aku tidak akan kasih tau mama dan papa. Aku akan menyimpannya baik-baik.” Alardo melepaskan pelukannya. Seusai itu, Frederra mengacak-ngacak rambut Alardo. “Ayo, kita keluar lagi. Tapi sebelum itu, matamu kembalikan lagi ke warna hitam ya. Nanti kamu malah akan membuat pelanggan nenek kabur lagi.”


“Hehehe iya, nek.” Dengan sekali kedipan, warna irisnya berubah menjadi hitam. Mereka balik ke kursi itu lagi. Frederra merasa ada yang aneh dengan tempat kursinya. Frederra merasakan samar-samar ada aura serigala di dalam cafe.


“Eyepatch milikku hilang, nek.”


“Lebih baik, sekarang, nenek antar kamu ke istana sekarang daripada balik ke hotel.” Alardo bingung kenapa neneknya bisa tau kalau dia sedang menginap di hotel. Dia tambah bingung kenapa wajah neneknya berubah seperti takut dan keringat dingin yang sudah membasahi wajahnya.


Frederra menarik tangan Alardo menuju ke mobil miliknya. Dia mencari jalan pintas melalui peta di ponselnya agar terhindar dari kemacetan kota.


“Ada apa sih, nek?”


“Tidak ada apa-apa. Kamu pakai sabuk pengaman saja. Karena nenek akan mengebut.”


“Apa?!” Neneknya menancap gas dengan kencangnya.


20 menit telah berlalu, Alardo dan Frederra sudah sampai di istana Richard. Mereka melihat pemandangan kekacauan di depan istana. Alardo terpana tidak percaya melihat istana yang selama ini terlihat indah menjadi buruk seperti ini.


‘Benarkah ini istana papaku? Lalu, papa dan mama?!’ Alardo berlari meninggalkan Frederra menuju ke kamar orang tuanya. Terpaksa Frederra mengikutinya. Benar dugaannya, orang tuanya sedang berbaring lemah di kamar. Alardo mulai mengeluarkan sihir penyembuhannya untuk orang tuanya. Frederra menyuruh untuk menyembuhkan Richard saja. Sedangkan dia mengambil alih untuk menyembuhkan Stephanie.


Mereka membutuhkan 2 jam untuk menutupi luka racun serigala itu. Richard adalah orang pertama yang mulai sadar.


“Papa!” Richard mencoba bangun dari tempat tidurnya tapi langkahnya ditahan oleh Alardo. “Papa tiduran saja. Papa belum seratus persen pulih.” Lalu, Richard membaringkan tubuhnya lagi. Richard sedikit menengok keadaan Stephanie di sebelahnya.


Richard mulai menitihkan air matanya. Pelayan yang menghilang di hotel itu ternyata menampakkan dirinya sambil membawa 2 gelas darah untuk Richard serta Stephanie.


“Kamu!” Alardo sedikit menggertakkan giginya karena kesal di depan pelayan itu. Walaupun, perkiraannya benar bahwa pelayan itu balik ke istana lagi.


“Sudah, tenangkan lah dirimu, Alardo. Papa lah yang menyuruhnya balik ke sini.”


‘Untung papaku menenangkanku. Kalau tidak, sudah habis kau!’ Alardo mengancam pelayan itu melalui pikirannya. Pelayan itu menelan salivanya dengan kasar. Tangannya sedikit bergetar sampai-sampai bunyi gelas bergetar terdengar. Dia melangkah maju dengan rasa takut. Dia menaruh gelas darah itu di lemari kecil samping tempat tidur.


“Ini, tuan. Saya pergi, tuan.” Pelayan itu menghilang cepat entah kemana. Richard menyuruh Alardo mendekatinya. Dia memegang wajah Alardo.


“Kamu lebih mirip diriku. Dibandingkan...” Richard menghentikan perkataannya karena dia batuk yang mengeluarkan darah. Alardo rela merobek bajunya sebagai kain mengelap darah papanya. Alardo memberikan segelas darah juga ke papanya.


Setelah Richard meneguk darah itu sampai habis, dia menyadari bahwa Alardo tidak memakai eyepatchnya.


“Eyepatch kamu kemana, Alardo?! Papa bilang jangan dilepas!”