My Reincarnation and My Reincarnation 2

My Reincarnation and My Reincarnation 2
Persiapan (1)



Kemarin adalah hal yang melelahkan sampai kami bisa tertidur nyenyak sampai kesiangan. Aku yang terbangun pertama kali dibandingkan mereka. Aku akan mengunjungi kamar Richard lagi. Aku tidak akan mengetuk pintunya dan akan mengendap-ngendap untuk masuk ke dalam kamarnya. Alasannya adalah aku ingin mengagetkannya. Sebelum aku mendekatinya, dia sudah berbicara terlebih dahulu walaupun matanya masih tertutup rapat.


“Stephanie, kamu mau mengagetkanku ya?” Lama-kelamaan matanya terbuka sedikit demi sedikit. Aku hanya bisa terdiam di tempat dalam keadaan siap untuk mengagetkannya.


“Ahhh, gak seru nih, Richard!” Aku melipat tanganku di depan dan memalingkan mukaku ke arah sebaliknya. Aku mendengar langkah kaki Richard yang mendekatiku dan memelukku dari belakang.


“Steph...” aku hanya menjawab dengan dehaman saja karena saking kesal.


“Mau tau ga? Apa yang membuatku sangat senang dan bersyukur sekali di sepanjang hidupku?”


“Apa?” Aku mencoba sedikit merendahkan intonasiku.


“Yaitu kamu. Kamu adalah segalanya bagiku, Steph. Terima kasih sudah hadir kembali di dalam hidupku, Steph. Aku tidak akan henti-hentinya berterima kasih dan mengucapkan cinta kepadamu. Kamu bagaikan sinar matahari bagi kehidupanku yang sekarang.” Aku mendengar hal itu meleleh hatiku dan membuatku tersipu malu lagi. Pipiku mulai memerah seperti biasa. Aku melepaskan ikatan tanganku yang tadi akibat kemarahanku sejenak.


Richard mencoba membalikkan badanku ke hadapannya sehingga kami bisa saling bisa menatap satu sama lain dengan jarak yang sangat dekat. Dia mencium keningku dan membuatku tidak bisa berbuat apa-apa. Tiba-tiba, Lucas membuka pintu kamar Richard tanpa mengetuknya juga. Seketika itu, kami langsung menjauhi satu sama lain.


Aku melihat di belakang Lucas ada bibi dan Bianca.


“Hmm, ini bukan seperti yang kalian pikirkan. Beneran deh,” ucapku dengan sangat kikuk.


“Masa?,” tanya Lucas.


“Iya beneran! Bantuin dong, Richard!,” Tubuhku gemetaran gugup karena belum bisa memberikan penjelasan yang detail tentang kejadian tadi.


Akhirnya, Richard membuka suara, “iya, Stephanie benar. Itu bukan seperti yang kalian pikirkan.”


Lucas mendekati Richard dan menepuk-nepuk pundak sebelah kanan Richard.


“Tidak apa-apa, Richard. Itu adalah urusan kalian berdua. Bukankah kalian nanti akan menjadi pasangan yang sah di pernikahan nanti?” Richard menganggukkan pelan mendengar jawaban Lucas.


Bibi dan Bianca mendekati kami bertiga. Bibi bertanya apa yang akan kami persiapkan untuk acara pernikahan nanti. Aku dan Richard belum memikirkan persiapan itu.


“Jadi kalian belum mempersiapkannya? Richard, kamu hanya melamar Stephanie dan belum memikirkan tentang pernikahan kalian berdua?” Pertanyaan dari bibi ke kami berdua terutama kepada Richard. Kepala Richard mengangguk dan menunduk semakin dalam. Akhirnya, Bibilah yang akan mengambil alih persiapan pernikahan kami berdua.


Bibi mengusulkan untuk pernikahannya bulan depan di tanggal 15 dan acaranya akan dilakukan di halaman belakang istana ini. Tamu yang akan diundang adalah semua kaum Vampire dan kaum penyihir dari segala penjuru, keluarga bibiku, dan Bianca. Kami menyetujui usulan itu dan menyerahkan semua urusannya ke dalam tangan bibiku. Richard hanya ingin menambahkan kalau dia mau diadakannya pesta dansa topeng saat malam hari.


“Ok, semua usulan itu akan bibi catat dalam buku bibi nanti agar bibi tidak melupakannya. Soalnya, akhir-akhir ini bibi suka lupa. Maklum, bibikan sudah tua,” ucap bibiku.