My Reincarnation and My Reincarnation 2

My Reincarnation and My Reincarnation 2
S2: 8. Terlambat



Lucas dan Richard membuat cairan Jade Vine selama sehari semalam. Mereka bergerak cepat dan memberikan cairan itu ke Alardo. Hasilnya baru terlihat setelah 30 menit kemudian. Mata Alardo mulai terbuka sedikit demi


sedikit. Dia mulai memanggil mamanya dengan  suara lirih. Alardo mengeluarkan satu tetes airmatanya.


”Iya-iya, mama disini.”  Semua mata langsung tertuju ke Alardo.


“Terima kasih semuanya.” Alardo mencoba untuk duduk. Keringat banyak bercucuran di wajah Alardo. Mamanya mengecek suhu badan Alardo dan Alardo masih hangat tidak seperti suhu normal miliknya. Semua menanyakan


bagaimana keadaanya tapi dia menghiraukannya. Alardo lebih memilih menyempatkan


menengok ke belakangnya.


“Bibi!” Dia berjalan dengan sempoyongan menuju bibinya itu. Semua orang mencoba membantunya untuk berjalan. Akan tetapi, dia menolak tawaran itu. Lalu, dia menggenggam tangan bibinya itu dan menyerap rasa sakit


yang dirasakan oleh bibinya. “Selamat bibi.” Dia jatuh pingsan lagi dengan tersenyum. “Alardo-alardo, bangun-bangunlah!” suara sayup-sayup yang tidak terdengar oleh Alardo.


Satu malam lagi sudah berlalu, Alardo terbangun serta melihatnya tangannya sedang digenggam oleh perempuan yang telah


diselamatkannya. Perempuan itu juga sedang tertidur terlelap diatas tangannya


yang menggenggam tangan Alardo. Alardo hanya bisa tersenyum-tersenyum sendiri.


‘Kamu sepertinya lelah..’


Alardo mencoba mengelus rambut perempuan itu. Tiba-tiba, perempuan itu terbangun seraya melepas genggaman tangannya. Perempuan itu berjalan mundur menjauhi kasur.


“Maaf, tuan. Maaf-maaf.”


“Tidak apa-apa. Oh iya, nama kamu siapa?”


“Nama saya Grizelle, tuan.”


“Tidak perlu memanggil saya tuan. Panggil saja saya Alardo.”


“I-iya, tu-- Iya, Alardo.”


Alardo mendekati Grizelle kemudian secara spontan memeluknya. “Grizelle nama yang bagus. Sesuai dengan namamu, kamu wanita pejuang yang cerdas. Kamu akan baik-baik saja disini.”


“Ta-tapi, tuan..”


Alardo melepaskan pelukannya dan bertanya kepadanya, “Ada apa?”


“Aku perlu pulang ke rumah saya. Saya sudah tidak melihat ayah saya selama empat tahun. Saya ingin melihat dan mengurus ayah saya. “


Alardo terdiam sejenak dan  melihat mata Grizelle sudah berkaca-kaca. “Ah, ya sudah kalau itu maumu. Aku akan mengijinkanmu untuk pulang ke rumahmu.”


“Hmm, iya. Sekarang, kamu mau kuantar ke rumahmu?” Belum dijawab oleh Grizelle, dia mengambil tangannya kemudian dia taruh di


pundaknya. “Pegang yang erat. Oh, iya, pikirkan rumah kamu ya” Dia menjentikkan


jarinya. Satu menit kemudian, mereka telah sampai. Rumahnya yang sederhana hanya dikelilingi rotan anyam dan atapnya hanya ditutupi oleh ilalang. Grizelle langsung berlari masuk ke dalam rumahnya sembari diikuti oleh Alardo. Ayahnya sedang terbaring sambil terbatuk-batuk.


“Ayah!” Tangis haru dan rindu sudah pecah diantara anak dan ayah. Dia memasaki bubur dan mengelap wajah ayahnya. Selanjutnya, Alardo sudah menyediakan beberapa pertanyaan kepada Grizelle.


“Maaf, Grizelle. Dimana ibumu?”


“Ibuku sudah tiada dari aku lahir. Tidak apa-apa jika kamu menanya...”


Beberapa detik kemudian, Alardo menghentikan bicaranya Grizelle, “ssst, sepertinya aku mendengarkan langkah kaki. Ayo kita sembunyi!” Alardo menarik tangan perempuan itu tapi ditolak.


“Kenapa?”


“Aku akan menghadapinya, Alardo. Aku ingin disini bersama ayahku.”


“Tapi jika orang itu adalah kaum serigala, bagaimana denganmu? Kamu akan terluka lagi.”


“Tidak akan terjadi apa-apa denganku. Percayalah padaku, Alardo.” Suara sendunya membuatku terdiam. Aku hanya bisa membuat dia jatuh pingsan lagi dengan sekali jentikan jari. “Maafkan aku. Aku berjanji akan membawa


ayahmu.” Tepat alardo sudah menghilang dari tempat itu, segerombolan orang masuk ke rumah itu dan menggeledah semua sudut.


Alardo tiba di istana pamannya. Semua orang menatap dia dan perempuan yang sedang digendongnya.


Mamanya yang menayakan terlebih dahulu ke Alardo, “Apa yang terjadi, Alardo?”


“Aku meminta tolong kepada semuanya. Tolong jaga dia. Jangan sampai dia kabur.”


“Ya, sudah. Berikan perempuan itu kepada paman.” Alardo menyerahkan Grizelle ke Lucas. Baru saja Alardo mau pergi, langkahnya


dihentikan oleh papanya. “TERUS KAMU MAU KEMANA?!”


“Aku harus menolong seseorang, pa… Biarkan aku pergi, pa.” Hati Richard tidak mampu melihat anaknya yang sudah menitihkan satu tetes air mata dari matanya. Akhirnya, Richard merelakan Alardo pergi.


“Hati-hati ya!”


Alardo sudah berteleportasi ke rumah milik Grizelle lagi. Alardo melihat ke dalam rumah itu, semua barang sudah berserakan dan ayah


Grizelle sudah tidak ada di rumah itu.


Alardo menangis seraya bertekuk lutut di dalam rumah Grizelle, “Aku terlambat, aku sudah terlambat.”