
Tiba saatnya untuk pulang, ketika Kyra hendak pulang Davin datang menghampiri.
"Pulang bareng aku yu."
"Aku pulang bareng Bella saja naik bis."
Davin menarik lengan Kyra dan membawa paksa Kyra untuk pulang bersamanya.
"Tunggu Vin, aku maunya bareng sama Bella," ucap Kyra berusaha melepaskan genggaman Davin.
"Engga, hari ini kamu bareng aku saja," ucap Davin.
Kyra hanya pasrah ketika Davin memaksanya untuk ikut bersamanya. Padangan Bella terhadap sikap Kyra dan Davin membuatnya semakin merasa curiga dengan orang misterius yang mengirim bunga kepada Kyra sampai membuatnya tersenyum.
"Hmm... apa bunga yang tadi di peggang Kyra itu di kasih sama Davin ya," gumam Bella.
Lalu dari arah belakang Gio datang menghampiri Bella.
"Bell kenapa sendirian, Kyra ada dimana?" tanya Gio menepuk pundak Bella.
"Oh kyra, tadi di bawa sama Davin," jawab Bella.
Mendengar Kyra di bawa oleh Davin, Gio langsung saja bergegas menyusul Davin dan Kyra. Namun Bella tampak muram ketika Gio bergegas menyusul Kyra.
"Pasti Kyra di paksa sama Davin, aku duluan pergi nyusul mereka." ucap Gio melangkah pergi.
Raut wajah Bella nampak sedih ketika Gio bergegas pergi menyusul Kyra. Bella seakan tak suka bila Gio harus menyulnya.
"Gio tampaknya sangat peduli dengan Kyra, bagaimana bisa aku suka sama dia untuk waktu yang lama," batin Bella.
Di parkiran motor Davin memasangkan helm kepada Kyra. Lalu Gio datang menghampiri dan menarik lengan Kyra.
"Kamu pasti di paksa olehnya, ayo aku antar kamu ke halte bis."
"Kyra mau bareng sama gue ngapain lu narik dia sembarangan," ucap Davin melepaskan Kyra dari genggaman Gio.
Gio menghiraukan Davin dan tetap menarik lengan Kyra untuk mengantarnya ke halte bis. Namun Davin tak berhenti disana saja, ia tetap berusaha keras membawa Kyra untuk pulang bersamanya.
"Tunggu kenapa lu maksa Kyra... dan lagi Kyra belum menjawab apa dia setuju ikut dengan lu," ucap Davin mengenggam lengan Kyra.
"Lagian Kyra pasti bakal mau ikut sama gue," tegas Gio.
Kyra tampak bingung dengan situasinya, ia tampak ragu untuk berbicara ketika hatinya menginginkan untuk tetap ikut bersama Davin namun Kyra merasa takut bersalah kepada Gio. Kyra hanya terdiam kebingungan atas situasi yang menyulitkannya itu.
Hingga tak lama kemudian Ryan datang untuk menjemput Kyra pulang.
"Bisa pinjam Kyranya sebentar," ucap Ryan.
Gio dan Davin mulai melepas lengan Kyra satu-persatu. Kemunculan Ryan merupakan penyelamat situasi Kyra saat itu.
"Akhirnya kakak datang pada waktu yang tepat," batin Kyra dengan perasaannya yang lega.
"Tadi ayah nelpon dan nyuruh kakak untuk jemput kamu," ucap Ryan.
"Oh jadi ayah nyuruh Kak Ryan."
"Iya... ayo pulang," ajak Ryan.
Kyra melepas helm yang di pasangkan Davin, lalu segera mengembalikan helm tersebut kepada Davin.
"Vin maaf hari ini aku ga bisa pulang bareng sama kamu... makasih untuk tadi pas istirahat," ucap Kyra sembari mengembalikan helm.
"Iya sama-sama."
"Kalau gitu aku duluan pulang ya... Gio aku pulang duluan," pamit Kyra melangkah pergi.
Sedikit kecewa bagi Davin karena tak bisa mengantar Kyra pulang, di tambah dengan kekesalannya terhadap Gio yang telah menceggahnya untuk mengantar Kyra.
"Kalau ga ada monyet yang menghambat pasti gue udah nganterin Kyra," sindir Davin kepada Gio.
"Bagus deh Kyra di antar sama kakaknya, dari pada dia harus di antar sama manusia ga jelas, entar dia ga sampai rumahnya dengan selamat," balas sindir Gio melangkah pergi.
"Hey lu yang ga jelas," teriak Davin kesal.
Davin sangat kesal terhadap Gio, tangannya mengepal seakan ingin memukul Gio. Davin meluap kekesalan dengan cara menendang ban motornya sendiri, "Arrgghh sialan si Gio." Di tengah kekesalannya, Nicko dan Agatha datang menghampiri Davin.
"Hey kenapa lu, kayak yang lagi kesal gitu?" tanya Nicko sembari merangkul pundak Davin.
"Gue barusan ketemu manusia paling brengsek," jawab Davin yang masih kesal.
"Siapa Vin?" tanya Agatha.
"Si Gio tuh, kenapa ya tiap gue deket sama si Kyra dia terus saja ngehalangi gue," ucap Davin.
"Dia tuh cowok songong, dulu aja ada cowok yang deketin Kyra udah kayak bapaknya aja siap siaga berdiri di samping Kyra," tandas Nicko.
Ketika Davin menyalakan motornya Agatha meminta Davin untuk mengantarnya, " Vin mending antar aku pulang yu."
Davin menolak permintaan Agatha dan terus melajukan motornya tanpa memberi kesempatan Agatha untuk duduk di motornya.
"Pulang bareng Nicko aja ya, aku capek mau cepet-cepet pulang."
"Huh, giliran nganterin si Kyra baru semangat," ucap Agatha kesal.
"My princess mau aku antar kah," goda Nicko.
"Ga perlu aku bisa naik bis," ucap Agatha melangkah pergi.
-----------
Sementara Gio yang akan melewati pemberhetian bis, ia melihat Bella sendirian menunggu kedatangan bis. Giopun lalu menghentikan motornya dan mengajak Bella untuk ikut bersamanya.
"Bella ayo naik, aku antar kamu pulang," ajak Gio.
"Beneran nih mau antar aku pulang?" tanya Bella.
"Iya ayo cepet naik sebelum aku berubah pikiran."
"Iya deh," ucap Bella menaiki motor Gio.
Perasaan Bella sangat senang ketika Gio mengajaknya untuk pulang bersama. Dengan perasaannya yang bahagia, Bella menaiki motor Gio sembari marangkul pinggang Gio. Namun Gio merasa tak nyaman ketika tangan Bella melingkari tubuhnya. Gio tak bisa berkata atas ketidak nyamanannya itu, ia hanya memberikan kode dengan suara dehaman yang keluar dari mulutnya.
Ehemmm....
Kode Gio tak membuat Bella tersadar atas ketidak nyamanannya. Gio hanya bisa pasrah dan terdiam, karena ia takut bila Gio melarangnya untuk tak berpegang erat pada tubuhnya. Bella akan merasa tersinggung dan marah, karena memang seharusnya untuk berpengan erat ketika di boceng dengan motor agar tak terjatuh.
"Ah sudahlah... kali ini saja aku biarkan, tapi dia peggangnya terlalu erat membuatku tak nyaman saja," batin Gio.
Tak lama motor melaju, akhirnya mereka telah sampai di depan rumah Bella. Giopun lalu segera menghentikan lajuannya.
"Nah udah sampai," ucap Gio.
"Makasih ya Gio udah nganterin aku secara gratis," ucap Bella sembari turun dari motor Gio.
"Iya sama-sama, kali ini saja gratis kalau hari berikutnya kamu harus bayar."
"Idih mata duitan," lontar Bella.
"Hehe... aku bercanda ko... ya sudah aku pulang dulu," pamit Gio.
Giopun kembali menyalakan mesin motornya. Namun ketika Gio akan menjalankan motornya, tiba-tiba Bella menyuruhnya untuk berhenti.
"Tunggu Gio."
Giopun lalu kembali mematikan mesin motonya itu.
"Ada apa Bel," tanya Gio.
Bella sangat gugup ketika ia ingin mengucap sebuah kalimat yang tertahan dalam mulutnya.
"Hmm.... itu.... itu."
"Itu apa sih... ngomong yang jelas dong Bel, kaya yang baru kenal saja," ucap Gio penasaran.
"Hmmm....apa kamu suka sama Kyra," tanya Bella gugup.
Gio terkejut atas pertanyaan yang di lontarkan oleh Bella. Gio hanya terdiam ketika pertanyaan yang di lontarkan Bella adalah sebuah rahasia yang tak bisa ia sebutkan.
"Kalau kamu tak bisa menjawabnya kamu ga usah jawab saja," ucap Bella membalikan badannya lalu melangkah menuju gerbang rumahnya.
Ketika Bella akan membuka pintu gerbang rumahnya, Gio mulai bersuara menjawab pertanyaan Bella.
"Iya aku suka Kyra," tandas Gio.
"Oh berati tebakanku benar," ucap Bella tersenyum sembari menahan tangis.
"Hmm... tapi kamu jangan bilang sama siapun termasuk Kyra, sebelum aku menyatakan perasaanku."
"I...ya," ucap Bella menahan tangis.
"Ya sudah aku pulang sekarang," pamit Gio.
Ketika Gio mulai menjauh pergi, kedua bola mata Bella mulai di genangi oleh air mata dan perlahan mulai terjatuh di kedua pipinya. Tangis yang tertahan mulai pecah tak terbendung. Jawaban yang membuatnya penasaran merupakan kenyataan yang paling pahit dan menyakitkan hatinya.
Bella tak bisa memaksakan perasaan Gio, ketika rasa cintanya bukan untuknya melainkan untuk sahabatnya Kyra.