
Di posisi yang berbeda sebelum para vampire yang gugur itumenjadi abu, Jessica menyuruh Jade untuk meminum darahnya yang terakhir kali. Seketika itu mata kanannya berubah menjadi warna merah menyala. Air mata juga
sudah tidak terbendung lagi dari mata Jade. Jessica mengatakan sebuah kalimat dari sisa tenaganya, “Pergi, pergilah, bersembunyilah, jangan sampai ada yang mene—mukanmu. Ini terlalu bahaya. SEKARANG, PERGILAH!”Dengan perasaan sedih, dia langsung pergi tanpa melihat semua itu menghilang dan meninggalkan jenazah mamanya. Dia pergi tanpa arah yang jelas.
Hujan tiba-tiba turun begitu derasnya, Alardo yang masih disana meratapi tanah kosong di depannya. Air matanya yang tadi deras mengalir sudah mengering tanpa sisa. Lalu, dia bangun berdiri dan tatapan hanya kosong.
Dia memilih mematikan rasa kemanusiaannya dan pergi menghabisi darah semua pelayannya. Setelahnya, dia menginginkan Jade untuk ikut membalaskan dendamnya kepada
Raja Jack.
Sejak hari itu, Alardo menjadi raja yang sangat bengis. Dia sangat dibenci oleh rakyatnya dan juga manusia. Setiap hari, dia menginginkan
darah segar dari manusia hingga dia memperbolehkan para vampire meminum dari
manusia tidak lagi melalui kantung darah. Maka dari itu, Para Vampire muda menyukai Alardo dibandingkan Raja Richard. Itu baru berlangsung satu minggu tapi sudah terasa sepuluh tahun. Zaman itu sudah tidak ada kata-kata ‘harmonis’ diantara
kedua belah pihak.
Para penyihir takut mendekati kerajaan Vampire. Lucas pun sepertinya tidak bisa menghentikan Alardo.
Menonaktifkan rasa kemanusiaannya membuat ingatan yang indah dan sedih terbakar habis. Alardo juga tidak mengingat Paman Lucas, Bibi Bianca, dan nenek Frederra.
Sekarang hanya ada keserakahan, keegoisan, dan juga pembalasan dendam. Seminggu setelah peperangan, Jade masih belum menemukan tempat yang bisa untuk tempat sembunyi. Tubuhnya sudah terasa terbakar karena
dia belum meminum darah semenjak transisinya. Pandangannya sudah mulai kabur.
Pada akhirnya, dia tumbang diantara ilalang-ilalang yang tinggi. Sebelum matanya
benar-benar tertutup,terlihat samar-samar seorang perempuan bertudung yang
mendekatinya. Dengan suara sendu, Jade memanggilnya dengan “Kakak…” hingga dia
benar-benar pingsan.
Jade terbangun oleh rasa darah di mulutnya. Dia menghentikan tindakan perempuan itu yang berniat memberikan darahnya. “JANGAN KAMU MEMBERIKAN DARAH ITU LAGI!”
Perempuan itu menggangguk ketakutan. Perempuan itu meringis kesakitan karena tangannya di genggam sangat erat.
Jade langsung melepaskan genggamannya itu dan mengatakan, “Maaf.. A-a-aku akan membiarkanmu untuk mengobati lukamu itu.”
Jade mengambil bajunya yang dekat ranjang tadi lalu memilih untuk keluar dari rumah itu. Jade memakai bajunya sembari jalan keluar. Sampai di luar, Jade terkagum dengan pemandangan di luar rumah itu. Banyak
Ilalang-ilalang menguning mengelilingi rumah itu. Jade juga mendengar samar-samar suara ombak. Dia menghirup udara sangat dalam lalu ia sebuah kata, “Wah, LAUT!”
Perempuan itu berdeham di belakang Jade. “Ahem, Apa kamu mau ke laut?”
“Tidak-tidak usah, aku akan disini. Ba-bagaiman dengan lukamu?”
“Tidak perlu dikhawatirkan. Lihat ini sudah diobati. Akukan pandai dalam hal mengobati.” Perempuan itu menunjukan telapak tangannya yang
terbalut kain. Jade yang melihat balutan luka itu merasa bersalah.
menarik tangan Jade dengan semangat.
Di pantai, mereka memandangi langit senja yang sangat bagus.
Perempuan itu bertanya, “Indahkan?”
“Indah” Tanpa disadari oleh Jade, perempuan itu sudah
mengambil air laut di genggaman tangannya lalu menyiram wajah Jade.
“Hihihi. Ayo, tangkap aku. Kalau kamu bisa menangkapku, Aku
akan kasih apapun yang kamu mau.” Dia sudah bersiap-siap lari duluan daripada
Jade.
“AWAS KAU!” Jade langsung mengejarnya tanpa ampun.
Baru setengah lari, Jade sudah kelelahan “Sebentar..”
“Ah, masa kamu segitu saja sudah capek, Ayo lari lagi!”
“Awas!”
Perempuan itu kesandung akan tetapi Jade tepat waktu menopang tubuh perempuan itu menggunakan lengan Jade agar tidak jatuh. Mereka saling tatap-tatapan selama satu menit. Warna mata Jade membuat perempuan terhipnotis tidak berkedip sedikit dan jantungnya berdetak kencang. Setelahnya, perempuan itu mendorong Jade dengan sedikit warna merah terpampang di wajahnya. “Terima kasih…”
“Lain kali tuh, hati-hati! Lihat depanmu! Jangan lari-larian begitu!”
“Iya-iya, kita duduk aja. Kamu ga seru.” Mereka duduk menikmati senja yang indah. Tidak ada pembicaraan sedikitpun diantara mereka.
Perempuan itu mulai membuka pembicaraan terlebih dahulu.
“Maaf, dimana keluargamu? Saat kamu pingsan, kamu selalu memanggil kakakmu.”
“Seluruh keluargaku terbunuh disaat perang bulan purnama. Berapa lama aku pingsan?”
“Maaf aku bermaksud membuatmu bersedih….”
“Tidak apa-apa…” Jade menyembunyikan hatinya yang belum sembuh dari kesedihan.
“Oh iya, kamu jatuh pingsan kira-kira sudah satu minggu. Kita belum kenalan. Nama kamu siapa?”
“Namaku Jade.”
“Ok, sekarang aku, aku adalah Grizelle.” Grizelle mengulurkan tangannya untuk salam kenal sambil tersenyum.