My Reincarnation and My Reincarnation 2

My Reincarnation and My Reincarnation 2
S2: 6. Wolfsbane



“Paman, tolong aku.” Tanpa disadari, Alardo sudah mengeluarkan airmatanya.  Lucas


mengarahkannya ke kamar yang masih kosong. Bianca dan Frederra mengikuti dari


belakang Alardo.


Perempuan itu sudah ditaruh ke ranjang dan ditinggalkan oleh Alardo. Alardo menutup pintu lalu menemui Pamannya yang sudah berdiri di depan kamar itu. “Apa yang terjadi, Alardo? Siapa perempuan itu?”


“Sebentar paman…” Alardo mengelus luka merah bekas di borgol itu.


“Ada apa tanganmu? Biarkan paman melihatnya.” Lucas melihat pergelangan tangan Alardo.


Alardo menarik tangannya agar tidak dilihat oleh pamannya, “Ceritanya panjang, paman. Paman tidak perlu khawatir. Mungkin ini akan hilang dengan sendirinya. Akukan hybrid. Taulah paman.”


“Dasar kamu..” Lucas menepuk keras pundak Alardo.


“Aduh.”


“Hahaha, sakit ya? Katanya hybrid. Berarti harus tahan dong.”


“Iya deh, paman.” Setelahnya, mereka berjalan menuju perpustakaan terlarang. Di perjalanan, mereka tetap berbincang tentang hal seru


yang berhubungan dengan sihir.


Di perpustakaan terlarang itu sudah ada Bianca dan Frederra. Alardo lah yang membuka pintu perpustakaan itu. Bianca langsung memeluk erat Alardo sambil berlinang air mata. “Kamu membuat bibi khawatir saja!” Alardo membalas pelukan bibinya itu. “Maafkan aku, bi.” Akhirnya, bibinya itu melepas pelukannya.


“Kamu tuh sama saja dengan mama kamu. Kamu membuat kami semua khawatir.”


“Hehehe. Damai, bi. Bukannya aku memang anaknya mama ya, bi? Bibi jangan nangis, nanti wajah cantik bibi hilang loh.” Alardo menyeka air mata bibinya.


“Kamu ada aja jawabannya.”


Frederra menyudahi percakapan antara bibi dan keponakannya itu, “ayo kita fokus ke cerita Alardo.”


Alardo mulai menceritakan semuanya dari awal sampai akhir. Mereka mensyukuri bahwa Alardo tidak disakiti oleh bangsa serigala. Akan tetapi kelegaan mereka hanya sampai disana, Alardo merasakan gatal serta panas dari kedua pergelangan tangan sehingga membuat penglihatannya kabur lalu jatuh


pingsan. Selanjutnya, Alardo dibawa ke ruangan kamar milik Lucas.


Luka itu dari awalnya hanya memerah hingga mengeluarkan bintik-bintik yang berisi darah dan nanah. Alardo meringis kesakitan serta


mengeluarkan keringat sangat deras. Frederra menyeka keringat Alardo yang terus mengalir. Bianca melepas sepatu dan juga gelang yang dipakai oleh Alardo. Lucas bingung apakah harus menghubungi istana Richard atau tidak perlu.


Lucas memutuskan untuk merawat Alardo di istananya terlebih dahulu. Lucas takut Richard dan juga Stephanie akan tambah memburuk jika dipaksa ke istananya.


Sesampainya di istana Richard, cuacanya sedang tidak bersahabat. Disana sedang hujan lebat disertai dengan badai dan petir yang amat dahsyat. Lucas memanggil-manggil diselingi dengan ketukan pintu besar istana Richard.


Pelayan Richard yang bernama Thomas membuka pintu itu.


“Ada apa, tuan?”


“DIMANA RICHARD DAN STEPHANIE?!”


“Tuan Richard dan Nyonya Stphanie sedang berada di ruang kerjanya, tuan.”


Lucas berlari mendahului pelayan itu dan menuju ruang kerja Richard. Dia sudah hafal sekali denah istana ini. Lucas mendobrak pintu ruang kerja Richard. Richard dan Stephanie cukup terkjut dengan kehadiran Lucas.


“Lucas! Kamu bisakan mengetuknya! Tidak usah merusaknya!”


“Sebentar Richard… kamu jangan marah dulu tentang pintu ini yang rusak . Ada hal yang lebih penting daripada ini. Anakmu A-ALARDO.. sedang terluka.. di istanaku.” Mata Richard dan Stephanie terbelalak mendengar nama Alardo.


Mereka bertiga langsung menuju ke istana Lucas menggunakan mobil Richard. Richard menancap gas dengan kecepatan yang tinggi. Di mobil ada perbincangan antara Stephanie degan Lucas. Sedangkan, Richard fokus ke jalanan yang sangat licin.


“Sudah berapa hari dia di istanamu, Lucas? Ba-bagaimana kondisinya Lucas?” Stephanie bertanya dengan nada khawatir.


“Dia sudah dua hari di istanaku. Kondisinya sangat-sangat buruk. Dia dibaringkan di kamarku.” Hati Stephanie semakin gusar tak karuan.


Di istana Lucas…


Richard dan Stephanie berlari menuju kamar Lucas. Richard langsung melihat lukanya itu.


“Lucas, aku membutuhkan cairan dari bunga aconite dan juga


pisaumu.”


“Tapi, bunga itu sudah susah dicari di area ini, Ri.”


“Aduh. Ini akibat cairan dari wolfsbane. Sebentar.. Ini Wolfsbane. Alardo habis pergi darimana, Lucas?! BERITAHU AKU!”


“D-d-dia habis terkena sandera raja serigala.”


Richard dan Stephanie menjawab dengan serentak, “APA?!”


Tiba-tiba, Alardo seketika berteriak sakit dan panas. “Tenanglah Alardo, mama disini. Hei! Terus apa yang harus kita lakukan untuk Alardo?!”