My Reincarnation and My Reincarnation 2

My Reincarnation and My Reincarnation 2
Richard II (1)



Aku sudah menyuruh pelayanku untuk mencari informasi tentangmu. Beberapa jam kemudian, semua pelayanku sudah kembali ke kastilku. Aku hanya berdiri di pinggiran danau buatanku sendiri.


“Tuan, kami kembali.” Secara serentak, semua memberi hormat kepadaku.


“Apa yang kalian dapat?”


“Dia bernama Stephanie. Dia berumur 19 tahun dan sekarang masih bersekolah di Saint Ruth School. Orang tuanya sudah meninggal semenjak dia berusia 13 tahun karena kecelakaan hebat di pusat kota. Dia hanya memiliki satu teman yang bernama Bianca. Dia memiliki bibi dan paman yang menyayanginya. Dia adalah satu-satunya yang akan menjadi penerus perusahaan milik orang tuanya. Dia memiliki sepupu yang bernama James yang seusianya dan Clarise yang berusia 15 tahun. Dia memiliki kekuatan semenjak orang tuanya meninggal yaitu bisa mendengar waktu kematian orang dan merasakan aura kematian yang semakin dekat dengan orang lain.”


“Ada lagi?” Aku tersenyum tipis kepada pelayanku.


“Sudah, tuan.”


“Apakah kalian bisa membantuku untuk mendaftarkan diriku ke sekolah itu? Tapi, kalian mendaftarkannya dengan nama Alexander Jonathan Pierre yang berasal dari Perancis sebagai murid pindahan. Terakhir, Aku mau sekelas dengannya.”


“Bisa, tuan.” Mereka langsung menghilang dari hadapanku. Aku hanya menunggu administrasiku sekitar satu hari saja.


‘Hari ini adalah waktunya bertemu denganmu secara dekat, Rachel.’


Aku sengaja datang terlambat sekitar 5 menit untuk memasuki kelas. Ada guru yang sudah menungguku di luar kelas. Aku berpura-pura lari kecil dan bersikap terengah-engah di hadapannya.


“Maaf, aku datang terlambat.”


“Tidak apa-apa, kamu murid baru disini. Jadi wajar, kamu terlambat. Apakah kamu sudah siap?” Aku menjawabnya dengan anggukan kepalaku.


Aku mendengarkan suara guru dari dalam untuk masuk ke dalam kelas. Aku memasuki kelas dan menunggu perintah berikutnya dari guru ini. Aku dapat melihat wajah siswa-siswi ini tercengang karena ketampananku. Aku hanya dapat terkekeh kecil di dalam hatiku.


“Perkenalkan dirimu terlebih dahulu.”


“Hai, namaku Alexander Jonathan Pierre. Aku berasal dari Perancis.”


Setelah itu, aku melihat semua bertepuk tangan untukku kecuali satu siswa yang duduk depan kursi kosong itu.


‘Dapat!’ Dia hanya terdiam dan memasang ekspresi terkejut melihatku. Sekarang, aku membaca pikirannya itu. Ternyata, dia hanya memberikan beberapa kata.


‘Dia orang yang kulihat di kebun binatang!’


“Silahkan duduk di belakang sana.”


Aku bisa mengetahui badannya bertambah kaku saat aku melewatinya. Kali ini, aku mau membuat kejutan buatnya. Aku mulai duduk dan sedikit berbisik di telinga kirinya.


“Hai, Stephanie” Tiba-tiba, ia mengangkat tangannya untuk ke toilet. Dengan jelas, dia bukan meminta izin untuk ketoilet tapi karena dia ketakutan. Sekitar 20 menit, Dia pun kembali ke kelas. Setelah pulang sekolah itu, aku disambut oleh pelayanku di kastil.


“Tuan,..” Aku melihat wajah mereka bahwa ada berita buruk yang akan terjadi.


“Ada apa?”


“Sekitar 13 hari lagi, kita akan menerima serangan besar dari bangsa serigala. Ini adalah bulan purnama terlama yang akan kita hadapi.” Aku sedikit terkejut kecil.


Namun, aku memasang muka yang bisa menenangkan mereka.


“Ok, pelayanku. Sekarang, kumpulkan para kaum bangsa vampire untuk datang ke kastil ini dan siapkan persediaan kantong darah untuk mereka. Oh, iya. Kalian jangan lupa berlatih bertarung.”


“Siap, tuan. Akan kami laksanakan.”


Selama tiga belas hari itu, setiap pagi aku menjaga Rachel dan saat sore sampai malam untuk kaum bangsaku. Aku hanya dapat berfokus kepada peperangan setiap bulan purnama ini. Semua pelayanku berlatih, para vampire pun ikut berlatih, dan tidak lupa diriku berlatih juga.


Hari itupun tiba, selama dua hari, aku menyerangnya dengan sekuat tenaga. Dua hari itu, aku tidak menemui Rachel sedikitpun. Sesampai di hari ketiga, aku membulatkan tekadku untuk menemui Rachel karena rasa rinduku kepadanya.


Dia membukakan pintu bagiku serta serangan yang mendadak dengan pisau. Dengan sisa tenagaku, aku menahan tangannya. Seketika itu, pandanganku menjadi buram dan jatuh di pundaknya.


Aku melihat ulang, kejadian dimana Rachel di bunuh oleh temannya tetapi aku tidak bisa melakukan apa-apa.


“Rachel, Rachel, tidak!” Aku langsung mengambil tangannya yang hendak mau keluar lagi.


“Jangan pergi lagi.” Dia membalikkan badannya.


Aku membuka mata dan membenarkan posisiku menjadi duduk. Aku tidak menyadari bahwa warna mataku berubah menjadi merah.


“JANGAN PERGI LAGI!” Aku semakin tidak terkendali dan mengeraskan peganganku di tangannya.


“Bisakah kau berdiam beberapa detik untukku? Aku sudah mencarimu selama 500 tahun?!”


Aku menarik tubuhnya ke dekapanku


“Bisakah kau menyadarinya, Rachel?” Dia terlihat tersentak saat aku menyebut nama Rachel.


Lalu, dia pingsan dalam dekapanku yang sudah tidak kurasakan beratus-ratus tahun lalu.


“Diamlah seperti ini, Rachel. Aku akan mengembalikan kenangan kita.” Aku mengangkat tubuhnya dan membawanya ke kastilku.


Setelah sampai di kastilku, aku melihat pelayanku untuk memberitahukan suatu kabar.


“Tuan, para kaum vampire akan balik ke asalnya terlebih dahulu dan kaum serigala akan mundur selama dua hari kedepannya. Alasannya juga belum jelas, tuan.”


“Baguslah, aku mau menjaganya lebih dekat lagi walau hanya dua hari saja. Tolonglah tetap waspada di sekitar kastil.”


Mereka langsung pergi, aku pun berjalan untuk membaringkan di kamar Rachel terdahulu. Sesudah itu, Aku meninggalkannya. Aku berjalan dengan lemas di Lorong gelap.


“Tuan.” Pelayan perempuanku membawakanku empat gelas darah kepadaku. Aku langsung meminumnya tanpa berpikir panjang.


“Mata tuan sudah kembali normal.” Aku berdiri tegak setelahnya.


“Kalian, jangan lupa untuk meminum juga. Lihat matamu.”


“Iya, tuan.”


“Iya satu lagi, Buatkan semua makanan manusia dari a sampai z. Jangan sampai ada terlewatkan sedikitpun.”


Dia langsung bergegas dan memberitahukan kepada semua pelayan perempuan untuk memasak makanan manusia.


Jam menunjukan angka lima sore, aku berniat mengecek kondisinya dari balik pintu ini. Aku melihat dia untuk mencoba berjalan. Dia terjatuh dan aku mencoba untuk membantunya berdiri.


“Alexander,..”


“Hmmm, aku bukan Alexander.” Aku mengangkatnya ke ruang makan yang sudah kunyalakan semua lampunya. Aku menempatkannya di kursi yang dekat denganku.


“Kamu mau apa? Aku akan mengambilkan untukmu.” Aku menawarkannya makanan dengan sopan.


“Siapa kamu sebenarnya?” Dia sedikit terheran melihatku.


“Oh, iya. Aku lupa memperkenalkan diri.”Aku memperkenalkan diriku dengan berdiri.


“Namaku adalah Richard Yerd Feinhard. Aku adalah Raja dari bangsaku.” Lalu, aku membungkukan badanku dan duduk kembali seperti semula. Aku mulai membaca pikirannya