
Ketika di tengah perjalanan Ryan mulai bertanya kepada Kyra, mengenai kecurigaannya terhadap adiknya itu.
"Dek kamu jujur, kamu ada masalah?" tanya Ryan sembari mengendarai motor.
"Hm, engga," jawab Kyra yang setengah gugup mengenai pertayaan yang di lontarkan oleh kakaknya itu. Walaupun satu masalah telah teratasi, namun masalahnya dengan Gio masih belum Kyra selesaikan. Oleh sebab itu Kyra merasa gugup ketika di tanya oleh Ryan.
"Sewaktu sarapan kamu tampak murung, apa kamu sedang berbohong?" tanya kembali Ryan yang masih mencurigai adiknya tersebut.
"Mungkin karena aku lelah kak... udah deh jangan tanya terus, mending fokus saja mengendarai motornya," ucap Kyra lalu mengalihkan pembicaraannya agar Ryan tidak terus-menerus menekannya dengan pertanyaannya.
Tak lama kemudian mereka pun telah sampai di sekolah. Namun ketika Kyra turun dari motor, tiba-tiba saja Gio menghampiri sembari memegang lengan Kyra.
"Hm Kyra," ucap Gio memegang lengan Kyra menghentikan langkahnya.
Tanpa berucap Kyra lalu melepas paksa tangan Gio dari lengannya. Dengan ketusnya Kyra mengabaikan sahabatnya tersebut tanpa menyapa sedikit pun ataupun sekedar berbincang dengannya. Kyra masih merasa kesal terhadap Gio yang kemarin malam telah membentaknya. Gio merasa semakin tak enak hati ketika Kyra mengabaikannya, Gio merasa bersalah atas tindakannya kemarin malam. Gio lalu mengejar dan mengikuti sahabatnya tersebut untuk mengucapkan permintaan maaf atas tindaknya kemarin malam.
"Kyra tunggu," panggil Gio berjalan mengikuti Kyra. Namun rasa kesal masih saja terasa di benak Kyra, sehingga ia tak menoleh sedikit pun ke arah sahabatnya tersebut.
Ryan yang masih terdiam di depan gerbang sekolah memperhatikan adiknya yang tengah berjalan sembari mengabaikan Gio. Ryan mulai menyadari penyebab adiknya murung saat ini.
"Oh jadi Gio yang udah buat Kyra murung," gumam Ryan memperhatikan Kyra dan Gio dari kejauhan.
Gio masih mengikuti dan berusaha meminta maaf pada Kyra.
"Kyra tunggu, aku mau bicara sama kamu," ucap Gio berusaha menghentikan langkah Kyra.
Namun Kyra terus saja mengabaikannya, lalu ketika Kyra sampai di depan kelasnya, seketika Gio memegang lengan Kyra untuk menghentikan langkahnya.
"Aku minta maaf soal kemarin malam," ucap Gio memegang lengan Kyra.
"Sudahlah pergi sana, aku mau masuk ke kelas," ucap Kyra melepas kembali tangan Gio.
Lalu dari dalam kelas, Bella datang menghampiri kedua sahabatnya yang sedang tak berhubungan baik itu.
"Loh ini ada apa? muka Kyra kayak yang marah," ucap Bella heran.
"Entahlah, tanyakan saja padanya," ketus Kyra melangkah masuk ke dalam kelas.
Namun belum sempat Gio di maafkan oleh Kyra, tiba-tiba saja bel telah berbunyi.
"Kring....
"Udah bunyi belnya, masih mau berusaha minta maaf sama Kyra ga," ucap Bella.
"Nanti saja sudah masuk," ucap Gio melangkah pergi dengan raut wajahnya yang nampak kesal.
Setelah Gio pergi, Bella langsung saja menghampiri Kyra yang tengah terduduk di kursinya. Lalu segera menanyakan permasalahan yang terjadi di antara kedua sahabatnya itu. Kyra pun lalu menceritakan permasalahan yang terjadi antara Gio dan dirinya.
"Gio membentak kamu pasti ada alasanya loh, dia mungkin ga sengaja karena kamu terus memikirkan Davin dan malah mengabaikannya" ucap Bella berusaha meredakan amarah Kyra terhadap Gio.
"Jadi kamu lebih membela Gio di bandingkan aku," ucap Kyra kesal.
"Maksud aku tuh gini loh~" ucap Bella lalu terhenti karena guru yang akan mengajar telah memasuki kelas.
...****************...
Ketika bel istirahat tiba, seperti biasa Kyra dan Bella pergi ke kantin. Setibanya mereka di kantin, tiba-tiba saja seorang murid laki-laki dari kelas 12 datang menghampiri mereka.
"Nama kamu Bella kan?" tanyanya sembari memancarkan senyuman ke arah Bella.
"Hm, iya aku Bella," ucap Bella yang heran karena tiba-tiba saja pria tersebut menghampirinya sembari tersenyum.
"Kenalin namaku Ludy," ucap pria tersebut sembari mengulurkan tanganya untuk meminta Bella berjabat tangan dengannya.
Bella pun lalu menjabat tangan murid laki-laki yang bernama Ludy itu.
"Boleh aku minta nomer ponsel kamu," ucap Ludy sembari menjulurkan ponselnya kepada Bella. Namun Bella ragu untuk memberi nomer ponselnya kepada pria asing yang baru saja berkenalan dengannya.
"Ehem, sudah berikan saja nomernya," ucap Kyra mengambil posel milik Ludy lalu memberikannya kepada Bella.
Bella pun lalu mengetik nomernya di ponsel milik Ludy. Ketika Bella usai mengetik, murid laki-laki tersebut tampak senang. Bahkan pancaran dari sorot matanya seakan ia sedang jatuh hati kepada sahabat Kyra tersebut.
"Makasih ya, nanti kapan-kapan kita main... nanti aku hubungi kamu ya," ucap Ludy tersenyum sembari melangkah pergi.
"Cieee, kayaknya ada yang naksir nih sama cewek jomblo satu ini," lontar Kyra menyindir sahabatnya tersebut.
"Idih apaan sih, udah ah ayo kita pesan makananya," ucap Bella dengan wajah yang memerah.
Lalu ketika Kyra dan Bella akan duduk di kursi, Gio datang menghampiri dengan raut wajah yang tampak gugup. Namun Kyra masih saja bersikap ketus terhadap Gio dan enggan menatap sahabatnya itu.
"Kyra mohon maafkan aku ya... aku sudah salah marah-marah dan ngebentak kamu," ucap Gio memohon sembari memegang tangan Kyra.
"Kyra cepat maafkan Gio, dia tulus minta maaf sama kamu, masa kamu mau marahan terus sama Gio sih," ucap Bella.
"Hm, iya aku maafkan," ucap Kyra yang masih enggan menatap sahabatnya tersebut.
Gio akhirnya bisa tersenyum lega karena Kyra telah memaafkannya. Namun padangan Kyra seketika menatap sekeliling kantin seakan sedang mencari seseorang. Seseorang yang membuatnya khawatir dan terus mengusik pikirannya saat ini. Ya dia adalah Davin, pujaan hatinya yang di rindukannya saat ini.
Lalu dari arah luar tampak Andy dan Nicko sedang berjalan masuk ke dalam kantin. Kyra pun lalu berteriak memanggil kedua teman dari pria yang ia rindukan itu.
"Nicko Andy."
Seketika keduanya pun menoleh lalu menghampiri Kyra yang tengah terduduk bersama kedua sahabatnya tersebut.
"Ada apa Kyra?" tanya Nicko
"Kalian kenapa tidak bersama Davin?" tanya balik Kyra yang penasaran terhadap pujaan hatinya karena sedari tadi ia tak melihatnya.
"Oh Davin ga masuk sekolah, kayaknya dia masih sakit deh," ucap Nicko.
"Ehem cieee, kayaknya ada yang lagi rindu nih," lontar Andy menyindir Kyra yang tampak gelisah ketika menanyakan temannya tersebut.
"Ih aku tuh cuma penasaran, karena tak biasanya kalian pergi tanpa Davin," ucap Kyra yang seketika kedua pipinya memerah.
Gio kembali merasa kesal, karena Kyra tak henti memikirkan sainganya tersebut. Namun rasa kesalnya harus ia tahan, karena tak mungkin jika Gio harus kembali meluapkan kekesalanya. Sementara ia baru saja berbaikan dengan sahabat yang telah menjadi pujaan hatinya itu .