My Reincarnation and My Reincarnation 2

My Reincarnation and My Reincarnation 2
Kebersamaan



Aku, Bibi, Bianca, Richard, dan Lucas berkumpul di satu ruangan yaitu ruangan keluarga. Disana, kami berbincang-bincang kecil dan tertawa bersama.


‘Aku tidak pernah merasakan seperti ini selama tujuh tahun terakhir. Rasanya bahagia sekali.’


Aku memecah lamunanku itu dan berkata kepada mereka, “aku akan ambil makanan di dapur ya.” Mereka menganggukkan kepalanya.


Aku melangkahkan kaki ke arah dapur untuk mengambil makanan yang berada di kulkas. Aku akan memanaskan beberapa makanan untuk semuanya dan tidak menyadari Richard telah membuntutiku dari belakang.


Sebelum aku mau memasukan masakan ke microwave, aku merasakan ada tangan melingkari pinggangku. Dengan refleks, aku menyikut perutnya dengan keras.


“Ah! Untuk ukuran manusia lumayan sakit.” Richard menundukkan kepala dan terkekeh sambil memegang perutnya.


“Maaf-maaf, aku kira siapa. Kamu ga apa-apakan? Mana yang sakit? Mau aku obati?” Aku mendekatinya serta menanyakan keadaan dia yang masih memegang perut.


Richard mendongakkan kepalanya dengan mata merah menyala. Aku hanya bisa berdiri kaku disana. Hampir saja Richard mau menghisap darahku lagi, dia sudah jatuh di dekat dekapanku.


“R-Richard, Richard, Richard!! Ayo sadarlah!” Akhirnya, aku berteriak serta meminta bantuan mereka.


“Bibi! Bianca! Lucas! Bisakah kalian kesini?!”


Aku mendengar derapan kaki yang cepat menuju ke dapur. Mereka terkejut melihatku sudah menahan Richard yang sudah jatuh pingsan.


“Mungkin kita baringkan dia terlebih dahulu.” Kata Lucas dengan membopong Richard di punggungnya.


“Baringkan ke kamarku saja.” Kami semua menuju kamarku yang terletak di lantai dua.


Di kamarku, Lucas menaruh Richard di ranjangku. Sedangkan diriku hanya bisa menaruh selimut di atasnya.


“Kita hanya bisa menunggu hingga dia sadar,” ucap Lucas kepadaku.


“Ok.”


Orang pertama yang keluar dari kamarku adalah Lucas. Bibi mendekatiku dan disusul oleh Bianca.


“Apa kamu menyukainya, sayang?” Bibi bertanya dengan tersenyum untuk menggodaku.


“Hmm iya,Bi.” Aku mengangguk dengan jujur.


Bianca bertanya kepada bibiku, “apa dia akan baik-baik saja, Bi?”


“Mungkin saja.” Bibi memeluk kami berdua dengan nyaman. Tidak lama kemudian, Bibi mengajakku untuk turun ke bawah bersama Bianca. Akan tetapi, aku menolaknya untuk tetap disisinya sementara waktu.


“Ok, bibi tunggu dibawah ya?” Aku menjawab dengan anggukan lagi seraya senyuman tipis.


Aku mengambil bangku di dekat meja belajarku dan duduk disampingnya. Aku mengamati wajahnya yang tidak ada luka sama sekali. Lalu, aku mengelus tangannya yang dingin itu. Tiba-tiba aku mempunyai ide untuk memberikan dia darahku.


Aku mengambil cutter di dalam kotak pensilku. Aku mengiris telapak tanganku serta mendekatkan ke mulutnya. Hanya beberapa saat, aku mendengar dia meneguk darahku. Dia membuka matanya dan memegang tanganku yang masih mengalirkan darah. Warna matanya berubah menjadi normal lagi. Richard merobek bagian ujung bajunya dan mengikat ke lukaku.


“Apa kau gila?!” Dia meneriakiku dan memelukku karena khawatir.


‘Tidak apa-apa, Richard. Ini untuk kebaikanmu.’ Aku yakin Richard bisa mendengarkan pikiranku. Sehingga aku mendengar dia terkekeh.


Aku berjalan mendekati pintu kamarku tetapi aku di tahan oleh tangannya.


“Stephanie, sebelum kamu ke bawah, aku mau mengobati lukamu. Boleh?”


“Ok.” Aku duduk di kursi tadi dan Richard mengambil cutter tadi yang kupakai. Dia membuka kain yang telah diikat. Lalu, dia mengiris pergelangan tanpa merasakan sakit sedikitpun. Kalau manusia yang melakukan itu maka dia akan meninggal. Darahnya mengalir ke telapak tanganku, aku merasakan sedikit perih karena mungkin aku mengirisnya terlalu dalam.


Sesudah itu, lukanya dan lukaku tertutup dengan sempurna. Dia membantuku untuk berdiri. Kami bersama-sama turun ke bawah.


“Cie-cie....” kata Bianca sambi berteriak. Bibi melihat kami dengan tercengang dan berjalan menuju kami.


“Apa kamu sudah baikkan, Richard?,” tanya Bibi.


“Sudah, bi.”


“Kalian terlihat serasi sekali.” Kami yang mendengar perkataan itu menjadi tersipu malu.


“Ayo kita duduk lagi disana.” Lanjut Bibi menawarkan kami untuk bergabung pagi ke dalam obrolan mereka. Kami duduk saling bersebelahan dengan Lucas. Tapi saat kami berdua disana suasana menjadi hening.


“Bi.. bolehkah aku berbicara denganmu?” Richard memecah keheningan ini.


Bibi menganggukkan kepalanya serta berkata, “boleh.”


Bibi dan Richard menjauhi kami menuju area belakang rumah. Aku terheran-heran apa yang akan dikatakan Richard kepada Bibi.


‘Apakah itu sangat penting?’


Aku mengalihkan pikiranku dengan melihat Bianca mengembalikan jubah Lucas. Wajah Bianca tidak seperti biasanya, wajahnya mengekspresikan dia suka Lucas.


“Janganlah kamu malu, Bianca. Dia baik, kok.” Aku berbicara dengan nada menggoda Bianca.


Lucas terlihat tersenyum kepada Bianca. Saat itu juga, Bianca menjadi salah tingkah.


“A-aku a-akan mengambil minum b-bentar.” Bianca makin menjauh dari kami dan Lucas terkekeh terhadap ku.


“Temanmu sangat lucu, Steph. Aku tidak pernah melihat manusia salah tingkah seperti itu.”


“Yap, itu juga pertama kalinya aku melihat dia seperti itu. Sepertinya dia menyukaimu, Lucas.” Aku melemparkan senyuman kepadanya. Sekarang, wajah Lucas yang memerah.


“Ah, t-tidak mungkin dia menyukai makhluk sepertiku. Beberapa kali aku menyatakan cinta tapi semua ditolak mentah-mentah saat mengetahui identitasku.”


Aku meyakinkannya, “mungkin Bianca tidak akan menolakmu dan menerimamu apa adanya.”


“Semoga saja.”


Beberapa saat, kami melihat Bianca sudah menuju kesini. Kami sudah bersikap normal kembali. Kami melanjutkan perbincangan sampai Richard dan Bibi kembali.


“Di dunia ini tidak ada yang sempurna. Kesempurnaan bukan dilihat dari harta, wajah, dan lain-lain. Akan tetapi kesempurnaan bisa didapat dari orang yang mencintaimu apa adanya dan menerimamu dengan sepenuh hati.”