
Author’s POV
Stephanie berada di istana serigala. Luther menyegel kekuatan Vampire milik Stephanie. Luther membuang cincin pernikahan yang dikenakan oleh Stephanie juga.
Satu minggu kemudian....
Stephanie tersadar dan seseorang sedang menungguinya. Dia memegang kepalanya karena rasa sakit yang melandanya.
“Apa yang telah terjadi? Dimana aku?”
“Seminggu yang lalu, kamu terjatuh dari tangga dan kepalamu terbentur. Sekarang, kamu ada di istana serigala, adikku tersayang,” seraya mengelus rambut Stephanie. Luther mengarang cerita demi keamanan bersama.
“Kamu siapa?”
Luther berpura-pura menghela nafasnya untuk meyakinkan Stephanie, “ya ampun, Leana. Masa kamu sudah lupa dengan kakakmu sendiri?”
“Kakak?”
“Iya, kakak. Aku bernama Luther.”
“Orang tua kita dimana, kak?” Luther memutar balikan pikirannya dan mencari jawaban yang pas.
“Hmm... orang tua kita telah tiada sejak kamu lahir, Lea. Jadi, kita diasuh oleh raja serigala.”
“Ok.”
Pintu terbuka dan masuklah Jack sambil menyapa mereka berdua. “Halo, Luther. Dia sudah baik membaik?”
“Iya, tuan. Leana beri hormat ke Raja serigala.”
“Oh, iya-iya, kak.” Stephanie langsung menuruti Luther.
‘Jadi kamu memberikan namanya Leana?’ Jack bertanya kepada Luther melalui pikirannya.
‘Iya, tuan.’
‘Nama yang bagus.’
‘Terima kasih, tuan.’ Stephanie keheranan melihat mereka seperti berdiam diri dan sambil menatapku.
“Ok, Leana. Aku raja serigala, Jack Arsene. Kamu bisa memanggilku Jack saja ya, Lea. Jangan memanggilku tuan seperti kakakmu saja. Dia sudah kuperingatkan untuk tidak memanggil tuan tapi tetap saja memanggilku tuan. Ingat itu ya, Lea.”
“Tuan..” Luther mengisyaratkan untuk jangan seperti itu.
‘Aku tidak enak padamu, tuan.’
‘Tidak apa-apa. Percayalah padaku.’
Stephanie mengangguk senang akan kehadiran raja serigala itu. Jack menanyakan keadaannya apakah sudah membaik atau belum. Setelah itu, Jack menyuruh para pelayannya membawakan beberapa gaun yang sangat anggun dan elegan untuk Stephanie.
“Ini semua untukmu ya.”
“Terima kasih, Jack.” Stephanie menunduk hormat kepada Jack. Jack keluar dari kamar itu sambil mengajak Luther juga.
Stephanie yang ditinggalkan sendirian, dia mencoba semua baju yang diberikan raja serigala itu satu persatu. Dia menyukai semua baju itu. Dia terlalu senang sampai mau berdansa sendiri di kamar yang luas itu.
Sampai akhirnya dia merasa kelelahan dan ingin melemparkan dirinya ke ranjang tadi.
“Wah, aku tidak menyangka kakakku berkenalan baik dengan raja serigala itu. Dia sangat keren, baik, dan ...,” terhenti sejenak untuk membayangi wajah Jack saat di kamar itu.
Satu kalimat terlintas dipikirannya, ‘apakah aku bisa menjadi pasangannya ya? Diakan raja, mana mau denganku.’ Luther memasuki kamar itu dan membawakan sebuah nampan yang berisi makanan dan minuman jus melon. Stephanie langsung beranjak dari kasur sambil menatap makanan yang dibawa Luther.
“Kak, sini aku yang bawa. Ini buat aku kan, kak?”
“Iya, Leana,” sambil mengacak-ngacak rambut Stephanie. Stephanie duduk di sofa, lalu memakan makanan itu.
Disela-sela dia makan, Luther bertanya satu hal kepadanya, “Hmm, Leana. Apakah beberapa minggu ini mau belajar sihir dengan kakak?” Stephanie mulai tersedak mendengar kalimat itu.
“Hem, minum dulu ini.” Luther mengambilkan segelas jus melon ke Stephanie. Dia sedikit meneguk hanya buat menghilangkan sedakannya saja.
“Aku seorang penyihir, kak? Benarkah itu?” Luther mengangguk seraya tersenyum.
“Aku mau, kak. Sekarang juga boleh,” nada semangat yang membara.
“Ok, cepat habiskan makanannya. Nanti kita bisa latihan.”
“Siap, kak.” Dia mempercepat makanannya karena sudah tidak sabaran untuk belajar sihir.
30 menit kemudian...
“Ayo, Leana. Kamu pasti bisa membuat sihirmu berbentuk panah.”
“Sebentar, kak. Aku hanya bisa membuat tombak saja dari tadi.” Stephanie cemberut di depan Luther.
“Ada apa ini?” Tiba-tiba, Jack muncul di belakang mereka.
“Sejak kapan kamu datang, Jack?,” Stephanie menebar senyuman ke arahnya.
“Sstt, jangan langsung bertanya seperti itu. Beri hormat dulu kepada raja.” Luther memaksa Stephanie untuk menunduk hormat.
“Tidak apa-apa, Luther. Aku mengerti, mungkin dia terlalu senang melihatku. Ayo kesini.” Jack melambaikan tangan ke Stephanie. Stephaniepun langsung berlari dan memeluk Jack.
“Apa kamu merindukanku?”
“Iya!”
“Bolehkah aku melihat latihanmu?” Stephanie mengangguk senang dan berlari ke Luther sambil menarik tangan Jack.
Setelahnya, Stephanie menarik nafas dan membuatnya agar lebih fokus lagi. ‘Ayo, Steph! Kita buat mereka terkagum!’
Dalam beberapa detik, sihirnya dapat membentuk panah yang sempurna. Ia melemparkan anak panahnya ke pohon yang berjarak 1 km dari posisinya.
“Aku bisa kan, kak?”
“Hebat kamu, dek.” Dia tersenyum karena berhasil melakukan dengan benar bahkan jauh lebih berhasil dari diri Luther.
“Kamu mau makan apa buat nanti, Leana?”
“Apapun, aku akan ikut saja.”
“Ok. Pelayan tolong buatkan kami jamuan makanan daging yang sangat enak ya.” Pelayan-pelayan yang sedari tadi di belakang Jack itu bergegas masuk dan membuat apa yang telah diperintahkan Jack. Jack, Stephanie, dan Luther memandangi awan-awan di atas mereka. Sebelumnya, awan-awan itu berwarna biru terang tetapi sekarang berwarna keabu-abuan. Itu menandakan hujan akan segera turun.
“Ayo, kita juga ikut bergegas masuk!,” ajak Jack ke mereka berdua.
*pengumuman*
Di bab berikutnya nama Stephanie akan diubah sementara menjadi Leana. Jadi, diharapkan jangan bingung ya. Saya hanya mengikuti alurnya saja. Terima kasih atas perhatiannya 😊😊😊.