
Kyra pun cukup terkejut ketika Davin memintanya untuk menjadi kekasihnya. Keterkejutan Kyra di barengi dengan perasaan yang teramat sangat bahagia, entah apa ini mimpi ataupun kenyataan. Kyra hanya terdiam menatap wajah Davin seakan ia tak menyangka dengan apa yang di dengarnya itu.
"Aku sungguh-sunguh menyukaimu, bahkan bukan sekedar suka saja tapi juga cinta... hm, aku ingin hubungan kita itu bukan sekedar berteman saja, akan tetapi lebih dari itu," ucap Davin menatap mata Kyra dengan tatapan serius. Begitu pun dengan Kyra yang juga menatapnya dengan fokus.
Namun seketika terlintas ucapan ayahnya yang memintanya untuk fokus bersekolah dan tidak memperbolehkannya berpacaran.
"Sebenarnya ayahku tak memperbolehkanku berpacaran, tapi kamu tahu kan kalau ayahku~ ucap Kyra yang seketika Davin menghentikan perkataanya dengan menempelkan jari telunjuk ke bibir Kyra.
"Stttt, aku tahu... tapi kita bisa berpacaran tanpa di ketahui oleh ayahmu, atau perlu kita sembunyikan hubungan ini dari siapapun," ucap Davin yang makin serius menatap perempuan yang di cintai itu.
"Baik, tapi aku minta syarat... karena minggu depan sudah ujian akhir semester, nilai kamu minimal harus dapat 8 minimal 5 pelajar... kalau kamu bisa memenuhi syaratku, kita resmi berpacaran," ucap Kyra tersenyum.
"Baiklah, berati mulai hari ini aku bakal giat belajar," ucap Davin yang juga tersenyum seakan merasa bahagia. Ya walaupun ia belum tentu memenuhi syarat dari Kyra, akan tetapi rasa percaya dirinya tak akan pernah mematahkan semangatnya untuk bisa memiliki status sebagai pasangan Kyra.
Setelah itu Davin pun segera mengantar calon kekasihnya itu pulang. Lalu ketika di dalam mobil, tiba-tiba saja Davin memegang tangan Kyra sembari menyetir.
"Lah ko malah pegang-pegang sih," ucap Kyra merasa kaget karena Davin memegangnya.
"Kan kamu calon pacar aku, jadi ga apa-apa dong kalau kita pegangan tangan," ucap Davin tersenyum sembari menatap fokus ke arah depan.
"Kan masih calon pacar, ga usah berlebihan deh," ucap Kyra dengan kedua pipi yang memerah.
"Eh iya lupa, calon pacar," ucap Davin lalu segera melepaskan genggamannya.
Kyra pun lalu memalingkan wajahnya ke arah kaca di sebelahnya. Sembari menghela nafas, seketika Kyra pun tersenyum sembari menatap jalanan dari arah kaca mobil tersebut. Walaupun Kyra belum resmi berstatus sebagai kekasih Davin, namun dengan Davin menyatakan perasaannya, itu sudah cukup membuat Kyra bahagia. Karena perasaan yang ia rasakan saat ini, juga di rasakan oleh pria yang di cintainya itu. Tak lama mobil melaju, akhirnya Davin telah sampai mengantar sang pujaan hatinya pulang dengan selamat.
"Vin makasih ya... hati-hati di jalannya," ucap Kyra ketika turun dari mobil.
"Iya calon pacar... jangan lupa habis ini makan ya, jangan sampai telat makan," ucap Davin tersenyum, lalu segera menjalankan kembali mobilnya.
Seketika kedua pipi Kyra pun kembali memerah, ucapan Davin membuatnya tersipu malu namun juga membuat Kyra seketika tersenyum. Kyrapun segera memasuki rumahnya dengan senyuman yang masih terpampang bibir dan wajahnya itu.
"Eh senyum-senyum sendiri kayak orang gila," ucap Ryan ketika ia berpapasan dengan adiknya di depan pintu.
"Kyra bahagia banget kak," ucap Kyra yang seketika memeluk Ryan.
"Yaelah ngapain meluk-meluk sih, sana pergi," ucap Ryan yang merasa risih ketika Kyra tiba-tiba memeluknya.
Kyra pun melepaskan peluknya itu, lalu segera memasuki kamarnya. Sembari membaringkan tubuhnya di atas ranjang, Kyra terus mengingat moment ketika Davin menyatakan perasaan padanya. Ia masih tak menyangka bila perasaanya itu tak bertepuk sebelah tangan.
"Dua minggu kemudian, cinta pertamaku akan terwujud," gumam Kyra sembari tersenyum.
Ke esokan harinya, seperti biasa Kyra berangkat sekolah menaiki bis. Namun setengah perjalanan bis melaju, tiba-tiba saja dari arah samping bis nampak Davin sedang mengendarai motornya sembari tersenyum menatap Kyra yang tengah duduk di dekat jendela bis tersebut.
"Hai calon pacar," teriak Davin sembari tersenyum dan menatap ke arah pujaan hatinya itu.
Lalu seketika semua penumpang bis pun menatap ke arah Kyra. Dan sebagian penumpang bis menertawakan aksi konyol dari Davin tersebut. Kyra pun merasa malu, ketika semua tatapan penumpang bis mengarah padanya.
"Vin kamu gila, bikin aku malu saja," gumam Kyra dalam benaknya sembari menundukan kepala menghindari tatapan dari orang-orang.
Namun Davin tak menyadari bahwa Kyra merasa malu atas teriakan yang di lontarkannya itu. Ia hanya merasa heran dengan Kyra yang menundukan kepalanya.
Ketika sesampainya di sekolah, Kyra turun dari bis dengan terburu-buru untuk menghindari tatapan dari orang-orang yang tadi menatapnya dan menertawakan aksi konyol Davin. Ketika Kyra akan memasuki pintu gerbang sekolah, dari arah belakang seseorang menepuk pundaknya. Yang tak lain ialah Davin, pria yang bersemanyam di hatinya saat ini.
Davin lalu mendekatkan wajahnya ke arah telinga Kyra, "Pagi calon pacarku yang cantik."
Jantung Kyra berdegup cukup kencang seperti suara gendang yang di pukul dan wajahnya pun seketika memerah. Namun Kyra juga merasa kesal dengan Davin yang tak henti menyebutnya calon pacar. Ya, mungkin karena Kyra masih merasa malu atas tindakan Davin tadi.
"Jangan sebut terus calon pacar, apa lagi kalau sampai berteriak kayak tadi."
"Kan memang bener kamu calon pacar aku," ucap Davin tersenyum menatap wajah Kyra yang nampak memerah itu.
"I...ya tapi jangan teriak-teriak kayak tadi," ucap Kyra yang merasa gugup karena Davin terus menatapnya.
Lalu tiba-tiba saja Bella datang menghampiri sembari berdiri di tengah-tengah keduanya seakan menghalangi Davin untuk dekat-dekat dengan sahabatnya itu.
"Teriak apaan sih?" tanya Bella mengerutkan alisnya sembari melipatkan tanganya di dada.
"Eh kepo, ngapain dateng-dateng terus ganggu kita," ucap Davin menarik lengan Bella untuk menyingkirkannya dari hadapannya.
Tak berhenti di situ saja untuk menjauhkan Davin dari hadapan sahabatnya, Bella pun membalasnya dengan mendorong Davin.
"Gila ya... Kyra kamu nemu orang ini dimana sih, tengil banget," ucap Davin kesal.
"Ga usah dengerin dia, mending kita ke kelas sekarang yu," ucap Bella merangkul lengan Kyra dan segera membawa Kyra menjauh dari hadapan Davin.
"E..eh ko jadi gini sih," ucap Kyra yang merasa bingung dengan Bella yang tiba-tiba menariknya. Sembari berjalan, sesekali Kyra menengok ke arah belakang, memastikan calon pacarnya tak menampilkan raut wajah kesal atas tindakan Bella tersebut.
Davin memang merasa kesal terhadap sikap Bella, namun ia tak memangsangkan raut wajah kesalnya. Ia hanya menahan kekesalannya itu dan tersenyum ketika Kyra menengoknya ke arahnya.
"Kalau saja dia bukan sahabatnya, pasti bakal ku getok tuh kepalanya," gumam Davin dalam benaknya sembari menatap Kyra yang berjalan menjauh dari hadapannya.