My Reincarnation and My Reincarnation 2

My Reincarnation and My Reincarnation 2
Kembali



Aku terbangun di pagi hari tetapi di kamarku lagi. Aku membuka semua tirai jendelaku.


Tring.


Aku melihat pesan di ponselku. Pesan ini berasal dari Alexander.


*Selamat pagi, Rachel. Hari ini, aku tidak bisa ke sekolah karena ada urusan mendadak di kastilku. Bisakah kamu memberikan alasan ini kepada guru?*


Aku menjawab pesan ini.


*OK. Bisakah kamu memanggilku dengan nama STEPHANIE?! AKU BUKAN RACHEL LAGI?!*


*Ok-ok.*


Dia membuatku kesal pagi-pagi.


“Hah, daripada mengurusi laki-laki yang tidak jelas ini. Lebih baik aku mandi dan langsung ke sekolah.”


Sesampaiku di sekolah, masih banyak siswa-siswi yang berada di luar kelas. Beberapa menit kemudian, bel sekolahpun berbunyi. Pelajaran pertama yang memasuki kelasku adalah kimia. Guru mulai mengabsen setiap murid. Di saat nama alexander, aku hanya mengatakan dia izin karena ada urusan.


Semua berjalan baik sampai malam ini. Aku menghubungi Alexander tapi dia tidak mengangkatnya. Mungkin dia lagi benar-benar sibuk. Setelah itu, aku pergi tidur. Malam ini, aku tidak bisa tidur dengan nyenyak karena aku merasa ada perasaan yang menggangguku.


“Urusan apa yang diurusinya?”


“Udahlah, ngapain aku ngurusin laki-laki ini? Ahhhh.”


Aku jadi sebal kepada diri sendiri. Dia adalah satu-satunya laki-laki yang bisa membuatku begini.


Saat pagi, aku mendengar bunyi bel rumahku. Aku langsung berlari ke arah pintuku. Aku mengira Alexander yang akan datang tapi seorang paruh baya menggunakan jas hitam dan kacamata yang bulat. Ia sangat rapih sekali.


“Nona Rachel. Bisakah nona mengikuti kami ke tuan Richard?”


Aku langsung mengikuti mereka tanpa menjawabnya. Aku hanya menggunakan jaket dengan muka bantal yang melekat.


Setelah sampai di kastilnya, aku melihat sekeliling lingkungannya hancur berantakan.


‘Apa yang terjadi disini?’


Pelayan perempuannya menghampiriku, bajunya sedikit robek diujung roknya.


“Nona, Bisakah mengikuti kami menuju ke kamar tuan?”


Aku hanya menganggukan kepalaku. Aku tidak berani menanyakan keadaan disini.


Kami melewati lorong yang gelap dengan pintu-pintu kamar yang tertutup rapat. Di tengah perjalanan kami, pelayan perempuan itu baru membuka suaranya.


“Tadi malam, kami di serang oleh para kaum serigala.”


“Serigala?”


“Hm, iya.”


‘Alexander, siapa kamu? Kamu makhluk apa?’


Tidak berselang lama, Kami sampai di depan kamar Alexander.


Aku melihat dia sedang tertidur lemas, wajahnya sangat tambah pucat, bajunya compang-camping, dan ada luka cakaran di wajahnya.


“Ra..chel..”


Aku berjalan ke arahnya seraya menjawabnya.


“Iya, aku disini.” Tiba-tiba, pintu kamarnya ditutup oleh pelayan perempuan itu.


Matanya langsung terbuka dan menyerangku dengan matanya yang merah. Dia menahanku di pintu kamarnya. Pundakku cukup terasa sakit karena dia.


“Darah, darah!” Dia berteriak kepadaku.


Dia langsung menghisap darahku.


“Maafkan aku, Richard. Aku telah meninggalkanmu dalam waktu yang lama.”


Aku seraya memegang kepalanya.


Dia melepaskan gigitan setelah mendengar ucapanku tadi.


“AHH!!!” Dia melepaskan tangannya.


“SUDAH CUKUP!” Dia berteriak kepada diri sendiri.


Aku melihat matanya berubah-ubah, merah menjadi cokelat dan seterusnya. Dia tidak sadar sudah menabrakan dirinya ke dinding yang jauh dariku. Aku berlari kearahnya dengan darah yang sudah mengalir dari leher dan wajahku yang terkena goresan kayu saat aku ditahan olehnya. ‘Aku bisa menahan rasa sakit ini.’


“Hei-hei! Aku disini!” Aku melihat mata sebelah kanannya masih merah dan yang sebelah kiri sudah menjadi cokelat.


“Aku tau kamu bisa menahannya, Richard.”


“BERHENTI!! KAMU BUKAN RACHEL!” Dia meneriakiku.


“Aku, Rachel yang kamu cari selama 500 tahun itu.” Aku berbohong untuk meredakan situasi ini. Aku melihat kedua matanya sudah menjadi cokelat. Sekarang, dia yang jatuh ke dalam dekapanku. Aku membaringkannya dengan sekuat tenaga yang tersisa. Tiba-tiba, tiga orang pelayan membawakanku salep untuk Richard, Air merah juga buatnya, dan terakhir salep buat diriku. Aku duduk di sebelah ranjangnya.


Setelah itu, aku mengoleskannya ke wajahnya. Hanya butuh beberapa detik saja, obat itu bereaksi. Aku melihat lukanya sudah menghilang. Giliranku untuk mengoleskan ke wajahku dan leher bekas gigitannya. Saat kuoleskan salep ke leherku itu lebih sakit dibandingkan yang berada di wajahku.


‘Aw. Tahanlah sedikit, Stephanie.’ Aku menguatkan diri untuk menahan rasa sakit yang ada di leherku ini. Tiba-tiba, aku mendengar dia menyebutkan nama itu lagi.


“Ra-chel.”


“Hm, iya.” Aku menjawabnya seraya memegang tangannya yang dingin.


Lalu, kami terdiam cukup lama sampai malam menyingsing. Tidak tersadar, aku pun ikut tertidur di sebelahnya.


“Aku tidak akan meninggalkanmu. Kaulah satu-satunya yang membuatku nyaman. Aku akan melakukan apapun demi dirimu. Segalanya akan kupertaruhkan walaupun nyawa yang kupertaruhkan. Meski kamu akan menyakitiku dan menjauhiku, aku akan tetap di sisimu dan mencarimu.”