
Pagi-pagi sekali, aku sudah terbangun dan bersiap-siap untuk didandani. Keluarga bibi sudah datang ke dalam istana dari jam lima pagi. Lucas dan Bianca sudah hadir dari satu bulan yang lalu. Sedangkan, semua para Vampire dan penyihir masih tertahan di depan gerbang.
Aku sedang mengamati diriku sendiri di depan kaca yang kini sudah selesai berdandan. Bibi memasuki ruang kamarku dengan memegang sebuket bunga mawar putih, “aduh, keponakan bibi cantik sekali!”
“Biasa saja, Bi.” Lalu, bibiku memelukku dengan erat dan di pundakku terasa ada air matanya yang mengalir.
“Tidak terasa ya, Steph. Padahal seperti baru kemarin, bibi menggendongmu bersama orang tuamu. Sekarang, bibi yang mengiringi pernikahanmu dan kamu segera bersanding dengan Richard. Bibi harap kamu bahagia dengannya.” Aku membalas pelukannya dengan pelukan hangat ku.
“Bibi, jangan khawatir aku akan bahagia dengannya.” Bibi pun baru memberikan buket itu kepadaku dengan tersenyum haru.
Paman mengetuk pintu kamarku dan aku membuka pintu itu dengan sihirku.
“Wow, you’re so beautiful, Steph! Do you want to hug your uncle?!”
“Oh, paman...” Aku berlari ke arahnya dan memeluknya.
“Aku akan merindukanmu, paman,” pungkasku.
“Paman juga akan merindukanmu, sayang. Ayo, jangan terlalu lama semua sudah menunggu di luar. Kasihan kan mereka sudah jauh-jauh datang kesini tapi belum kita bukakan gerbangnya.” Aku menghapus air mataku yang sudah membasahi wajahku.
“Iya, paman.”
“Ayo, istriku. Kita harus menyambut tamunya terlebih dahulu. Kamu tetap disini saja ya sampai pendampingmu yang menghampiri.” Bibi mengikuti paman untuk menyambut para tamu.
“Tetap disini ya, Steph.” Bibi menegaskannya kepadaku. Mereka meninggalkanku di kamar luas ini. Kutatap pemandangan luar dengan tatapan kosong. Lalu, aku menghela nafas dengan sangat berat. Seketika, pikiranku berubah untuk memandang awan biru di luar dan disana aku berbicara sendiri.
“Pa, ma... apakah kalian melihatku yang sudah memakai gaun ini? Apakah aku bisa membahagiakan Richard untuk selamanya? Sekarang, aku mulai ragu dengan perkataanku sendiri.” Tiba-tiba, pintu kamarku terketuk dan terbuka tanpa sihirku.
Dia adalah pendampingku, Richard. Dia membungkukkan badannya dan mengulurkan tangannya untukku.
“Apa kamu siap, Nyonya Richard?” Aku mengangguk dengan senyuman tipis ku.
Aku mendekatinya lalu mendapati tangannya yang sekarang suhu badan kami telah sama. Dia melepaskan peganganku dan menawarkan lengannya. Sehingga, lengan kami saling terhubung satu sama lain.
Di halaman belakang...
Aku dan Richard berjalan di tengah antara tamu yang sudah duduk. Mereka semua menyoroti kami setiap langkah demi langkah yang kami lewati. Mata mereka terpesona dengan kami berdua. Disini juga terdapat tatapan terharu diantara para tamu. Di depan kami, ada paman yang sudah menunggu kami untuk membacakan perjanjian pernikahan kami. Kami semua telah setuju untuk menunjuk paman saja yang membacakannya daripada orang lain. Pamanku masih bisa tersenyum walaupun mungkin dia belum tau rupa asli para tamu ini. Aku hanya bisa membalas dengan senyuman juga.
Kami sudah sampai di dekat paman. Aku dan Richard saling berhadapan melihat satu sama lain.
“Ikuti kata-kata paman ya, Richard.”
“Baik, paman.” Dia menjawabnya dengan tetap memandangku.
“Saya Richard akan menjadi suami yang baik, bertanggung jawab, melindungi, dan akan tetap bersamanya dalam suka maupun duka, sehat maupun sakit sampai maut memisahkan.” Richard mengikutinya dengan baik dan benar tanpa kekurangan satu kata pun.
“Baik, paman.”
“Saya Stephanie akan menjadi seorang istri yang baik, membantu, menjagainya dalam suka maupun duka, sehat maupun sakit sampai maut memisahkan.” Aku mengikuti apa yang dikatakan paman dengan baik. Paman menyuruhku memasangkan cincin ke Richard. Sedangkan, Richard tidak memasangkannya karena sudah terpasang di jari manisku. Mungkin ini cara pernikahan di bangsanya. Aku dan Richard disuruh mencium satu sama lain.
Belum bibir kami saling berdekatan, aku melihat Richard jatuh pingsan ke tanah. Aku memalingkan pandangan ke pamanku serta bibiku di jajaran bangku tamu paling depan, Bianca, Lucas, dan para tamu yang hadir. Semua juga tidak sadarkan diri.
‘Apa yang terjadi?!’ Tiba-tiba, datanglah bangsa serigala dari sinar yang entah darimana asalnya.
Aku melihat pemimpinnya yang berada di depan beserta pembantunya. Siapa lagi pembantunya raja serigala kalau bukan yang bernama Luther. Raja serigala itu bertepuk tangan dan memberikan senyuman menyeringai.
“Kenapa ada pesta yang kami tidak diundang?”
“Apa maumu, Jack?!”
“Ahh, akhirnya aku bisa mendengar namaku yang keluar dari mulutmu itu. Susah untuk membuatmu menyebut namaku ya. Kamu bertanya apa tujuan kami untuk datang kesini? Aku juga bertanya pada diriku sendiri mengapa kita datang kesini, Luther?”
“Mau membalaskan dendam, tuan.”
“Oh, iya-iya, aku lupa karena terlalu banyak amarahku yang sudah terkumpul akibat kejadian enam bulan lalu.” Luther berbisik kepada Jack untuk mengoreksi kata-kata bagian akhirnya.
“Tujuh bulan yang lalu, tuan.”
“Sssttt, aku sudah tau. Sekarang, serang saja dia menggunakan sihirmu. Aku akan menunggumu disini.” Dia duduk di kursi pantai yang telah dibawanya sendiri. Luther maju mendekatiku tanpa ada rasa takut dan gentar. Sekarang, aku melihat aura kemarahannya yang telah menyelimutinya. Aku mencoba menghindarinya dengan terus berjalan mundur.
“Luther, apa ada yang salah jika kakak kamu berteman dengan Richard?”
“Salah. Aku membencinya.” Dia menjawab sambil menyerangku dengan kekuatan sihirnya. Akan tetapi, aku menangkisnya dengan cepat.
‘Huft, hampir saja.’ Dia terhenti sejenak dan bertanya kepadaku. Ekspresinya bisa kutebak yaitu dia sedang terkejut.
“Apa?! Kamu sudah bisa menggunakan sihirmu dengan baik?” Aku mengangguk dengan ragu. Tanpa memberitahuku, dia mengeluarkan bola sihir yang sangat besar. Bola itu dipenuhi sihir hitam yang sebenarnya sudah tidak diperbolehkan selama beribu-ribu tahun. Itu yang telah kudengar dari Lucas.
Setelah dia memperkirakan bola itu sudah cukup besar hingga bisa membuatku meninggal, dia melemparkannya kepadaku. Aku membuat perisai yang mungkin bisa menahannya hanya untuk beberapa saat.
Aku sudah tidak kuat untuk menahannya sehingga aku mempunyai ide untuk menyerap sihirnya ke dalam diriku saja. Walaupun sebenarnya, aku tidak bisa menyerap sihir ini seluruhnya. Jika aku menyerap seluruhnya, aku akan bisa pingsan dan sihir hitam itu akan mengambil alih tubuhku seutuhnya. Aku akan melupakan semua yang telah terjadi bersama Richard, Lucas, Bianca, bibi beserta paman
‘Tidak apa-apa, aku akan menyerap seluruhnya. Aku akan berkorban untuk keselamatan banyak orang. Daripada juga, tempat yang kusukai hancur berantakan. Selamat tinggal, Richard. Selamat tinggal, Bibi. Selamat tinggal, Bianca. Selamat tinggal semua dan kenangan yang telah diberikan kepadaku. Semoga kalian baik-baik saja. Aku mencintai kalian semuanya.’ Aku langsung menyerap seluruh sihir itu ke dalam diriku. Luther berlari dan menangkap diriku. Aku jatuh lunglai di dalam dekapannya. Mataku mulai tertutup secara perlahan-lahan.
“Mungkin ini adalah hal terbaik sepanjang hidupku. Merelakan diriku sendiri untuk orang lain. Aku mungkin terlalu egois pada diriku sendiri. Akan tetapi aku tidak bisa bersikap egois kepada orang lain. Aku akan bahagia melihat kalian tersenyum tanpa terluka sedikitpun.”
#staysafeandbehealthy.