
Jam belajar di sekolah telah usai, Kyra bersiap untuk pulang. Seperti biasa Kyra menunggu jemputan di depan gerbang sekolah. Namun kali ini Kyra tak sendiri, ia di temani oleh sahabatnya yaitu Gio.
"Gio kamu pulang saja duluan," ucap Kyra.
"Engga deh, aku mending temenin kamu dulu sampai jemputannya datang," ucap Gio yang masih berdiri tegak di samping Kyra.
Lalu tiba-tiba Davin datang menghampiri sembari merangkul pundak Kyra.
"Kenapa belum pulang? pulang bareng aku yu," ucap Davin menatap lurus ke arah depan.
Kyra lalu menatap ke arah wajah pria tinggi yang merangkulnya itu, lalu berkata "Kalau aku pulang bareng kamu nanti ga bakalan sampai rumah."
"Aku janji deh bakal nganterin kamu sampai rumah dengan selamat," ucap Davin tersenyum menatap wajah Kyra.
Gio merasa cemburu dengan Kyra yang tak merasa canggung ketika pundaknya di rangkul oleh Davin. Gio pun lalu melepas paksa Kyra dari rangkulan tangan Davin.
"Mending lu pulang duluan sana, karena dengan adanya lu disini, lu itu cuma jadi pengganggu," ucap sinis Gio sembari menyingkirkan tangan Davin dari pundak Kyra.
"Gue pengganggu...tapi lu cuma jadi nyamuk di antara kita," ucap balik sinis Davin sembari terseyum menyeringai.
"Kalau menurutku mending kalian berdua pulang saja sana, karena sebenarnya disini yang jadi penggangu itu kalian berdua," pungkas Kyra yang kesal karena tingkah laku Davin dan Gio. Setelah di tegur oleh Kyra, mereka pun terdiam tak melanjutkan adu mulutnya itu.
Sudah lama Kyra menunggu, namun ayahnya atau pun kakaknya tak kunjung juga datang. Lalu ketika Kyra menunggu, tiba-tiba saja mobil berwarna hitam dengan plat nomer yang berasal dari luar kota berhenti di depan Davin berdiri.
Lalu orang-orang yang berada di dalam mobil tersebut turun dan menghampiri Davin. terdapat 3 orang laki-laki dan seorang perempuan yang menghampirinya.
"Hey bro gue kangen lu tau," ucap salah seorang yang turun dari mobil tersebut sembari merangkul pundak Davin.
Davin tampak senang ketika orang-orang tersebut datang menghampirinya.
"Wah gila akhirnya kalian kesini juga" ucap Davin tersenyum bahagia karena bertemu dengan ke empat orang tersebut.
Kyra terdiam memperhatikan Davin yang tengah bahagia bertemu dengan ke empat orang tersebut. Davin lalu mulai memperkenal Kyra kepada orang-orang tersebut.
"Eh kenalin nih dia Kyra... calon pacar gue," ucap Davin lalu berbisik ke salah satu orang tersebut.
Mereka pun mulai memperkenal kan diri. Di mulai dari ketiga laki-laki yang bernama Riki, lalu yuda, dan ketiga bernama Reyhan. Ketiga laki-laki itu ialah teman Davin dari tempatnya bersekolah dulu.
Lalu satu orang perempuan yang berwajah cantik dengan tampilan yang tampak modis mulai berjabat tangan dengan Kyra dan memperkenalkan namanya.
"Kenalin nama aku Githa," ucapnya tersenyum memperkenalkan diri.
"Salam kenal namaku Kyra," ucap Kyra berjabat tangan dan membalas senyumannya.
"Cieee... calon pacar sama mantan Davin lagi salaman nih," lontar salah satu teman Davin yang bernama Yuda.
Kyra lalu terdiam kaku setelah mendengar ucapan yang di lontarkan oleh Yuda. Kyra cukup terkejut dengan perempuan yang berjabat tangan dengannya ialah bekas kekasih Davin.
Seketika Kyra terpaku menatap Githa yang tampak cantik. Kyra merasa tak percaya diri ketika ia berhadap-hadapan dengan perempuan yang pernah jadi kekasih Davin itu.
"Dia sangat cantik, pantas saja Davin pernah suka padanya," gumam batin Kyra yang merasa insecure.
Ketika Kyra di perkenalkan Davin kepada teman-temannya. Gio hanya berdiri terdiam seakan ia tak di anggap.
"Vin yang di sebelah Kyra siapa ya? kenapa ga di kenalin," ucap Githa menatap ke arah Gio.
"Bukannya lu yang suka ngikutin Kyra kemana-mana," balas sinis Gio.
"Kalian berdua itu sama saja suka ngikutin aku kemana-mana... oh iya dia Gio temanku," ucap Kyra lalu memperkenalkan Gio kepada Githa.
Lalu tak lama kemudian Ayahnya Kyra datang menjemput.
"Ayo pulang," ajak Erick kepada putrinya itu.
"Iya... kalau begitu aku pulang duluan ya," ucap Kyra lalu pamit.
Kyra lalu segera memasuki mobil ayahnya itu. Ketika mobil mulai melaju, Kyra menatap Davin dan Githa lewat kaca spion. Raut wajah Kyra tampak muram ketika melihat Davin dan Githa berdiri bersebelahan.
"Anak-anak yang tadi siapa? sepertinya bukan murid dari SMA ANGKASA," tanya Erick kepada putrinya itu.
Kyra terdiam melamun, sampai pertanyaan ayahnya tak ia jawab.
"Hei kenapa melamun, ayah tanya kenapa ga di jawab," ucap Ayahnya itu.
"Eh iya...ayah tadi nanya apa?" tanya balik Kyra.
"Anak-anak yang tadi sama kamu siapa?" tanya kembali Erick.
"Oh mereka temanya Davin," ucap Kyra.
"Kamu masih dekat dengan Davin? ayah harap kamu jangan dekat-dekat lagi sama Davin," ucap Erick.
Kyra kembali terdiam tak menjawab, ia kesal terhadap ayahnya yang melarangnya untuk dekat dengan Davin.
"Ingat ya! besok dan seterusnya jangan dekat-dekat lagi sama Davin," ucap kembali ayahnya yang over protective.
"Kenapa ayah melarang Kyra dekat dengan Davin... tak hanya dengan Davin ayah juga ngelarang Kyra buat dekat dengan Gio, padahal Gio sahabat Kyra. Ayah tuh terlalu ngekang Kyra buat dekat dengan siapa pun," ucap Kyra yang kesal terhadap ayahnya yang terlalu over protective.
"Ayah tuh ga mau kamu dekat dengan laki-laki, apa lagi kalau sampai pacaran... ayah cuma mau kamu fokus sekolah," ucap Erick.
"Ayah pernah negur Gio di depan gerbang sekolah buat jauhi Kyra... sampai teman-teman di sekolah banyak yang ngeledek Kyra... ayah tuh terlalu berlebihan," ucap Kyra kesal lalu kedua matanya perlahan mengeluarkan air.
Erick lalu terdiam tak berkutik setelah mendengar ucapan putrinya itu. Ia pun semakin merasa bersalah ketika putrinya menangis. Erick lalu mencoba menenangkan putrinya yang kini sedang menangis.
"Iya ayah minta maaf... ayah ngelakuin itu, karena ayah sayang sama Kyra," ucap Erick yang merasa bersalah terhadap putrinya itu.
Kyra memalingkan wajahnya, menatap ke arah kaca mobil dengan mata yang masih mencucurkan air. Kyra tak tahu apa yang sedang ia rasakan saat ini, entah ia merasa kesal terhadap ayahnya, atau pun merasa kesal dengan mantan Davin yang datang menemui Davin.
Lalu tak berselang lama, Kyra dan Erick telah sampai di depan rumah. Kyra lalu segera turun dari mobil dan langsung memasuki rumah tanpa menyapa ibunya.
Sehabis menangis, mata Kyra masih tampak sendu ketika berpapasan dengan ibunya.
"Kyra kamu kenapa, kamu habis nangis ya?" tanya ibunya yang merasa khawatir.
"Hm... sepertinya Kyra capek mau istirahat," ucap Kyra langsung memasuki kamarnya.