My Original Love

My Original Love
Bab 15 Tak Boleh Cemburu



Kini malampun telah begitu larut, hingga jarum jam telah menunjukan pukul 09.30. Davinpun lalu mengajak Kyra pulang, "Kyra pulang yu," ajak Davin sembari memebereskan bukunya.


"Loh kenapa ngajak pulang, memangnya tugas matematikanya sudah selesai?" tanya Kyra.


"Iya sudah, ayo kita pulang sudah kemaleman," jawab Davin.


"Lah Vin kenapa harus pulang sekarang, aku belum habisin makanannya," ucap Agatha kepada Davin.


"Kalau kamu mau habisin makanannya, tinggal habiskan saja, kamu kan lagi sama Gia," ucap Davin dengan tegas.


Lalu Davin dan Kyrapun segera memasukan semua buku dan alat tulisnya ke dalam tas masing-masing, dan segera membayar pesanannya di kasir. Setelah semuanya terbayar di tempat kasir, Davin dan Kyrapun melangkahkan kakinya untuk segera keluar dari cafe tersebut.


Namun ketika Davin hendak membuka pintu cafe, tiba-tiba teman Agatha yang bernama Gia berteriak memanggil Davin.


"Vin tunggu," teriak Gia sembari menghampiri Davin dan Kyra.


Langkah Davin dan Kyrapun terhenti di depan pintu keluar cafe, karena suara Gia yang memanggil Davin.


"Vin tolongin Agatha! Agatha kesakitan, sepertinya maagnya kambuh," ucap Gia yang meminta tolong.


Mendengar ucapan Gia, lalu Davin dan Kyrapun segera menghampiri Agatha yang terduduk sembari merintih kesakitan memegang perutnya.


"Agatha kamu tenang dulu, aku bakal beli obat di apotek... dan Kyra tunggu dulu disini nanti setelah ini aku bakal antar kamu pulang," ucap Davin dengan cemas.


"Iya Vin," ucap Kyra.


Davinpun lalu bergegas pergi keluar, untuk membeli obat di apotek. Namun gelagat Agatha yang kesakitan karena perutnya, membuat Kyra sedikit mencurigai Agatha. Karena Agatha tak tampak terlihat seperti orang yang benar-benar sedang kesakitan.


"Apa dia benar-benar memang kesakitan," gumam batin Kyra yang merasa curiga.


Lamanya Davin pergi membuat Kyra sangat canggung kepada Agatha, karena Kyra teringat insiden saat Agatha menjambaknya di toilet sekolah.


Rasa tak nyaman saat duduk berdekatan satu meja dengan Agatha, membuat pikiran Kyra hanya teringat rumah dan ingin segera menjauh dari Agatha.


Sesekali Kyra menengok ke arah kaca Cafe, untuk memastikan Davin segera kembali. Namun Davin masih saja belum kembali, membuat pikiran Kyra semakin tak tenang.


Melihat Kyra yang tak berbicara sama sekali, Giapun lalu memulai perbincangan agar suasana tak sedikit canggung.


"Kyra, lama ya nunggu Davin," ucap Gia.


"Hm, engga..." ucap Kyra yang canggung.


"Kalau kamu merasa lama menunggu Davin, kamu mending pulang saja sekarang karena Davin pasti nganterin Agatha... dan ga mungkin dong Davin ngebiarin Agatha pulang naik kendaraan umum di saat dia lagi sakit gini," ucap Gia dengan sinis.


"Hm, aku bisa pulang sekarang naik kendaraan umum, tapi aku bakal nunggu Davin kembali dulu dan izin kepada Davin untuk naik kendaraan umum," ucap Kyra.


"Nanti aku sampaikan ke Davin deh, kalau kamu mau pulang sekarang," ucap Gia yang ingin segera Kyra pergi.


"Oh tidak usah, aku bisa bilang sendiri, aku ga enak sama Davin jika di sampaikan sama orang lain atau lewat telepon karena tadi kan aku kesininya sama dia," ucap Kyra sembari terseyum.


"Susah banget sih di bilanginnya, dasar cewek keras kepala," gumam batin Agatha yang kesal terhadap Kyra.


Tak lama Kyra dan Gia berbincang, Davinpun datang menghampiri sembari menjinjing keresek obat di genggamannya.


"Maaf lama ya," ucap Davin yang nafasnya terengah-engah kecapean.


"Iya tidak apa-apa Vin," ucap Agatha yang memegang perutnya.


"Kalau gitu ini minum obatnya," ucap Davin sembari membuka obat tersebut dari bungkusnya lalu memberi sebutir obat tersebut kepada Agatha.


Melihat Davin membukakan bungkus obat untuk Agatha, membuat hati Kyra sedikit cemburu atas sikap Davin terhadap Agatha. Walaupun hanya membantu, akan tetapi pikiran dan hati Kyra berkata tak suka yang menunjukan perasaan cemburunya.


"Vin aku pulang duluan ya, kamu antar saja Agatha," pamit Kyra kepada Davin.


Melihat dan mendengar Kyra pamit untuk pulang, Davinpun lalu menarik lengan Kyra agar tetap duduk di kursinya.


"Tunggu jangan dulu pulang," ucap Davin yang menarik lengan Kyra untuk tetap duduk di kursinya.


"Tapi Vin Agatha lagi sakit kamu jangan pedulikan aku, karena aku bisa pulang sendiri naik bis," ucap Kyra.


"Aku bilang tunggu! jangan dulu pulang, karena aku pasti bakal nganter kamu," ucap Davin dengan tegas.


"Tapi vin, Agatha lagi sakit masa kamu tega mau biarin Agatha pulang naik kendaraan umum," sela Gia.


"Siapa yang bilang bakal biarin Agatha pulang naik kendaraan umum, aku ga bakal biarin dia pulang naik kendaraan umum," ucap Davin.


"Terus gimana nganternya," ucap Gia dengan penasaran.


"Sudah diam dan tunggu saja," ucap Davin dengan sinis.


Lalu tiba-tiba saja ada Nicko datang menghampiri ke tempat meja mereka berada dengan helm yang masih terpasang di kepalanya.


"Vin ada apa kamu manggil aku kesini?" tanya Nicko.


"Nah kan lu sudah datang, gue mau minta tolong anterin Agatha, karena Agatha lagi sakit dan gue ga bisa anterin dia," jawab Davin.


"Oh Agathaku lagi sakit, ayo sini abang Nicko anterin," ucap Nicko sembari tersenyum kepada Agatha.


"Sia-sia aku acting sakit perut, malah si Nicko yang nganterin," gumam batin Agatha yang sangat kesal dengan kegagalannya.


Setelah Nicko datang, Davinpun lalu pergi sembari menarik lengan Kyra dan membawanya ke tempat motornya di parkirkan. Perasaan Kyra merasa tenang dan bahagia karena Davin tak mengantar Agatha untuk pulang.


"Nah ayo Kyra," ucap Davin sembari memberikan helm kepada Kyra.


"Iya ayo," ucap Kyra sembari mengambil helm yang di sodorkan Davin.


"Eh tunggu, aku lupa masangin helm ke kamu," ucap Davin.


"Ga usah, aku bisa pasang sendiri," ucap Kyra sembari memasangkan helmnya lalu duduk di jok motor sembari memeluk tubuh Davin tanpa ragu.


Davin hanya terseyum ketika Kyra memeluk tubuhnya, tanpa harus di peringatkan terlebih dahulu. Sepanjang jalan perasaan Kyra sangat bahagia dan nyaman ketika memeluk tubuh Davin tanpa harus merasakan gugup dan ragu.


Perasaan nyaman yang di rasakan Kyra ketika memeluk tubuh Davin adalah perasaan bahagianya, karena sikap Davin yang lebih memilih mengantarkan Kyra di bandingkan dengan Agatha.


Dan tak lama kemudian, sampailah mereka di depan pintu gerbang rumah Kyra. Davinpun lalu menghentikan motornya dan Kyrapun turun dari motor sembari membukakan helm yang di pakainya. Setelah Kyra membukakan helmnya, Davin lalu berpamitan kepada Kyra untuk pulang.


"Kyra aku pulang sekarang ya... dan selamat malam, tidurlah dengan nyenyak, semoga mimpi indah," pamit Davin sembari terseyum manis kepada Kyra.


"Ah i...iya," ucap Kyra gugup dengan pipinya yang memerah.


Setelah berpamitan, Davinpun lalu pergi untuk pulang ke rumahnya. Dan Kyra masih saja berdiri di depan pintu gerbang rumah sembari melihat Davin pergi menjauh.


Lalu setelah Davin tak terlihat, kyrapun lalu masuk ke dalam rumahnya. Namun pada saat Kyra membuka pintu rumanya, kakak laki-laki Kyra yang bernama Ryan sudah berada di hadapan Kyra. sontak membuat Kyra kaget ketika melihatnya.


"Haduh, kak Ryan bikin kaget saja," ucap Kyra dengan kaget.


"Yang tadi siapa dek, pacar kamu ya," tanya kak Ryan sembari terseyum meledek.


"Apa sih so tahu banget, dia bukan pacar Kyra," ucap Kyra dengan kesal.


"Oh gitu, dasar jomblo," ucap Ryan sembari pergi masuk ke kamarnya.