My Reincarnation and My Reincarnation 2

My Reincarnation and My Reincarnation 2
Richard X



“Aw, kepalaku sakit.” Aku mencoba untuk bangkit berdiri. Aku memalingkan pandanganku untuk melihat sekelilingku. Para tamu, bibi, paman, Lucas, dan Bianca dalam posisi tidak sadarkan diri. Selama 10 menit, aku berusaha untuk membangunkan mereka tapi apalah daya, mereka belum tersadarkan.


Baru aku tersadar bahwa Stephanie menghilang dari acara ini. Aku mencarinya ke dalam istana. Aku berteriak memanggil namanya tapi tetap saja tidak ada sautan yang menjawabku. Aku juga melihat seluruh pelayanku bergeletakan di lantai. Mereka dalam tidak sadarkan diri.


Aku terus mencari Stephanie dari bawah sampai atas, dari ujung kanan sampai kiri, dan dari dalam sampai ke luar. Aku juga mencari di semak-semak, siapa tau dia bersembunyi di semak-semak untuk mengejutkanku. Aku sudah di luar gerbang istana dengan terengah-engah dan berteriak keras disana.


“STEPHANIE, KAMU DIMANA?!” Setelahnya aku mengecilkan suaraku sambil mengeluarkan air mataku. “Kamu sudah berjanji denganku untuk tidak pergi lagi dariku. Kenapa kamu mengingkarinya? Apa yang terjadi, Steph? Apa aku yang salah?”


“AHHH!!!” Teriakku semakin keras karena merasa kesal ke diriku sendiri. Tiba-tiba dari belakangku, suara Lucas terdengar memanggilku. Aku membalikkan badan dan mendapatkan Lucas yang berada jauh di belakangku. Dia berjalan mendekatiku dengan sempoyongan. Aku menghampirinya terlebih dahulu sebelum dia bisa terjatuh. Aku menopang dia agar bisa berjalan dengan baik.


“Dimana Stephanie?,” lirihnya.


“Dia menghilang.”


“Apa kamu sudah menemukannya?”


“Belum,” seraya menggelengkan kepalaku.


“Aura istanamu sudah dikelilingi oleh sihir hitam. Kita semua dibuat tidak sadarkan diri dari jarak jauh menggunakan sihir hitam.”


“Bukankah hanya Stephanie yang bisa melakukannya?”


“Sepertinya bukan Stephanie yang melakukan ini. Jika dibandingkan sihir Stephanie, ini jauh lebih besar lagi.”


“Apa kamu bisa melacaknya siapa dalang dibalik semua ini?” Lucas hanya bisa menggelengkan kepalanya. Melihatnya seperti itu, membuatku semakin putus asa akan keberhasilan bertemu lagi dengan Stephanie.


“Apakah hanya kita saja yang baru sadar, Lucas?” Dia menjawab dengan anggukan. Aku mengantar Lucas terlebih dahulu ke kamarnya. Setelahnya aku mencoba membawa Bianca, bibi, paman, serta anak-anak dari bibi juga ke satu per satu kamar yang masih kosong. Para tamu juga akan kubawa satu persatu tanpa tersisa ke kamar. Para pelayanku, aku antar ke ruangan kamar mereka yang berada di lantai bawah tanah.


Sekiranya sudah selesai pekerjaanku, aku meminum darah sebanyak lima kantung darah. Aku tidak pernah merasakan sehaus ini.


‘Apa ini efek dari sihir hitam?’ Aku termenung sebentar dengan pikiran kosongku.


Aku menggelengkan kepalaku untuk menyingkirkan pikiran kosongku itu, ‘hah, sekarang yang terpenting adalah mencari tau dimana Stephanie.’


Bibi Stephanie menghampiriku dengan jalan sempoyongan juga sambil memegang kepalanya.


“Richard, apa yang telah terjadi? Dimana Stephanie, Richard?”


“Maafkan aku, Frederra. Stephanie telah menghilang.”


“APA?!! Bagaimana bisa terjadi?”


“Aku tidak tau, Frederra. Disaat aku tersadar, aku sudah tidak melihat Stephanie di depanku.” Aku menopangnya untuk duduk di kursi makan.


“Frederra, kamu tetap disini. Aku akan membuatkanmu cokelat panas.” Dia membisu tanpa suara. Aku khawatir dengan keadaannya yang mungkin sangat memikirkan keberadaan Stephanie.


Setelah selesai membuatkan cokelat panas, aku kembali kepada Frederra. Aku memberikannya dan dia mengucapkan terima kasih. Lalu, aku duduk bersebelahan dengannya.


“Apa Stephanie akan terluka?”


“Frederra...” aku mengecek keadaannya apakah dia baik-baik saja. Dia menengok ke arahku serta matanya yang sudah terbuka dengan iris matanya yang berubah menjadi putih. Dia mematung tanpa sebab. Aku mengguncangkan badannya agar dia sadar. Akan tetapi, ini tidak berhasil.


‘Tunggu, Frederra...’ Aku menggendongnya sambil berlari ke kamar Lucas.


Aku langsung membuka kamar Lucas tanpa mengetuknya. Lucas bergegas berdiri dan membiarkan Frederra yang tidur di tempat tidurnya.


“Lucas, apa kamu sudah membaik?”


“Sudah..”


“Ada apa dengannya, Richard?,” sambungnya.


“Tadi, dia tiba-tiba mengucapkan sesutu yang tidak bisa kumengerti. Saat aku memanggilnya, dia berbalik badan ke arahku dengan begini.” Setelah Lucas mendengar penjelasanku, dia menghela nafasnya dengan sangat berat.


“Sihirnya kembali..” Dia berbicara dengan sangat pelan.


“Apa, Lucas?!”


“Iya, segelnya terbuka, Richard. Karena dia sudah lama menyegelnya, jiwa dan raganya sedang tolak-menolak satu sama lain akibat kehadiran sihirnya itu kembali. Kemungkinan yang terjadi adalah sihirnya akan meletup keluar dari mulutnya seperti teriakan dan menghancurkan sekelilingnya.” Lucas menjelaskan dengan sangat detail.


“Oh, gitu.” Lucas dan aku baru tersadar dengan kata-kata terakhir yang dia ucapkan sendiri. Kami saling melirik satu sama lain.


“Ayo, kita bawa dia ke hutan terlebih dahulu.” Lucas memberikan ide ke diriku.


Aku langsung menggendong Frederra ala bridal style. Lucas memegang pundakku dan kami berpindah ke hutan dengan sekali jentikannya.


Kami menaruh Frederra di bawah pohon. Kami mengawasinya dari jauh. Lima menit kemudian, Frederra berteriak dengan sangat kencang sampai kami menutup kedua telinga. Kami juga melihat pohon-pohon yang terkena teriakannya itu menjadi tumbang. Sehabis itu, Frederra jatuh pingsan lagi. Kami membawanya balik ke istana dengan teleportasi. Kami membaringkannya ke tempat tidur. Aku dan Lucas meninggalkannya di dalam kamar. Kami membiarkan celah pintu terbuka sedikit.


Aku menanyakan sesuatu kepadanya, “bagaimana kamu bisa tau kalau itu akan terjadi?”


“Hmm, selama kita membagikan undangan itu, kita masih punya waktu luangkan?” Aku hanya membenarkan yang dia ucapkan.


“Nah, disaat itu aku sempat mampir ke istanaku lewat teleportasi dan mengambil beberapa buku yang belum sempat baca tentang dunia sihir. Salah satunya adalah mengenai dampak dari sihir hitam. Sekarang, Kita dibuat pingsan oleh sihir hitam, Richard.”


“Bukankah kamu sudah membuat peraturan yang tidak memperbolehkan sihir hitam dipergunakan lagi?”


“Iya, benar. Orang yang ketahuan menggunakannya akan menerima hukuman yang sangat berat.”


“Jadi, apalagi dampak dari sihir hitam itu?”


“Yang kubaca dari buku itu adalah para rakyatmu akan tidak tersadarkan selama dua hari, para rakyatku mungkin selama empat hari, dan untuk manusia kemungkinan satu minggu atau bisa lebih.”


Aku melirik ke celah pintu itu untuk melihat keadaan Frederra.


‘Frederra, tolong sadarlah.’


“Kenapa kamu meninggalkanku? Apa aku melakukan kesalahan kepadamu. Seharusnya, kamu jujur saja kepadaku jika aku berbuat salah kepadamu. Aku tidak suka jika kamu tiba-tiba hilang tanpa memberitahuku terlebih dahulu. Itu membuat hatiku sangat sakit karena terlalu khawatir denganmu.”