
Tiba-tiba, pintu utama rumah keluarga Jessica diketuk dengan keras. Papa Jessica membuka pintu dan didapatkannya segerombolan orang
dari suatu kerajaan. Satu orang yang sudah berdiri di hadapan papa Jessica sudah menunjukkan kartu kerajaan dan disana tergambar lambang kerajaan Richard. Papa Jessica sudah merasa takut dan gugup setelah melihat kartu itu.
“Bisa saya bantu?,” dengan suara bergetar.
“Saya ingin menjemput Alardo Yerd Leandra Lazuardy. Kami ingin membawanya pulang. Kami adalah keluarganya.”
Tepat sekali Alardo keluar kamar lalu mendekati pintu utama. Orang yang tadi menunjukan kartu itu menyuruh para pengawal di belakangnya untuk menangkap Alardo. Mulut Alardo dibungkam dengan sihir yang tidak
diketahui darimana asalnya sehingga dia tidak bisa berteriak bahwa itu bukan keluarganya. Dia ingin menggunakan pikirannya tapi dia lupa bahwa dia telah mengunci pikirannya agar tidak bisa dibaca. Dia hanya bisa mengalah dan dibawa entah kemana. Dia mempertahankan posisi mata kirinya tertutup dengan kelopak matanya sendiri. Kecepatan mobil yang membawanya pergi sangatlah tinggi.
Tidak berselang lama dari penangkapan Alardo, ada sekelompok orang yang ingin menjemput Alardo di rumah Jessica. Lucas mengetuk pintu serta memencet bel sesekali. Papa Jessica membuka pintu dan menemui kembali
sekelompok orang lagi.
“Maaf ada apa ya?” Suara masih sedikit gugup.
“Permisi, Saya ingin menjemput keponakan saya yang bernama Alardo Yerd Leandra Lazuardy. Apakah dia ada di dalam?”
“Maaf, kalian asalnya darimana?”
“Oh, iya. Saya lupa memperkenalkan diri.” Lucas merogoh kantong saku jasnya untuk mengambil dua kartu pengenal dirinya.
Lalu, Lucas melanjutkan perkataannya. “Kami persatuan dari kerajaan penyihir serta kerajaan vampire. Saya sendiri adalah Raja Penyihir sekaligus Paman dari Alardo.”
Seketika, Papa Jessica berlutut dan memohon belas kasih terhadap Lucas.
“Maafkan saya, maafkan saya, maafkan….”
“Pak, jangan seperti ini. Ayo berdiri saja, pak.” Lucas
membantu papa Jessica berdiri. “Apa yang telah terjadi, pak?”
“T-t-Tadi, ada sekelompok orang yang mendatangi rumah saya. Saya kira kelompok itu berasal dari kerajaan vampire karena dia mengeluarkan kartu yang sama dengan identitas kerajaan vampire. Mereka bilang mau menjemput Alardo.” Papa Jessica menjelaskan ke Lucas dengan keringat dinginnya bercucuran sangat derasnya.
‘Sial! Dasar serigala itu!’ Lucas mengumpat dalam pikirannya. Papa Jessica tidak sengaja mendengar pikiran dari Lucas. “APA
SERIGALA?!”
“Ssstt! Bapak jangan beritahu siapapun tentang hal ini kepada vampire lainnya. Ok?” Lucas bersalaman dengan Papa Jessica dan
“Nama saya adalah Terry.” Tiba-tiba, Lucas juga melihat rahasia yang disembunyikan oleh Terry melalui jabat tangan tersebut.
“Saya bisa membantu anak-anak bapak. Asalkan bapak tidak membocorkan berita menghilangnya Alardo.”
Terry mempunyai rasa tidak percaya dengan ucapan Lucas. Akan tetapi jika ini menyangkut anaknya, dia rela melakukan cara apapun untuk menyembuhkan anaknya itu.
Di lain tempat, Alardo mencoba mengisi daya gelangnya dengan kekuatan sihirnya agar bisa menutupi identitas mata kirinya itu. ‘Aku harus
mengisi dayanya dengan cepat sebelum sampai.’ Perlahan-lahan tapi pasti, daya
gelang itu sudah sedikit terisi sebelum sampai. ‘Kurasa ini cukup untuk 30 menit.’ Mobil itu memasuki hutan yang tidak asing dengannya. Hutan gelap yang selalu dia bertanya waktu kecil dan juga hutan yang akan membawanya ke suatu kerajaan itu lagi. Dia tidak mmerasa takut maupun gentar melainkan dia merasa
penasaran dengan hutan dan juga kerajaan itu.
Tepat pintu mobil itu dibuka, dia menggunakan kekuatan gelang itu sehingga dia tidak perlu bersusah payah menutup matanya. ‘Ok,
sekarang lebih baik aku mengirit daya gelang ini dan juga aku mengunci pikiranku.’ Setelah berjalan beberapa langkah tangannya diborgol oleh seseorang yang tadi telah membawanya. Dia dibawa ke dalam suatu ruangan bawah tanah dan terkunci. Borgolnya belum dilepaskan oleh orang-orang tadi.
Dia menyentuh dinding di dekatnya, dia melihat keluar berapa orang yang berada di kerajaan itu dengan penglihatan sihirnya. “wah, banyak juga. Sebentar…. Ada dua orang yang menuju kesini. Aku harus bersikap biasa.”
Pintu terbuka dengan perlahan-lahan, muncullah orang yang memiliki mata
sepertinya.
‘Raja Jack?’ Tiba-tiba, raja Jack memeluk Alardo. Lalu, Raja itu menangis di pundak Alardo. Alardo semakin bingung dengan sikap raja jack. Raja jack melepas pelukannya dan menghapus air matanya.
“Apakah kamu terkejut karena aku memelukmu?”
Alardo hanya berdiam dan bilang didalam batinnya, ‘Tidak, aku tidak terkejut. Mengapa aku harus terkejut.’
“Nanti malam kita akan melakukan perjamuan makan untuk menyambut kedatanganmu kesini. Kamu harus bersiap-siap menggunakan baju yang sudah siapkan untukmu.” Pelayannya yang lain memasuki ruangan itu dengan
membawa sebuah setelan jas hitam lengkap dengan kemeja beserta dasi berwarna abu-abu. Sepatu pun juga sudah disiapkan juga. Setelahnya, mereka meninggalkan Alardo
sendiri di ruangan itu.
“Sekarang, apa yang harus kulakukan?!”