My Original Love

My Original Love
Bab 32 Harus Selangkah Lebih cepat



Saat ini tak hanya Kyra saja yang merasa panik, namun Davin pun merasakan panik yang begitu hebat. Hingga Davin mengendarai motor cukup cepat.


Erick memang cukup menakutkan, apabila ia tahu bahwa putrinya di bawa oleh seorang pria tanpa seizinnya. Debaran yang berguncang di jantung Davin dan Kyra bukan debaran cinta yang di rasakan. Melainkan debaran karena ketakutan dan panik, apabila Kyra ketahuan pergi bersama Davin.


Kyra mendekap Davin cukup erat, ia ketakutan karena Davin mengenderai motor pada kecepatan tinggi.


"Vin hati-hati bawa motornya soalnya aku takut banget," ucap Kyra ketakutan.


"Iya aku bakal fokus dan hati-hati, kamu tenang saja kita pasti bakal cepat sampai," ucap Davin yang panik karena pikirannya terus terlintas sosok Erick.


Lalu tak berselang lama mereka pun telah sampai di depan rumah. Kyra pun lalu melepas helm dan terburu-buru turun dari motor.


"Vin makasih ya," ucap Kyra mengembalikan helm lalu segera masuk ke dalam rumah.


Dengan terburu-buru Kyra lalu segera membukakan pintu rumahnya itu.


"Bu kyra pulang," ucap Kyra.


Annathasia lalu menghampiri putri semata wayangnya itu.


"Gimana tadi kencannya sama Davin?" tanya ibunya itu.


"Sttt... jangan keras-keras nanti kedengaran sama ayah, lagian aku ga kencan sama Davin," ucap Kyra panik.


"Tenang saja ayah belum pulang," ucap ibunya tersenyum.


"Bu jangan bilang sama ayah ya, kalau aku tadi pergi sama Davin," ucap Kyra.


"Siap, ibu ga bakal bilang sama ayah... jadi gimana, kamu udah menentukan pilihan hati kamu," ucap annathasia menggoda putrinya itu.


"Apaan sih bu ga jelas banget," ucap Kyra kesal lalu melangkah pergi ke kamarnya.


"Jadi gimana nih, ibu udah punya menantu ga," teriak Anna tersenyum menertawakan putrinya itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara itu ketika Kyra pulang ke rumahnya, Gio sedang lewat. Lalu terdiam melihat perempuan yang di sukainya itu pulang di antar oleh pria saingannya. Gio cukup kesal ketika melihat Kyra bisa bersama Davin. Sementara ia merasa ragu untuk bertemu Kyra di luar sekolah, karena ia merasa terbebani oleh ucapan Erick padanya.


Ketika Kyra telah masuk ke dalam rumah, Gio lalu segera menghampiri Davin.


"Tadi lu sama Kyra habis dari mana, kenapa baru pulang," ucap Gio yang merasa kesal.


"Bukan urusan lu ya... kita mau pergi kemana itu urusan kita, jadi gue ga perlu lapor lu dulu, emangnya lu bapaknya gue apa," ucap Davin tersenyum menyeringai.


"Gue serius, lu tadi sama Kyra habis dari mana," ucap Gio yang semakin kesal.


"Habis kencan!" ucap Davin lalu segera pergi menjalankan motornya itu.


Gio tampak sangat marah atasan ucapan Davin itu. Di tambah ia merasa cemburu karena Davin lebih berani mendekati Kyra di bandingkan dengannya yang merasa ragu dan takut untuk bisa lebih dekat dengan Kyra.


"Arrggghhh... sialan," ucap Gio menendang botol di dekatnya.


Lalu tiba-tiba suara pesan di ponselnya itu berdering. Gio pun lalu segera mengecek pesan di ponselnya itu. Dan nama pengirim pesannya itu ialah Alvin teman sekelas Gio.


"Gio kita pergi ke tempat biasa yu, Bella juga bakal ikut... tadi gue juga ngirim pesan sama Kyra tapi dia malah ga akan ikut." Isi pesan tersebut.


Gio lalu segera membalas pesan dari temannya itu.


"Ok ayo... gue pergi sekarang."


Gio pun lalu segera pulang ke rumahnya untuk mengambil motor. Lalu ketika Gio akan menyalakan motornya, ibunya datang menghampirinya.


"Mau kemana Gio?" tanya ibunya itu.


"Aku mau pergi ke tempat biasa sama teman-teman," jawab Gio.


"Oh iya hati-hati, ingat jangan pulang terlalu malam," ucap ibunya itu.


"Gimana kalau Kyra bakalan jadi pacar Davin," batin Gio cemas.


Belakangan ini Gio memang terus kepikiran Kyra yang semakin dekat dengan Davin. Davin memang sebuah ancaman untuk Gio. Karena selain Gio, dari semua pria yang berusaha mendekati Kyra hanya Davinlah yang berhasil membuat Kyra luluh.


Lalu tak lama kemudian Gio pun telah sampai di tempat tujuan. Ia pun lalu segera memarkirkan motornya itu, setelah itu ia pun segera menghampiri teman-temannya tersebut.


"Hei, kalian udah lama disini," sapa Gio menghampiri Alvin dan Bella.


"Engga, kita baru sampai ko... kita juga udah pesankan makanan buat lu," ucap Alvin.


"Ok makasih... ini di traktir lu kan," tunjuk Gio kepada temannya yang bernama Alvin.


"Enak aja... Bella tuh yang teraktir," ucap Alvin.


"Hm... iya aku traktir kalian," ucap Bella pasrah.


"Nah gitu dong," ucap Gio terseyum lalu duduk di kursi yang telah di sediakan.


Lalu setelah itu pesanan pun datang menghampiri meja mereka.


"Ini pesanannya kak," ucap seorang waiters lalu menyimpan pesanan tersebut di meja.


"Iya makasih," ucap Bella.


Alvin dan Bella asyik berbincang, namun Gio hanya terdiam melamun sembari memutar sedotan di gelas minumananya. Raut wajah Gio tampak sedih dan terus berulang memikirkan Kyra. Di tambah ia juga merasa resah dan terus memikirkan perkataan Erick yang melarangnya untuk dekat atau pun berhubungan dengan putrinya itu.


Bella merasa heran dengan Gio yang terus melamun sejak dari tadi. Ia pun lalu menepuk pundak temannya itu.


"Gio...Gio," ucap Bella memanggil.


"I...ya Bel," ucap Gio kaget.


"Kamu kenapa dari tadi melamun terus," tanya Bella yang merasa heran.


"Hm... engga apa-apa," ucap Gio lalu menyedot minuman di gelasnya itu.


Usai menyedot habis minumannya, tiba-tiba Gio memegang tangan Bella.


"Bel bisa bantu aku ga," ucap Gio gugup.


"Bantu apa ya?" tanya Bella heran dan juga merasa gugup karena tanganya di peggang oleh Gio.


"Bantu aku agar bisa mendapatkan Kyra... aku memang sudah berteman lama dengan Kyra, tapi aku ingin lebih dari sekedar teman," ucap Gio dengan kedua matanya berbinar seakan ia sangat bersungguh-sungguh atas perkataannya itu.


Alvin yang tak tahu apa-apa terkejut setelah mendengar ucapan temanya itu.


"Maksud lu lebih dari teman itu, lu punya perasaan lebih sama Kyra," ucap Alvin.


"Iya gue punya perasaan lebih sama Kyra... sebelum gue nyatain perasaan sama Kyra kalian jangan pernah bilang sama siapapun," ucap Gio serius.


Permintaan Gio memang terasa berat bagi Bella. Karena bagaimana bisa Bella membantu pria yang di sukainya itu mendapatkan hati wanita lain. Sementara itu ia sangat ingin mendapatkan pria di sukainya itu sebagai kekasihnya.


"Bel gimana kamu bisa kan bantu aku," pinta Gio yang masih memegang tangan Bella.


Bella terdiam tak berucap, ia sangat ragu untuk bisa membantu Gio. Perasaannya kini semakin hancur atas permintaan Gio tersebut.


"Bel ko diam?" tanya Gio heran.


Lalu spontan Bella mengiyakan permintaan Gio tersebut.


"Iya baiklah, aku bakal bantu kamu," ucap Bella tersenyum palsu seraya menutupi kesedihannya itu.