My Reincarnation and My Reincarnation 2

My Reincarnation and My Reincarnation 2
Richard III (6)



‘Bagaimana ini bisa terjadi?’ Aku masih memegang bingkai itu dengan gemetar. Memori itu terus terngiang-ngiang hingga hari ini. Stephanie berteman dengan yang membunuhnya dulu.


“Letakkan foto itu. Biarkan saja itu. Zaman sekarang ya sekarang dan dahulu ya dahulu. Kita tidak bisa menyalahkan dunia ini. Yang penting sekarang keselamatannya, ok?” Lucas bersikap tegas kepadaku.


Kita melangkahkan keluar dari kamar Stephanie. “Gimana kalau kita menginap disini sampai besok sore? Mumpung disini banyak kamar kosong. Iya kan, Richard?”


“Aku setuju. Mungkin untuk satu malam tidak akan ada pergerakan apa-apa di kaum serigala.” Kami memilih kamar yang dekat dapur di lantai bawah.


Disana, aku tidak tertidur sama sekali karena untuk menjaganya. Lucas sudah mendengkur sangat keras hingga aku membangunkannya karena sudah pagi hari.


Aku mendengarkan setiap langkah kaki Stephanie yang akan ke supermarket. Kami memilih untuk tidak membututinya dan tetap tinggal di rumahnya. Lucas melihat isi lemari dapur dan memasak mie instan untuknya.


“Richard, apa kau mau?”


“Tidak.”


“Ya, sudah.” Dia menyeruput mie itu dengan keras.


“Bisakah kau kecilkan suaramu itu?” Dia tidak menjawab lewat mulutnya tapi lewat pikirannya.


‘Ok, tuan Richard.’ Aku terkekeh mendengarnya. Aku memalingkan pandanganku ke sekeliling rumah itu. Aku membayangkan Stephanie yang kesepian disini. Semua yang ada disini terasa gelap, hampa, dan sunyi. Tidak seperti di kerajaanku yang mempunyai pelayan yang banyak dan tidak seperti di Negeri sihir yang penuh keramahan antar sesamanya.


Lucas mengusik lamunanku yang hanya sebentar saja.


“Hei Richard!” Aku menengok ke arahnya. Betapa terkejutnya, dia melihat mataku yang merah. Dia segera mengambil pisau dan gelas. Lucas mengiris pergelangannya untukku.


“Richard, ini tidak ada pilihan lain. Aku memang penyihir tapi aku juga manusia. Walaupun manusia tidak bisa berumur 2000 tahun. Kamu juga mau menyelamatkan Stephanie. Bagaimana kamu bisa menyelamatkannya dengan tubuh yang lemah seperti itu.” Dia menyodorkan gelas itu.


“Akhirnya..” Dia mengambil perban dari saku jubahnya dan melilitkan ke pergelangannya. “Aku mungkin membutuhkan penyembuhan lebih lama dibandingkan dirimu.” Aku menyudahi meminum serta mengelap mulutku.


“Aku akan membereskan semua ini. Lucas, kamu duduk aja di ruang tamu.”


“Yes, dengan senang hati sekali.” Aku bisa mendengarkan Lucas yang menggonta-ganti acara tvnya. Mungkin dia merasa bosan dengan acara yang dibuat oleh manusia.


Setelah selesai, aku menuju ke arahnya. Wajahnya sudah telungkup ke bawah seperti kejadian dimana dia ditolak oleh seorang gadis manusia untuk beberapa kali. Beberapa kali, dia sudah mengungkapkan perasaannya kepada gadis manusia dan itu semuanya ditolak mentah-mentah. Televisi itu aku matikan karena sudah tidak ditonton lagi.


Beberapa detik kemudian, aku mendengar pintu gerbang rumah yang terbuka. Kami langsung berlari menuju kamar yang kemarin. Waktu yang tepat, Stephanie memasuki rumahnya.


“Richard, ayo kita kembali ke rumahku.” Aku memegang pundaknya.


Kami memasuki ruang perpustakaan itu dan mengintai kerajaan serigala lagi. Disana, kami melihat masih ada yang tetap berjaga tapi ada yang aneh.


“Richard, apakah kemarin kita melihat jumlah penjaga hanya segini?”


“Coba aku melihatnya.” Richard membelalakkan matanya.


“Ayo kita ke kerajaannya,” lanjutku kepada Lucas.