My Reincarnation and My Reincarnation 2

My Reincarnation and My Reincarnation 2
Kesempurnaan (2)



Mereka bertiga sudah kembali lagi ke istana. Bianca mendatangi istana Richard lagi setelah situasi sudah mereda.


Bianca memeluk Lucas dengan erat. “Aku merindukanmu, Lucas.”


“Aku juga, Bianca.”


Frederra lebih memilih mengikuti Richard menuju kamar Stephanie. Sesampai di kamar Stephanie, Frederra menangis sambil mengelus tangan Stephanie.


“Richard, bolehkah aku meminta tolong untuk meninggalkan aku dengan Stephanie saja?”


Richard menganggukkan kepalanya. Dia menunggu di depan pintu kamar Stephanie.


‘Ah, akhirnya, semua sudah kembali seperti dulu.’


Lalu, Richard tersenyum sendiri disitu sambil mengingat awal pertemuan dengan Stephanie.


‘Hah, waktu telah berjalan terlalu cepat. Tidak terasa bahwa Stephanie sudah mengandung dari Raja Jack itu. Aku berjanji akan mengurus anak yang berada dalam kandungan Stephanie itu seperti anakku sendiri.’


Richard didatangi oleh pelayannya. “Tuan, ini minuman tuan.” Aku mengambil gelas yang berada di atas nampan itu dan membawanya ke taman belakang.


Udara sejuk sudah menyambut Richard disana. Sekarang sudah jam setengah tiga pagi, Richard melihat bulan yang berwarna merah itu seraya meminum darah yang berada di gelas itu.


“Kali ini, Aku ingin membaringkan tubuhku di rerumputan ini.” Tidak membutuhkan lama, Richard benar-benar tertidur pulas di atas rumput itu.


Siang telah menyapa, Stephanie mencolek hidung Richard itu di bawah matahari.


“Siapa itu?” Richard yang masih belum bisa melihat wajah Stephanie karena terlalu teriknya cahaya matahari yang berada di belakang Stephanie.


“Masa kamu tidak mengenaliku?! Ya sudah, aku pergi.” Akan tetapi, Richard langsung bangun dan memegang tangan Stephanie serta menarik ke dalam pelukannya. Seketika, dia langsung mencium bibir Stephanie dalam waktu yang cukup lama.


Bianca menjadi tersedak oleh air yang dia minum setelah dia melihat Stephanie dan Richard berciuman. Akhirnya, mereka berdua menghentikan ciuman mereka.


“Haha, maaf aku akan masuk kembali dan pura-pura tidak melihat tadi. Silakan kalian lanjutkan lagi kegiatan kalian.”


“Tidak apa-ap...” Stephanie belum melanjutkan kalimatnya karena Bianca sudah buru-buru masuk ke dalam istana.


“Ah, kamu tuh. Dia jadi masukkan, Richard.”


Richard membawa Stephanie ke ruang makan. Di ruang makan itu sudah ada Frederra, Lucas, dan Bianca. Mereka sudah menyediakan kue serta lilin yang menyala di atas kue itu. Richard menaruh Stephanie di kursi tepat depan kue itu.


“Happy Birthday, Stephanie!”


Stephanie sangat terharu melihatnya. Air mata haru sudah membasahi wajahnya.


“Maafkan aku sudah menyusahkan kalian semua. Keputusanku tidak tepat.” Frederra meninggalkan kursinya lalu memeluk Stephanie. Bianca juga mengikuti Frederra.


Bianca memberikan isyarat melalui pikirannya kepada Lucas dan Richard. ‘Hey, kalian berdua bisa baca pikranku kan? Ayo pelukan bersama disini. Dasar ga peka! Atau engga aku akan memukul kalian!’


Lucas dan Richard yang mendengar pikiran Bianca menjadi sedikit takut. Mereka langsung menuju ke Stephanie dan memeluk dia secara bersamaan.


Sudah lima menit berlalu, mereka sudah melanjutkannya dengan meniup lilin. Setelahnya, pelayan-pelayan Richard membawakan makanan yang cukup banyak.


Hari itu menjadi kenangan tidak akan mereka lupakan. Kesedihan, kemarahan, dan kerinduan sudah mereka lupakan. Di setiap diri mereka masing-masing sudah berjanji tidak akan mengungkit masa lalu yang sudah terjadi dan lebih memilih melanjutkan ke hari depan.


Pada malam hari, Richard menemui Stephanie di kamar Stephanie.


“Stephanie, aku ingin membicarakan ini denganmu.”


“Iya, aku akan mendengarkannya.”


“Maafkan aku di kehidupan masa lalumu karena aku tidak mencegah temanmu yang akan membunuhmu.” Richard menangis di depan Stephanie.


“Tidak apa-apa, Richard. Dengarkan aku, Richard.” Richard mencoba mengangkat kepalanya dan menatap ke Stephanie.


“Aku sebagai Rachel akan memberikan beberapa kalimat kepadamu. Aku sudah memaafkanmu dan temanku, Richard. Kamu tidak perlu merasa bersalah lagi. Aku mengerti alasanmu melakukan itu, Richard. Kamu bisa melepaskan rasa bersalah itu dan menjalani kehidupan abadimu, Richard.”


Mata Richard mulai berbinar mendengar hal itu, “Rachel..”


“Kamu mau berpelukan denganku, Richard?”


Richard langsung memeluk Stephanie. “Terima kasih, Rachel dan Stephanie.”


“Berbuat salah di masa lalu tidak bisa kita perbaiki lagi. Kita bisa mengubah keadaan yang berada di hari depan. Kita juga bisa mengantisipasi kesalahan di masa lalu itu tidak akan terjadi di hari depan.”