
Kyra sampai di rumah Davin, ia segera menekan bel yang berada di pintu gerbang. Saat bel di bunyikannya, bu Rere datang menghampiri sembari membukakan pintu gerbang.
"Eh neng Kyra, mau ketemu Davin ya," sambut bu Rere tersenyum.
"Iya bu, Davinnya ada di rumah kan?" tanya Kyra.
"Iya ada, masuk dulu yu. Ibu panggilkan Davin dulu ke kamarnya." Ucap bu Rere.
Kyra memasuki rumah, lalu duduk di kursi yang berada di ruang tamu. Namun, ketika bu Rere kembali, Davin tak datang bersamanya. Apa Davin sangat marah hingga membuatnya tak mau menemui Kyra.
"Bu Davinnya mana?" tanya Kyra.
"Kata Davin, hari ini dia lagi ga mau di ganggu, dan menyuruh neng Kyra untuk pulang saja. Tadi ibu udah coba maksa Davin, tapi dia bener-bener ga mau ketemu neng Kyra. Apa yang membuat dia kesal neng, sampe ga mau ketemu gitu. Padahal biasanya kalau ada neng Kyra dia semangat banget," jawab bu Rere.
Kyra merasa cemas dengan Davin yang tak mau bertemu dengannya. Padahal ia sudah susah payah membuat nasi goreng untuk Davin, dan ia juga sudah mempersiapkan diri untuk meminta maaf dan memberikan penjelasan kepada Davin tentang kesalah pahamannya.
Apa Kyra akan pergi begitu saja setelah Davin menyuruhnya pulang. Tentu saja tidak, ia bersi teguh untuk menemui pacarnya. Kyra berdiri dari tempat duduknya. "Saya tidak akan pulang, saya akan bertemu dengannya."
"Eh tapi neng, masa neng Kyra mau terus nunggu. Sementara Davinnya ga bakal keluar dari kamar," ucap bu Rere merasa cemas.
"Saya tidak akan nunggu, tapi saya akan pergi menemuinya," tegas Kyra melangkahkan kakinya menuju kamar Davin.
Ketika sampai di depan pintu kamar, Kyra terlebih dahulu menarik nafasnya. Menenangkan perasaanya yang tampak gelisah, mempersiapkan diri untuk bertemu dan meminta maaf kepada pria yang sedang marah tersebut.
Kemudian ia membuka pintu kamar. Saat memasuki kamar, Davin tampak berbaring di tempat tidurnya. Ia mengurung diri dengan selimut, tubuhnya terbaring menghadap ke sisi tembok di kamarnya
"Bu aku sudah bilang ga mau ketemu sama Kyra," tegur Davin. Ia tak tahu bahwa orang yang memasuki kamarnya tersebut, adalah wanita yang tak ingin di temuinya saat ini.
Kyra tampak sedih dan juga marah dengan Davin yang benar-benar tak ingin menemuinya itu. Kyra lalu duduk di samping Davin berbaring.
"Sampe segitunya kamu tidak ingin menemuiku."
Davin tampak terkejut dengan suara yang menyahut ucapanya. "Oh, aku kan sudah bilang sama bu Rere untuk menyuruhmu pulang. Kenapa kamu ngeyel dan bersi keras buat ketemu aku," ucapnya yang masih berbaring membelakangi Kyra.
"Vin, kamu tuh kaya anak kecil ya. Iya aku salah, aku minta maaf. Tadi kamu lihat aku lagi sama Gio kan. Seharusnya kamu paham, dan ga usah marah. Dia itu cuma sekedar sahabat tidak lebih. Harusnya kamu tidak cemburu kaya gini. Kaya anak kecil tahu ga sih," ucap Kyra kesal.
Davin terbangun dari tempat tidurnya lalu menatap Kyra yang tengah duduk di sampingnya itu. "Hah lucu, kamu bilang aku kaya anak kecil dan nyuruh aku buat pahami kamu. Mana bisa aku paham, kamu memang nganggep Gio sahabat. Tapi berbeda dengan Gio yang memiliki perasaan lebih sama kamu."
"Kamu tahu apa yang tadi Gio bicarakan sama aku. Dia mau tetep jadi sahabatku dan dia mau hubungan kita seperti dulu lagi. Ya, hanya sebatas teman. Lagian perasaanku sama kamu itu lebih besar. Kamu harusnya percaya sama aku bahwa aku tak akan pernah balik suka sama Gio."
"Tadi kenapa kamu malah lebih milih pulang sama Gio di bandingkan denganku. Aku nunggu lama dan taunya kamu malah pulang sama Gio. Gio lebih penting dari aku ya."
Kyra menghela nafasnya, ia semakin kesal dengan Davin yang tak bisa mengerti. "Kamu kan tahu hubungan kita itu tersembunyi. Kalau aku terus deket sama kamu, Gio bakal curiga sama kita. Aku ga mau hubungan kita atau hubunganku dengan Gio berakhir."
"Sampai kapan kita menyebunyikan hubungan ini. Aku sudah muak, kita pacaran tapi seperti ada jarak di antara kita."
"Kasih aku waktu, aku pasti publikasikan hubungan kita. Dan kasih aku waktu untuk membujuk Gio, agar Gio mengerti dan menerima hubungan kita."
Seketika Kyra memeluk Davin yang tampak cemberut itu. "Iya janji secepatnya. Jangan marah lagi ya," ucapnya sembari tersenyum.
"Iya ga bakal marah, kasih aku sesuatu dong supaya ga marah," ucap Davin menyentuh pipinya seakan memberi kode kepada Kyra bahwa ia ingin sebuah kecupan.
Bukan sebuah kecupan yang di beri Kyra untuk Davin. Kyra yang polos malah memberikan kotak makan yang di bawanya sedari tadi.
"Nih hadiahnya, aku sudah siapkan nasi goreng spesial buat kamu. Ini aku yang buat loh," ucap Kyra.
"Uh dasar ga peka. Tapi ga apa-apa deh aku terima hadiahnya," gerutu Davin mengambil kotak makanan yang di berikan Kyra tersebut.
Davin kemudian mencoba nasi goreng yang di buat Kyra. Namun, saat sesuap nasi masuk ke dalam mulutnya, seketika dahinya mengerut. Davin tampak berusaha menguyah dan menelan nasi goreng yang dimakannya itu. Nasi goreng yang di buat Kyra terasa asin dan tak enak. Namun, Davin tetap berusaha menghabiskan nasi goreng yang susah payah di buat oleh pacarnya itu.
"Gimana enak?" tanya Kyra.
"Iya enak banget," jawab Davin tersenyum namun, masih mengerutkan dahinya.
"Eh ko ekspresi kamu mencurigakan sih. Aku mau coba dong nasinya," ucap Kyra.
Davin menggelengkan kepalanya. "Tidak boleh, aku lapar banget. Kamu ga usah nyobain deh, nanti jatahku berkurang."
"Pokonya aku mau nyobain dulu, soalnya tadi pas buat belum sempat nyobain," ucap Kyra yang berusaha meraih kotak makan yang di pegang Davin.
Sebisa mungkin Davin menghindarkan makanan tersebut dari Kyra. Davin turun dari tempat tidurnya, dan menjauhkannya dari Kyra. Sementara Kyra masih berusaha meraih kotak makan yang di pegang Davin itu. Tubuhnya yang mungil berjinjit meraih kotak makan yang di pegang Davin ke atas.
"Vin, kenapa sih pelit banget. Kalau kamu ga mau ngasih, aku pulang sekarang." ucap Kyra kesal.
"Hm, tapi...
"Aku pulang sekarang ya," ancam Kyra mengambil tas yang di letakannya di atas tempat tidur.
"Eh jangan-jangan. Iya aku kasih deh," ucap Davin memberikan kotak makan tersebut.
Kyra pun segera mencicipi nasi goreng yang di buatnya itu. Saat ia mulai melahap nasi goreng tersebut, ekspresinya sama dengan Davin pada saat ia melahap nasi goreng tersebut.
"Ih ga enak gini, di bilang enak. Ga usah di lanjutin makannya," ucap Kyra menutup kotak makan.
"Tapi ini lumayan loh. kamu patut di beri apresiasi karena udah berusaha jadi calon istri idaman. Ya walaupun, belum maksimal masaknya," ucap Davin tersenyum.
"Nanti aku bakal belajar lagi deh, sampe makanannya bener-bener enak."
"Iya harus, masa setiap hari suamimu bakal di kasih makanan asin sih," ucap Davin sembari mengacak-ngacak rambut Kyra.
"Ih suami apa sih. Sekolah aja belum lulus udah ngomongin tentang rumah tangga."