
Amarahku keluar tidak karuan beserta kekecewaan yang melonjak naik. Sehingga mengeluarkan aura hitam sehingga dapat memecahkan ikatan besi yang tadinya terikat di diriku. Dengan setengah kesadaranku, aku juga membuka ikatan Richard. Setengah kesadaranku yang lain telah terselimuti oleh aura hitam yang mengelilingiku sekarang. Sebelah tangannya menopang tubuhnya dengan menjadikan pundakku sebagai pegangannya.
Kami belum mendekati pintu penjara itu, pintu itu sudah terdobrak oleh segerombolan penjaga berbaju zirah beserta dua serigala yang sekarang tepat berada di depan kami. Dari belakang mereka muncullah raja sialan itu dan Luther.
“Kalian mau kemana? Kitakan belum selesai pestanya,” pungkas raja itu kepada kami.
“Pesta? Apa ruangan ini bisa disebut ruangan pesta? dan apa ada pesta yang tamunya dikurung dan diikat di ruangan ini?” Aku memasang nada yang menyinggungnya.
“Hahaha, itu namanya permulaan dari sebuah pesta. Benarkan, Luther?”
“Iya.” Jawaban Luther seperti biasa dengan nama hormat dan elegan di depan raja itu.
“Nah, ini baru yang dinamakan pesta. Serang mereka! Jangan sampai mereka lolos dari penjara ini!”
Aura hitamku yang menyerang mereka tanpa ampun. Hanya beberapa detik, mereka terkapar tidak berdaya di tanah.
“Mau kemana kalian? Oh iya, siapa namamu? Iya-iya aku baru ingat. Namamu adalah Raja Jack dan teman setianya, Luther.” Mulutku menunjukan senyum kepada mereka tapi mataku berlinang air mata. Aura hitamku makin bertambah sangat banyak. Luther menyerangku dengan sihirnya tapi auraku melindungi kami berdua dari serangan itu. Serangan itu terpantul lagi ke arah mereka.
Mereka dengan cepat dapat menghindari pantulan itu. Aku berjalan melewati mereka dan auraku membuat mereka tidak sadarkan untuk beberapa saat.
‘Itu cukup bisa mengulur waktu untuk kami keluar dari sini! Tapi tidak cukup untuk dendamku atas kecelakaan yang menimpa keluargaku sehingga orangtuaku meninggal! Aku akan kembali membalaskan dendam kepada kalian!’ Setelah kami keluar dari kerajaan serigala itu, aku menghela nafasku dengan berat. Itu membuat hatiku lebih baik dan aura hitam itu menghilang dengan sendirinya. Lalu, aku berlari menuju istana Richard dengan tetap menopang Richard.
Sesampai di istana Richard, kami disambut oleh bibiku, Bianca, dan Lucas. Aku melihat Lucas yang juga sedang ditopang oleh Bianca.
“Lucas, ada apa denganmu?”
Lucas memasang senyumannya seraya menjawabku, “tidak apa-apa, mungkin aku hanya kelelahan.”
‘Pasti karena aku.’
“Tidak, Stephanie.” Richard dan Lucas menjawabnya secara serempak.
“Ok-ok.” Bibi dan Bianca menyuruh kami masuk ke dalam dulu agar perbincangan kita bisa lebih nyaman.
Pelayan yang melayani Richard memasuki kamar ini dan memberikanku salep yang pernah kulihat sebelumnya. Lalu, aku mengoleskan ke tangannya yang terluka. Dia meringis kesakitan saat ku oleskan.
“Aku keluar dulu ya, Richard.” Dia menggenggam tanganku.
“Jangan pergi lagi ya, Steph.” Aku tersenyum seraya mengangguk kearahnya dan melepaskan genggaman tangannya.
Lalu, aku melihatnya lagi dari pintu dan dia sudah tertidur.
Sesudahnya, aku, bibi, dan Bianca berkumpul di ruang tengah.
“Anak kesayangan bibi, apa kamu baik-baik saja? ” Bibiku mengecek wajahku yang terlihat lusuh.
“Aku baik-baik saja, bi.”
“Benarkah?”
“Benar, bi. Oh iya, apa yang sedang terjadi dengan Lucas, bi?”
“Biar Bianca saja yang menjelaskan.” Bibi memindahkan pandangannya kepada Bianca.
“Jadi, dia sedang kelelahan dan terkena hipoksia atau kekurangan oksigen. Sehingga, dia harus beristirahat beberapa saat sampai keadaannya pulih kembali.”
“Dia kelelahan karena kalian mencoba mencariku dan mencoba mengeluarkanku dari sana?” Bibi dan Bianca hanya dapat mengangguk saja. Aku menangis di hadapan mereka.
Setelahnya, mereka mendekati dan memelukku.
“Tidak apa-apa, Steph. Yang penting sekarang, kamu sudah disini. Itu sudah membuat kami sangat senang.”
“Bibi juga senang kamu melihat kamu tidak ada yang terluka,” sambung bibiku. Di ruangan itu menjadi tempat kami berisak tangis haru bersama.
“Aku tidak sadar bahwa disini aku dirindukan dan dicintai oleh orang-orang yang kukenal. Aku menjadi ragu kepada diriku sendiri. Apakah aku akan tetap membalaskan dendamku atau tidak?”